UNAIRUNAIR

Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)

Latar Belakang: Puskesmas sangat terpencil merupakan puskesmas tanpa dokter dengan proporsi tertinggi, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan tertinggi kelima. Puskesmas merupakan pintu gerbang utama pelayanan kesehatan dasar di daerah pedesaan dan terpencil. Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan daerah dengan kapasitas fiskal tinggi, memberikan bantuan biaya pendidikan dokter serta menyediakan insentif dokter tetapi dokter tidak retensi bekerja di puskesmas di kabupaten ini. Meskipun merupakan daerah dengn kapasitas fiskal yang tinggi serta penyediaan bantuan pendidikan dan insentif bagi dokter, Kabupaten Konawe Utara belum berhasil mempertahankan tenaga dokter di puskesmas.. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi retensi dokter di puskesmas sangat terpencil di Kabupaten Konawe Utara.. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif desain studi kasus dengan wawancara mendalam 14 orang informan (Puskesmas, Dinkes Kabupaten, Dinkes Provinsi, Kemenkes) dan menelaah enam dokumen.. Hasil: Faktor yang mempengaruhi retensi dokter di Kabupaten Konawe Utara adalah faktor individu, faktor pekerjaan, faktor lingkungan tempat tinggal dan faktor sistem kesehatan.. Kesimpulan: Dokter yang retensi di puskesmas sangat terpencil Kabupaten Konawe Utara merupakan dokter penempatan Kementerian Kesehatan dengan kontrak sementara. Strategi meningkatkan retensi dokter di puskesmas kawasan sangat terpencil dengan meningkatkan kondisi kehidupan di daerah terpencil, peluang pekerjaan pasangan dokter, merekrut dokter di awal karir, kebijakan disinsentif dari pemerintah, membangun puskesmas dengan fasilitas rumah dinas, wajib pengabdian program beasiswa pendidikan dokter dan mengembangkan sistem informasi kehadiran dokter.

Retensi dokter di Puskesmas daerah terpencil Kabupaten Konawe Utara dipengaruhi oleh faktor individu, pekerjaan, lingkungan, dan sistem kesehatan.Tantangan utama yang menghambat retensi meliputi kondisi perumahan dan fasilitas hidup yang tidak memadai, serta kurangnya insentif lokal dan sistem informasi yang optimal.Untuk meningkatkan retensi, pemerintah perlu merumuskan kebijakan terpadu yang mencakup peningkatan kondisi kehidupan, dukungan pekerjaan bagi pasangan, program beasiswa dengan ikatan dinas, pengembangan sistem informasi kehadiran, serta rekrutmen dokter dari latar belakang pedesaan.

Penelitian lanjutan dapat memperdalam pemahaman mengenai kompleksitas retensi dokter di daerah terpencil. Pertama, penting untuk meneliti bagaimana perspektif dan ekspektasi masyarakat setempat, serta tingkat dukungan dan integrasi sosial yang mereka berikan, memengaruhi keputusan dokter untuk bertahan atau meninggalkan Puskesmas di area terpencil. Studi ini dapat mengidentifikasi kebutuhan spesifik masyarakat yang, jika dipenuhi, dapat secara signifikan meningkatkan kepuasan kerja dan kesejahteraan dokter, sekaligus memperkuat ikatan antara dokter dan komunitas. Kedua, mengingat tantangan terkait kondisi tempat tinggal dan peluang kerja bagi pasangan dokter, sebuah studi komprehensif diperlukan untuk menganalisis efektivitas implementasi kebijakan lintas sektor. Penelitian ini harus mengevaluasi sejauh mana koordinasi antara pemerintah daerah, sektor pendidikan, dan sektor lain berhasil menyediakan infrastruktur dasar seperti perumahan layak, akses transportasi yang memadai, dan fasilitas penunjang kehidupan yang esensial, serta bagaimana faktor-faktor ini secara kolektif berkontribusi pada peningkatan retensi dokter. Pertanyaan yang relevan adalah apa saja hambatan utama dalam pelaksanaan kebijakan lintas sektor ini dan bagaimana mengatasinya. Ketiga, untuk memahami dinamika retensi jangka panjang, sebuah studi longitudinal yang melacak perjalanan karier dokter pasca-penugasan khusus atau penerima beasiswa pendidikan dokter sangat dibutuhkan. Penelitian ini dapat menginvestigasi bagaimana aspirasi karier pribadi, ketersediaan peluang pengembangan profesional berkelanjutan, dan dampak dari kebijakan pengabdian wajib memengaruhi keputusan dokter untuk tetap mengabdi di daerah terpencil atau beralih ke area lain setelah kontrak mereka berakhir. Dengan demikian, kita dapat merumuskan strategi retensi yang lebih berkelanjutan dan berorientasi masa depan.

  1. Efforts to Recruit Medical Students From Rural Counties: A Model to Evaluate Recruitment Efforts | Cureus.... cureus.com/articles/67555-efforts-to-recruit-medical-students-from-rural-counties-a-model-to-evaluate-recruitment-effortsEfforts to Recruit Medical Students From Rural Counties A Model to Evaluate Recruitment Efforts Cureus cureus articles 67555 efforts to recruit medical students from rural counties a model to evaluate recruitment efforts
  2. RETENTION OF REMOTE PUBLIC HEALTH CENTER DOCTOR IN NORTH KONAWE DISTRICT | Indonesian Journal of Health... e-journal.unair.ac.id/JAKI/article/view/61587RETENTION OF REMOTE PUBLIC HEALTH CENTER DOCTOR IN NORTH KONAWE DISTRICT Indonesian Journal of Health e journal unair ac JAKI article view 61587
Read online
File size267.01 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test