SIDUCATSIDUCAT

DAWUH : Islamic Communication JournalDAWUH : Islamic Communication Journal

Dalam karya-karya tersebut Gus Dur nampak sebagai ulama-intelektual yang berpikiran terbuka dan liberal dalam menerima dan merespons pemikiran dan ideologi Barat. Pemikiran dan ideologi Barat tersebut dikontekstualisasikan oleh Gus Dur ke dalam wacana keislamannya. Ketika mayoritas intelektual muslim dan ulama cenderung resistent terhadap Barat, Gus Dur justru secara eklektik menerima perkembangan pemikiran dan ideologi Barat. Dengan menggunakan pembacaan postcolonial dan metode hermeneutik Ricoeurian artikel ini menemukan identitas hibrida antara Islam dan Barat dalam wacana keislaman yang dikembangkan Gus Dur. Identitas hibrida yang dimiliki Gus Dur digunakan untuk membangun wacana keislaman postkolonialnya yang kompatibel dengan demokrasi. Wacana keislaman postkolonial yang dikembangkan Gus Dur dipraktikkan dalam perjuangan memperkuat demokrasi Pancasila dan humanisme di Indonesia. Wacana keislaman postkolonial Gus Dur respek terhadap pluralitas masyarakat Indonesia dalam suku, budaya, dan agama. Respek Gus Dur terhadap pluralitas dibangun oleh pemikirannya yang kosmopolitan dan membuatnya terbuka terhadap hibriditas identitas. Proses hibriditas wacana keislaman postkolonial Gus Dur menghasilkan ambivalensi dalam bentuk peniruan terhadap (mimicry) sekaligus cemoohan (mockery) terhadap Barat yang ditemukan dalam tulisan-tulisannya tentang filsafat, demokrasi, sastra, dan bahasa. Oleh karena itu, gagasan hibrida Gus Dur relevan untuk menjembatani dialog global antara Islam dan Barat yang juga ia suarakan dalam forum-forum internasional.

Gus Dur membangun wacana keislaman postkolonial yang menggabungkan unsur-unsur dari Islam tradisional dan pemikiran Barat, menciptakan identitas hibrida yang memungkinkan Islam bersikap terbuka terhadap pemikiran modern.Wacana tersebut menegaskan kompatibilitas Islam dengan demokrasi, humanisme, dan kebebasan peribadatan, serta menolak bentuk negara Islam yang absolut.Melalui pendekatan ini, Gus Dur mengajak masyarakat Indonesia memperkuat pluralitas, dialog lintas budaya, serta menjadikan Islam sebagai motor bagi kesetaraan dan kepentingan kolektif.

Pertanyaan penelitian berikutnya dapat mengeksplorasi bagaimana wacana keislaman hibrida Gus Dur memengaruhi pemahaman generasi muda tentang identitas plural di Indonesia, meneliti perbedaan persepsi antara kelompok masyarakat Muslim dan non-Muslim terhadap konsep demokrasi yang digabungkan Islam, serta menilai dampak praktis program pendidikan berbasis nilai humanisme dan kebebasan beragama yang terinspirasi dari Gus Dur. Kajian lebih lanjut dapat memanfaatkan metode survei longitudinal untuk melacak perubahan sikap dan nilai-nilai sosial seiring waktu, serta menerapkan analisis diskursif pada media sosial guna memahami bagaimana wacana tersebut berbolak-balik di dunia maya. Penelitian lapangan pada komunitas lokal yang menerapkan nilai tatanan manusiawi dapat memberi gambaran konkret tentang keberhasilan atau hambatan implementasi nilai-nilai tersebut dalam kebijakan publik dan praktik sosial sehari‑harian.

Read online
File size988.46 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test