UNAIRUNAIR

Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)

Surabaya memiliki jumlah tenaga apoteker yang mencapai angka lebih dari 1.600 pada tahun 2016. Namun menurut data di puskesmas dan rumah sakit Kota Surabaya terdapat 144 tenaga apoteker yang tidak memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Keadaan tersebut menunjukkan bahwa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889 Tahun 2011 belum dapat berjalan dengan efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran pelaksanaan kepemilikan SIPA oleh tenaga apoteker di rumah sakit dan puskesmas Kota Surabaya serta faktor yang mempengaruhi masalah tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan metode cross sectional. Data primer didapatkan dari kegiatan observasi, wawancara dan diskusi dengan pegawai Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Sedangkan data sekunder yang digunakan untuk mendukung data primer dikumpulkan dari data resmi, laporan dan arsip. Dengan membandingkan jumlah tenaga apoteker yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas dengan standar ketenagaan minimal pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat 33 rumah sakit umum yang belum dapat memenuhi standar ketenagaan minimal, yang berarti bahwa sebagian besar tenaga apoteker tersebut belum memiliki SIPA. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah melalui penguatan fungsi Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam memberikan peringatan dan sanksi bagi rumah sakit dan tenaga apoteker terkait.

Banyak tenaga apoteker di rumah sakit Surabaya belum memiliki SIPA, terutama di 33 rumah sakit umum dengan kekurangan 144 apoteker, sementara semua apoteker di puskesmas sudah memiliki SIPA.Di rumah sakit khusus, hampir semua apoteker telah memenuhi kewajiban SIPA.Proses pembuatan SIPA di Dinas Kesehatan Kota Surabaya masih memerlukan perbaikan, terutama verifikasi berkas dan mempercepat waktu pembuatan yang seharusnya tidak melebihi 12 hari kerja.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi bagaimana kepemilikan SIPA memengaruhi kualitas pelayanan farmasi di rumah sakit umum, misalnya dengan membandingkan indikator mutu antara apoteker yang memiliki SIPA dan yang belum memilikinya. Selanjutnya, studi dapat menilai efektivitas intervensi Dinas Kesehatan Kota Surabaya, seperti sistem peringatan dan sanksi, dalam meningkatkan tingkat kepatuhan apoteker terhadap peraturan SIPA, menggunakan pendekatan longitudinal untuk mengamati perubahan kepatuhan selama beberapa tahun. Terakhir, penelitian kualitatif dapat mengidentifikasi hambatan dan faktor pendukung yang dirasakan oleh apoteker dalam proses pengajuan SIPA, khususnya di rumah sakit umum, untuk merancang kebijakan yang lebih ramah prosedur dan mengurangi waktu verifikasi berkas.

Read online
File size105 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test