POLTEKKES MKSPOLTEKKES MKS

Media Kesehatan Politeknik Kesehatan MakassarMedia Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar

Nefropati diabetik merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada penderita Diabetes Melitus (DM) yang ditandai dengan penurunan pada fungsi ginjal. Biomarker pemeriksaan laboratorium saat ini untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal yang sering dilakukan di laboratorium antara lain pemeriksaan ureum, kreatinin, dan protein urine. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kontrol glukosa darah yaitu melalui pemeriksaan HbA1c. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi hasil pemeriksaan biomarker fungsi ginjal (ureum, kreatinin, dan protein urine) pada penderita DM ditinjau dari lama menderita (<5 tahun, 5-10 tahun, 11-16 tahun, dan >16 tahun), serta hasil pemeriksaan HbA1c. Penelitian ini menggunakan metode penelitian korelatif dengan pendekatan cross sectional analitik, jumlah sampel sebanyak 90 sampel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Pengumpulan dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin Makassar pada tanggal 8 sampai 15 Mei tahun 2023. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hasil pemeriksaan protein urine nilai p=0,018 (p<0,05) terhadap lama menderita dan hasil pemeriksaan HbA1c pada penderita DM, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hasil pemeriksaan ureum nilai p=0,352 (p>0,05) dan kreatinin nilai p=0,116 (p>0,05) dengan lama menderita dan hasil pemeriksaan HbA1c pada penderita DM, sehingga dapat disimpulkan bahwa protein urine menjadi biomarker potensial dalam pemeriksaan laboratorium untuk melihat risiko komplikasi kerusakan ginjal pada penderita DM. Disarankan pada penderita DM untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala agar dapat mengurangi risiko komplikasi dalam jangka panjang.

Studi ini menyimpulkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus (DM) adalah laki-laki, berusia 58-65 tahun, dengan kontrol HbA1c tidak terkontrol dan lama menderita DM antara 5-10 tahun.Terdapat hubungan signifikan antara hasil pemeriksaan protein urine dengan lama menderita DM dan kadar HbA1c (p=0,018).Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar ureum (p=0,352) maupun kreatinin (p=0,116) dengan lama menderita dan kadar HbA1c pada penderita DM, menunjukkan protein urine adalah biomarker potensial untuk menilai risiko komplikasi kerusakan ginjal pada penderita DM.

Penelitian ini menunjukkan bahwa protein urine adalah biomarker penting untuk melihat risiko kerusakan ginjal pada penderita diabetes melitus (DM), terutama yang sudah lama menderita atau memiliki gula darah tidak terkontrol. Untuk memperdalam pemahaman ini, ada beberapa ide penelitian lanjutan yang bisa dilakukan. Pertama, akan sangat bermanfaat jika peneliti selanjutnya fokus pada pasien DM yang tidak memiliki penyakit penyerta lain seperti tekanan darah tinggi atau infeksi serius. Dengan begitu, kita bisa benar-benar memahami sejauh mana diabetes secara langsung memengaruhi ginjal, tanpa terganggu oleh kondisi medis lain. Ini akan memberikan gambaran yang lebih murni tentang kerusakan ginjal akibat DM. Kedua, karena protein urine dianggap biomarker potensial, studi ke depan dapat menyelidiki apakah tingkat protein urine saat ini bisa digunakan untuk meramal seberapa cepat fungsi ginjal seorang pasien DM akan memburuk di masa depan. Jika bisa, dokter dapat mengidentifikasi pasien berisiko tinggi lebih awal dan memberikan penanganan yang lebih cepat untuk mencegah gagal ginjal. Ketiga, mengingat pentingnya pemeriksaan berkala, akan sangat berguna untuk meneliti dampak dari program pengelolaan DM yang terstruktur dan intensif. Program ini bisa mencakup pemantauan gula darah dan fungsi ginjal secara rutin, panduan diet dan olahraga yang ketat, serta penyesuaian obat secara personal. Tujuannya adalah untuk melihat apakah pendekatan ini efektif dalam memperlambat atau bahkan mencegah kerusakan ginjal jangka panjang pada penderita DM. Harapannya, penelitian-penelitian ini dapat menyumbang pada strategi penanganan DM yang lebih efektif dan pencegahan komplikasi ginjal yang lebih baik.

  1. Vol. 18 No. 2 (2023): Media Kesehatan | Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar. vol kesehatan... doi.org/10.32382/medkes.v18i2Vol 18 No 2 2023 Media Kesehatan Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar vol kesehatan doi 10 32382 medkes v18i2
  2. Kontrol Glikemik dan Prevalensi Gagal Ginjal Kronik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas... doi.org/10.15416/ijcp.2017.6.2.78Kontrol Glikemik dan Prevalensi Gagal Ginjal Kronik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas doi 10 15416 ijcp 2017 6 2 78
Read online
File size174.51 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test