IFTKLEDALEROIFTKLEDALERO

Jurnal LedaleroJurnal Ledalero

Identitas, sebagai apa yang mendefinisikan diri seseorang secara langsung, menyentuh pertanyaan tentang eksistensi manusia: bagaimana kita mengidentifikasi diri kita dan menegaskan identitas kita dan kelompok di tengah realitas plural seperti bangsa Indonesia. Warga negara Indonesia menegaskan identitas mereka yang religius dan pada saat yang sama nasional. Sebagai warga negara, di satu sisi, kita memberikan alasan rasional ketika membuat tuntutan politik, bukan hanya preferensi emosional. Di sisi lain, alasan-alasan ini memiliki kualitas publik, yaitu harus mampu meyakinkan orang-orang dari berbagai keyakinan dan bangsa. Untuk hal ini terjadi, diperlukan proses pemisahan antara apa yang menjadi urusan iman pribadi dan keyakinan yang perlu dipertahankan di ruang publik.

Dalam konteks hidup bernegara, agama mendapat tempat sebagai satu kemungkinan penciptaan nilai-nilai berbasis jati diri yang berdaya konstruktif.Agama dan negara menjadi penjamin nilai sosial-kemasyarakatan dan pengakuan kekhasan jati diri.Alasan ini, agama masih diminati dan menjadi sandaran dalam kegiatan solidaritas, dalam hal gerakan kemanusiaan.Penghayatan agama secara mondial di tengah pluralitas dunia yang mengglobal masih menabuh asah nilai luhur kemanusiaan, keadilan dan kebenaran.Ketika terjadi bencana sosial yang dahsyat, di banyak negara maju, lembaga-lembaga agama masih lebih dipercaya untuk mendistribusikan bantuan.Kenyataan yang sama juga dialami di Indonesia.Banyak lembaga donatur lebih percaya kepada lembaga keagamaan sebagai satu bentuk perpanjangan tangan dalam aksi solidaritas sosial, seperti bencana dan kerusakan lainnya.Ketika terjadi bencana tsunami di Aceh tahun 2004 semua orang dari pelbagai lapisan dunia menunjukkan satu rasa solidaritas yang tinggi.Agama masih punya tempat juga dalam negara.Dalam arti ini agama terlibat dalam pluralitas manusia ketika ia mempertajam kepekaan untuk menumbuhkan tanggungjawab kemanusiaan.

Untuk mewujudkan kehidupan beragama yang Pancasilais sekaligus kehidupan Pancasila yang beragama, diperlukan kesadaran beragama secara baru dengan menjalankan secara sah fungsi-fungsinya. Agama harus dapat menjadi andalan dalam membentuk jati diri manusia, termasuk ketika dia serempak menjadi warga sebuah negara. Jati diri sebagai identitas diri terbentuk justru dalam satu kesadaran yang hidup bersama orang lain. Dialog interreligius yang menekankan kerukunan menjadi relevan dalam konteks Indonesia dengan keragaman agama. Dialog ini tidak mengurangi dinamika dan kekhasan agama masing-masing, tetapi justru memperkaya pengalaman keagamaan dengan berbagi pengalaman iman. Dalam dialog interreligius, setiap pribadi diajak masuk ke dalam persahabatan yang personal dengan mitra dialog yang berbeda iman, dan diminta untuk membuka diri terhadap nilai lain dan tertentu yang diungkapkan mitra dialognya tanpa mengkhianati imannya sendiri.

Read online
File size230.41 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test