STFTKIJNESTFTKIJNE

MURAI: Jurnal Papua Teologi KonstekstualMURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual

Zakharia 7:1-14 merupakan salah satu bagian dalam Akitab yang berbicara mengenai praktik puasa yang biasa dilakukan oleh orang‑orang Israel saat itu sekaligus yang memuat kritik TUHAN terhadapnya. Pada bagian ini TUHAN mengawali teguran‑Nya kepada mereka dengan sebuah pertanyaan: “... Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh‑sungguh berpuasa untuk Aku? (Zakharia 7:5). Puasa yang dikehendaki TUHAN sesungguhnya adalah suatu puasa yang tidak hanya berkaitan dengan hal‑hal lahiriah, yaitu soal meniadakan makan dan minum saja, melainkan juga melibatkan sisi batiniah manusia yang berdampak bagi kesejahteraan sesama. Gereja sebagai perwujudan dari tubuh Kristus di tengah dunia bertanggung jawab untuk melakukan pelayanan kasih atau diakonia pada sesama manusia, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus, Sang Kepala gereja itu semasa hidup‑Nya sewaktu menjadi manusia di tengah dunia. Oleh karena itu, penelitian ini berpusat bagaimana konsep Puasa dalam Kitab Zakharia 7:1-14? Bagaimana relevansi antara konsep Puasa dalam Kitab Zakharia 7:1-14 dengan tindakan diakonia gereja? Dan tujuan penelitian adalah untuk menguraikan konsep Puasa dalam Kitab Zakharia 7:1-14 dan untuk menggali keterkaitan antara konsep Puasa dalam Kitab Zakharia 7:1-14 dengan tindakan diakonia gereja. Adapun jenis penelitian yang dipergunakan pada penelitian ini ialah studi kepustakaan atau library research dengan pendekatan Hermeneutik.

Puasa merupakan praktik yang ditetapkan Tuhan untuk menumbuhkan kerendahan hati dan memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama, sehingga harus dijalankan dengan rasa penyesalan yang tulus bukan sebagai pameran kebajikan.gereja perlu berpuasa sebagai respons atas pengabaian kasih terhadap sesama, karena ketidakpedulian terhadap sesama mencerminkan kurangnya kasih kepada Tuhan.puasa yang Tuhan inginkan harus disertai perubahan hidup nyata yang menempatkan kepedulian kepada penderitaan orang lain sebagai inti tindakan diakonia.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji secara empiris bagaimana praktik puasa dan diakonia diterapkan oleh gereja-gereja di Indonesia saat ini, sehingga dapat menilai kesesuaian antara teori hermeneutik dengan realitas kontekstual; selanjutnya, studi komparatif antara konsep puasa dalam Zakharia 7:1‑14 dengan teks‑teks lain seperti Yesaya 58 dan Yeremia 7 dapat mengeksplorasi variasi teologis mengenai keadilan sosial dan implikasinya bagi pelayanan kasih; terakhir, penelitian tentang integrasi hasil hermeneutik mengenai puasa ke dalam kurikulum pendidikan teologi pastoral dapat memperkuat pembekalan pendeta dalam mengajarkan iman yang tidak hanya bersifat ritual tetapi juga transformasional bagi komunitas.

Read online
File size577.2 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test