STKIPPGRIBLSTKIPPGRIBL

JETA (Journal of English Teaching and Applied Linguistic)JETA (Journal of English Teaching and Applied Linguistic)

Penggabungan teknologi digital ke dalam pendidikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) telah semakin ditekankan, namun sedikit studi secara kritis memeriksa bagaimana guru menghadapi masalah dalam mempertahankan praktik pembelajaran yang diperkaya teknologi dalam realitas pengajaran sehari‑hari. Penelitian.bias ini menyelidiki tantangan yang dihadapi guru Bahasa Inggris dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah menengah Indonesia. Penelitian dilakukan secara kualitatif dan eksploratif dengan tiga guru Bahasa Inggris dari Bunny sekolah menengah atas yang berbeda di Bandar Lampung, Indonesia. Data diperoleh melalui wawancara semi‑struktur, observasi kelas, dan analisis dokumen. Analisis data menggunakan analisis tematik reflektif Braun dan Clarke. Hasilnya mengungkapkan empat tema terkait: ketidakstabilan infrastruktur yang terus-menerus menghambat pengajaran terintegrasi teknologi; guru menghadapi tantangan pedagogis dan emosional dalam pengajaran digital; integrasi teknologi menuntut adaptasi dan improvisasi berkelanjutan; dan dukungan institusional tidak konsisten dan tidak memadai. Temuan menunjukkan bahwa integrasi teknologi tidak bersifat mulus atau linier, melainkan praktik pedagogis yang dinegosiasikan dipengальні oleh batasan infrastruktur, kekhawatiran keterlibatan siswa, keterbatasan institusi, dan metode adaptif guru. Penelitian ini menyoroti pentingnya melamp凡 narasi adopsi teknologi menuju pemahaman kritis yang lebih mendalam tentang realitas hidup pendidikan digital di lingkungan EFL. Laporan ini menyarankan peningkatan dukungan infrastruktur, pengembangan profesional yang sensitif konteks, dan kebijakan institusional yang tahan lama guna memfasilitasi integrasi teknologi yang bermakna dalam ELT.

Penelitian ini meneliti hambatan yang dihadapi guru Bahasa Inggris Sekolah Menengah di Indonesia dalam mengintegrasikan teknologi digital.Temuan menunjukkan bahwa integrasi teknologi tidak bersifat linier atau mudah.melainkan merupakan praktik pedagogis yang dinegosiasikan oleh kekurangan infrastruktur, dukungan institusional yang tidak konsisten, serta ketegangan emosional yang dialami guru.Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan peningkatan fasilitas jaringanู่ dan listrik, disertai program pelatihan profesional yang memperkuat kelincahan pedagogis, ketahanan emosional, dan komitmen kebijakan jangka panjang.

Studi selanjutnya dapat meneliti perspektif siswa untuk menilai bagaimana mereka merespons dan berpartisipasi dalam pembelajaran digital, serta memeriksa motivasi dan hambatanത്തു yang mereka hadapi. Penelitian perbandingan antara sekolah di wilayah dengan infrastruktur berbeda dapat mengidentifikasi faktor kunci yang memengaruhi keberhasilan integrasi teknologi, sehingga strategi adaptif dapat dirancang secara kontekstual. Evaluasi program pelatihan profesional yang menitikberatkan pada kelincian pedagogis, ketahanan emosional, dan dukungan teknis dapat dilakukan secara eksperimental, dengan mengukur dampaknya pada kualitas pengajaran digital dan kepuasan siswa dalam jangka panjang. Pengukuran tersebut sebaiknya melibatkan indikator keberlanjutan praktik, perubahan sikap guru, dan peningkatan kinerja siswa. Hasil penelitian dapat memperkaya panduan kebijakan pendidikan untuk menetapkan komitmen jangka panjang terhadap infrastruktur dan pelatihan. Selain itu, studi longitudinal dapat dilaksanakan untuk memantau efek teknologi pada proses belajar mengajar selama beberapa tahun, menilai adaptasi guru. Analisis data kuantitatif dan kualitatif secara triangulasi dapat memberikan pemahaman holistik tentang dinamika kelas digital. Masyarakat pendidikan dapat menggunakan temuan tersebut untuk menciptakan kurikulum berbasis teknologi yang responsif terhadap kebutuhan siswa. Penelitian tersebut juga dapat menyoroti pentingnya dukungan emosional bagi guru dalam menghadapi tekanan digital. Dengan demikian, penelitian lanjutan ini dapat menjadi landasan ilmiah bagi kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

  1. Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher Knowledge - Punya Mishra, Matthew... journals.sagepub.com/doi/10.1111/j.1467-9620.2006.00684.xTechnological Pedagogical Content Knowledge A Framework for Teacher Knowledge Punya Mishra Matthew journals sagepub doi 10 1111 j 1467 9620 2006 00684 x
  2. The first-level digital divide shifts from inequalities in physical access to inequalities in material... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1461444818797082The first level digital divide shifts from inequalities in physical access to inequalities in material journals sagepub doi 10 1177 1461444818797082
  3. The Power of Feedback - John Hattie, Helen Timperley, 2007. power feedback john hattie helen timperley... doi.org/10.3102/003465430298487The Power of Feedback John Hattie Helen Timperley 2007 power feedback john hattie helen timperley doi 10 3102 003465430298487
Read online
File size437.56 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test