UNYUNY

JIPSINDOJIPSINDO

Kondisi geografis dapat memicu potensi bencana alam di setiap wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi: 1) upaya dan implementasi konservasi lingkungan berbasis kearifan lokal untuk mitigasi bencana di Colo Dawe Kudus, dan 2) pencapaian upaya konservasi lingkungan berbasis kearifan lokal untuk mitigasi bencana di Colo Dawe Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain etnografis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Colo berada di dataran tinggi yang berpotensi mengalami longsor. Pendekatan budaya adalah cara yang digunakan oleh masyarakat Colo untuk mitigasi bencana. Kearifan lokal masyarakat Colo dianggap mampu mempertahankan lingkungan melalui ritual, termasuk tradisi Wiwit Kopi, Sedekah Bumi, Sewu Kupat, dan Guyang Cekathak. Upaya mitigasi bencana di Desa Colo menggunakan pendekatan budaya tidak hanya untuk bencana longsor tetapi juga bencana hidrometeorologi, seperti upaya mitigasi bencana kekeringan. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan ilmu sosial, khususnya di bidang sosiologi, antropologi, dan geografi.

Berdasarkan kondisi geografis, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus termasuk dalam wilayah dataran tinggi, yang mengakibatkan potensi bencana berupa longsor.Aktivitas longsor di Desa Colo tercatat terjadi pada tahun 1952, 2000, 2020, dan 2022.Masyarakat Colo memiliki cara untuk mengurangi potensi bencana, yaitu dengan pendekatan budaya.Kearifan lokal masyarakat Colo dianggap mampu menjaga alam dan lingkungan dalam bentuk ritual, termasuk tradisi Wiwit Kopi, Sedekah Bumi, Sewu Kupat, dan Guyang Cekathak.Kearifan lokal Desa Colo berisi tahapan yang diproposikan oleh Van Peursen, yaitu tahapan mitos, ontologis, dan fungsional.Bentuk tradisi yang ada memiliki fungsi mengurangi potensi degradasi lahan, erosi, longsor, dan kekeringan.

Penelitian lanjutan dapat menggali lebih dalam tentang perbandingan kearifan lokal di daerah lain untuk mitigasi bencana, seperti mengkaji tradisi serupa di wilayah berbeda dengan kondisi geografis dan budaya yang unik. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi integrasi teknologi modern dengan praktik tradisional untuk meningkatkan efektivitas mitigasi bencana, misalnya dengan memanfaatkan data satelit atau aplikasi pemantauan cuaca untuk memperkuat ritual seperti Guyang Cekathak. Terakhir, penelitian lanjutan bisa mengevaluasi dampak jangka panjang dari tradisi seperti Sewu Kupat dan Sedekah Bumi terhadap keberlanjutan lingkungan dan kepercayaan masyarakat terhadap kearifan lokal.

Read online
File size281.82 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test