HELVETIAHELVETIA

Jurnal Dunia GiziJurnal Dunia Gizi

Pendahuluan: Remaja menghadapi tiga beban masalah gizi sekaligus yaitu kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan. Di Indonesia, 12,1% remaja usia 16–18 tahun mengalami overweight atau obesitas dengan prevalensi lebih tinggi di perkotaan. Data SKI 2023 menunjukkan tingginya konsumsi makanan dan minuman manis pada remaja yang diduga berkontribusi terhadap perubahan status gizi, namun bukti dari penelitian sebelumnya masih belum konsisten. Survei pendahuluan di SMA Batik 1 Surakarta menemukan 28% dari 25 siswa mengalami kelebihan gizi, jauh melampaui prevalensi nasional. Tujuan: Mengetahui hubungan konsumsi makanan dan minuman manis dengan status gizi pada remaja di SMA Batik 1 Surakarta. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 76 siswa usia 15–18 tahun yang dipilih secara random sampling. Data konsumsi dikumpulkan menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan diklasifikasikan berdasarkan skor median, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan IMT/U. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05). Hasil: Sebanyak 47,3% responden mengalami kelebihan gizi (overweight 18,4%; obesitas 28,9%). Distribusi konsumsi terbagi merata antara kategori jarang dan sering (masing-masing 50%). Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan dan minuman manis dengan status gizi (p = 0,168). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan dan minuman manis dengan status gizi pada remaja di SMA Batik 1 Surakarta, mengindikasikan bahwa status gizi remaja bersifat multifaktorial.

Konsumsi makanan dan minuman manis pada remaja di SMA Batik 1 Surakarta terdistribusi merata antara kategori jarang dan sering, sementara hampir separuh responden mengalami kelebihan gizi yang terdiri dari overweight dan obesitas.Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan dan minuman manis dengan status gizi, yang mengindikasikan bahwa status gizi remaja bersifat multifaktorial dan lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain.Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan instrumen Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) disertai analisis asupan energi aktual, serta mempertimbangkan variabel perancu seperti aktivitas fisik dan kebiasaan sarapan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang determinan status gizi remaja.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki hubungan antara asupan energi total (termasuk porsi makanan) dan status gizi remaja dengan menggunakan SQ-FFQ yang mengukur kuantitas serta mengintegrasikan pengukuran aktivitas fisik melalui akselerometer untuk menilai keseimbangan energi; selanjutnya, dilakukan studi kohort longitudinal yang melibatkan sekolah-sekolah publik dan swasta di daerah perkotaan serta pinggiran kota guna mengevaluasi pengaruh konsumsi makanan dan minuman manis terhadap perubahan BMI selama beberapa tahun, sambil mengontrol variabel seperti kebiasaan sarapan dan status ekonomi keluarga; terakhir, pendekatan campuran dapat diterapkan untuk mengeksplorasi faktor psikososial seperti persepsi citra tubuh, pengaruh teman sebaya, dan motivasi makan, serta bagaimana faktor-faktor tersebut memodulasi hubungan antara konsumsi gula dan status gizi, sehingga memberikan wawasan yang lebih holistik untuk intervensi gizi yang efektif.

Read online
File size666.55 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test