ITBITB

Journal of Regional and City PlanningJournal of Regional and City Planning

Manusia dan masyarakat tradisional Jawa merupakan manusia dan masyarakat yang banyak mengedepankan filosofi dan simbol dalam praktik hidup dan kehidupannya. Walaupun di banyak tempat konsep tersebut banyak menghadapi tantangan, berupa perubahan jaman ke materiil, tetapi ada juga sebagian yang masih tetap berusaha mempertahankan segala tradisi yang diturunkan dari nenek moyangnya. Sikap manusia Jawa yang fleksibel menyebabkan tradisi yang muncul merupakan perpaduan antara budaya dasar dan agama (sinkretisme), yang termanifestasi dalam berbagai bentuk dan wujud, salah satunya adalah penciptaan ruang dan lingkungan hidup di sekitarnya. Tulisan ini bertujuan untuk memberi ilustrasi, sekaligus perbandingan wujud ruang permukiman berbasis budaya Jawa. Terdapat pertimbangan dasar, termasuk kondisi fisik dasar, tetapi yang paling umum adalah bagaimana ruang permukiman yang ada merupakan upaya atau skema untuk meminta perlindungan terhadap yang maha kuasa, salah satunya dalam bentuk interpretasi penghormatan pada nenek moyang. Temuan studi memperlihatkan bahwa walaupun secara konsep makro sama, namun kondisi fisik, sejarah terbentuknya permukiman, dan akar budaya‑kepercayaan menyebabkan wujud dan pola ruang permukiman yang terbentuk menjadi spesifik.

Berdasarkan kajian, ruang permukiman tradisional Jawa menunjukkan kesamaan orientasi berbasis gunung dan pengaruh kuat kepercayaan, menghasilkan pola permukiman yang mengelompok dengan elemen lokal seperti kramat, punden, dan pedhanyangan.Perbedaan muncul karena variasi elemen ruang lokal yang menghasilkan bentuk dan pola ruang yang berbeda.Selain itu, ruang perlindungan berfungsi melindungi dari kekuatan tak terlihat serta mendukung kebutuhan dasar manusia seperti konservasi air bersih dan kelestarian hutan.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana perkembangan wisata berbasis budaya mempengaruhi pola ruang permukiman tradisional Jawa, khususnya apakah intensifikasi kegiatan pariwisata mengubah fungsi dan simbolisme elemen ruang seperti kramat, punden, dan pedhanyangan. Sebuah studi komparatif antara desa Petungsewu dan desa Ngadas dengan wilayah lain yang memiliki tradisi serupa dapat memperluas pemahaman tentang variasi adaptasi ruang perlindungan terhadap tekanan modernisasi. Penelitian longitudinal yang melacak perubahan fisik dan non‑fisik selama dekade terakhir akan membantu mengidentifikasi dinamika transformasi ruang dan faktor‑faktor yang mempercepat atau memperlambat perubahan tersebut. Analisis digitalisasi data lapangan menggunakan teknologi GIS dan pemodelan 3D dapat memberikan gambaran visual yang lebih akurat mengenai hubungan antara elemen kepercayaan dan konfigurasi ruang. Selanjutnya, kajian etnografi mengenai persepsi generasi muda terhadap nilai spiritual ruang perlindungan dapat mengungkap potensi pelestarian atau pergeseran budaya ke generasi berikutnya. Penelitian interdisipliner yang menggabungkan arsitektur, antropologi, dan ekologi dapat menghasilkan kerangka kerja kebijakan yang mendukung pelestarian ruang tradisional sambil mengakomodasi kebutuhan pembangunan berkelanjutan. Akhirnya, evaluasi program pengelolaan kawasan wisata berbasis cagar budaya dapat memberikan rekomendasi praktis untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan pelestarian nilai‑nilai budaya.

  1. Ruang Permukiman Tradisional Jawa Berbasis Perlindungan (Preservation of Traditional Javanese Housing)... doi.org/10.5614/jrcp.2016.27.1.2Ruang Permukiman Tradisional Jawa Berbasis Perlindungan Preservation of Traditional Javanese Housing doi 10 5614 jrcp 2016 27 1 2
Read online
File size159.38 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test