SYEKH NURJATISYEKH NURJATI

Indonesian Language Education and LiteratureIndonesian Language Education and Literature

Penelitian ini berfokus pada pentingnya kesantunan berbahasa yang harus diperhatikan dalam proses komunikasi. Dalam kesantunan tindak tutur memohon diperlukan strategi dan penggunaan modifikasi yang digunakan oleh mahasiswa BIPA. Penelitian ini merupakan penelitian naturalistik. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa strategi yang digunakan meliputi strategi imperatif (kategori permohonan langsung), strategi menanyakan kemampuan atau kemauan (kategori tindak tutur tidak langsung secara konvensional berorientasi petutur), dan strategi isyarat (kategori permohonan paling tidak langsung). Adapun modifikasi internal berupa peranti sintaktik digunakan untuk memperhalus tindak tutur memohon, yaitu menggunakan pertanyaan dan penyisipan. Modifikasi eksternal berupa penggunaan alasan pendukung di awal dan akhir tuturan. Peranti modifikasi internal berupa syntactic down-graders dan phrasa or lexical graders dalam bentuk pertanyaan dan klausa kondisional. Adapun peranti phrasal atau lexical down-graders berupa pemarkah kesantunan dan penanda antarpribadi. Data penelitian tidak menunjukkan adanya penggunaan modifikasi eksternal oleh mahasiswa BIPA.

Mahasiswa BIPA dari Jepang ketika melakukan tindak tutur memohon kepada dosen menggunakan strategi yang jauh lebih variatif dibanding ketika berinteraksi dengan sesama mahasiswa.Ada lima strategi yang digunakan, yaitu strategi imperatif (permohonan langsung), strategi performatif (permohonan langsung), strategi menanyakan kemampuan/kemauan dan menanyakan keterbolehan (keduanya masuk kategori tindak tutur tidak langsung secara konvensional yang berorientasi petutur), dan strategi isyarat (permohonan paling tidak langsung).Hal yang mengejutkan adalah penggunaan strategi imperatif dan performatif, yang keduanya adalah permohonan langsung.Strategi itu bagi penutur jati bahasa Indonesia dianggap tidak santun.Perbedaan mencolok berkaitan dengan penggunaan strategi pada kedua kelompok petutur, yakni sesama mahasiswa dan dosen, yaitu tidak digunakannya strategi isyarat kepada petutur sesama mahasiswa.Meskipun persentasenya sangat kecil, mahasiswa mencoba menggunakan strategi isyarat ketika berinteraksi dengan dosen sebagai petutur.Hal itu dapat diinterpretasikan bahwa adanya kesadaran pembedaan strategi yang dipilih mahasiswa berkaitan dengan kekuasaan petutur.Penggunaan strategi oleh mahasiswa Jepang, baik kepada sesama mahasiswa maupun dosen, terdistribusi secara merata pada hampir seluruh kategori strategi, yaitu strategi imperatif (kategori permohonan langsung), strategi menanyakan kemampuan/kemauan/ keterbolehan (kategori tindak tutur tidak langsung secara konvensional berorientasi petutur), dan strategi isyarat (kategori permohonan paling tidak langsung).Strategi yang tidak digunakan, baik kepada sesama mahasiswa maupun dosen, ialah tindak tutur tidak langsung secara konvensional yang berorientasi penutur.Namun, ada perbedaan persentase penggunaan strategi ketika berinteraksi dengan sesama mahasiswa dan dosen.Ketika berinteraksi dengan sesama mahasiswa, dominan menggunakan permohonan langsung, yakni strategi imperatif.Sementara itu, strategi yang digunakan ketika berinteraksi dengan dosen ialah tindak tutur tidak langsung secara konvensional yang berorientasi petutur, yakni strategi menanyakan kemampuan/kema uan/keterbolehan.Meskipun begitu, strategi imperatif, yang merupakan strategi permohonan paling langsung, tetap digunakan kepada dosen meskipun persentasenya mulai mengecil dibanding mahasiswa BIPA.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang strategi dan modifikasi kesantunan tindak tutur memohon oleh mahasiswa Jepang pada Program BIPA, khususnya dalam konteks interaksi dengan sesama mahasiswa. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada penggunaan modifikasi eksternal oleh mahasiswa BIPA, terutama dalam hal penggunaan alasan pendukung dan peranti modifikasi lainnya. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis perbedaan penggunaan strategi dan modifikasi kesantunan antara mahasiswa Jepang dan penutur jati bahasa Indonesia dalam tindak tutur memohon.

  1. STRATEGI DAN PENGGUNAAN MODIFIKASI DALAM KESANTUNAN TINDAK TUTUR MEMOHON OLEH MAHASISWA JEPANG PADA PROGRAM... doi.org/10.24235/ileal.v2i2.1418STRATEGI DAN PENGGUNAAN MODIFIKASI DALAM KESANTUNAN TINDAK TUTUR MEMOHON OLEH MAHASISWA JEPANG PADA PROGRAM doi 10 24235 ileal v2i2 1418
Read online
File size340.99 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test