UNJUNJ

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan SeniProsiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni

Covid-19 (Coronavirus Disease-19) adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus Corona, yang ditetapkan oleh WHO sebagai nama resmi penyakit ini. Covid-19 merupakan singkatan dari Corona Virus Disease-2019, sebuah penyakit yang menyerang saluran pernapasan sehingga menimbulkan demam tinggi, batuk, flu, sesak napas, dan sakit tenggorokan. Virus Corona menyebar dan menginfeksi orang lain melalui droplet yang dikeluarkan dari mulut dan hidung penderita, serta dapat terjadi saat batuk atau menghembuskan napas. Sebelum era pandemi Covid-19, masker hanya digunakan oleh komunitas medis. Tenaga medis biasanya memakai masker saat melakukan prosedur bedah atau kegiatan medis lainnya. Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama dua tahun sejak 2019 hingga kini, sehingga masyarakat dianjurkan untuk selalu memakai masker dalam aktivitas sehari-hari. Sejak pandemi, muncul banyak varian masker dengan bentuk visual yang unik. Penelitian ini menganalisis varian bentuk visual masker yang beredar di pasar. Penelitian ini menggunakan kajian semiotika, yaitu ilmu tentang tanda, dengan pendekatan kualitatif. Semiotic Charles Sander Pierce (1914-1983) berlandaskan pada logika, karena logika mempelajari cara penalaran manusia, sedangkan penalaran menurut Pierce dilakukan melalui tanda. Suatu tanda memiliki tiga karakteristik, yaitu: (1) memiliki bentuk fisik yang dapat ditangkap oleh indera manusia sehingga dapat dilihat, didengar, disentuh, atau dicium; (2) merujuk pada sesuatu di luar dirinya; dan (3) harus digunakan dan dikenali sebagai tanda dalam sistem budaya atau kode yang dibagikan oleh komunitas.

Masker visual yang beragam, baik motif (batik, bunga, polos, kotak‑kotak) maupun variasi warna (gradasi, putih, hitam, abu‑silver, navy, biru elektrik, mocca/khaki, krem apricot, merah, kuning, pink, orange), disesuaikan dengan bentuk wajah manusia, seperti Masker KN‑95 (oval lonjong) untuk wajah berbentuk berlian, Masker N‑95 dan Duckbill (bulat) untuk wajah bulat, serta Masker Bedah (persegi) untuk wajah kotak.Motif polos populer karena mudah didapat dan dapat dipadukan dengan pakaian, sedangkan warna netral seperti hitam dan putih lebih sering digunakan karena regulasi sekolah.Masker KN‑95 dan N‑95 memiliki ketebalan yang lebih tinggi dibandingkan masker lain, dan Masker Duckbill dipilih karena tipis serta tidak menyebabkan embun pada kacamata pemakainya.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana desain visual masker memengaruhi tingkat kepatuhan penggunaan masker pada berbagai kelompok usia, misalnya dengan menguji apakah motif tradisional seperti batik meningkatkan motivasi pemakaian di kalangan remaja dibandingkan motif polos. Selain itu, studi dapat mengeksplorasi persepsi simbolik tanda pada permukaan masker melalui pendekatan psikologi semiotik, untuk memahami bagaimana ikon, indeks, dan simbol pada masker berkontribusi pada pembentukan identitas budaya pengguna. Selanjutnya, mengingat variasi ketebalan dan bahan yang ditemukan pada masker KN‑95, N‑95, serta Duckbill, penelitian dapat menilai dampak lingkungan dari produksi massal masker dengan fokus pada keberlanjutan material, misalnya dengan membandingkan jejak karbon antara masker sekali pakai dan masker kain yang dapat dipakai kembali. Metode campuran antara survei lapangan, analisis isi visual, dan evaluasi dampak lingkungan dapat memberikan data yang lebih robust untuk mendukung kebijakan publik.

Read online
File size400.96 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test