UNPADUNPAD

MetahumanioraMetahumaniora

Studi ini mengkaji bagaimana wacana multimodal dalam iklan Instagram mengkonstruksi representasi perempuan berhijab dalam industri pakaian Indonesia. Dengan menggunakan analisis wacana multimoda Kress dan van Leeuwen (2006), penelitian ini menganalisis tiga iklan video Instagram dari kolaborasi brand Buttonscarves dengan Indah Nada Puspita. Analisis ini berfokus pada tiga dimensi semiotik: fitur linguistik (lirik lagu dan teks tertulis), interaksi visual-verbal (komposisi, warna, latar, dan bahasa tubuh), serta strategi representasi dari perempuan berhijab. Penelitian ini menemukan bahwa iklan-iklan ini mengkonstruksi perempuan muslim di persimpangan antara kesalehan agama, konsumerisme global, dan identitas budaya lokal, yang beroperasi dalam apa yang disebut oleh para ahli sebagai “ekonomi kesalehan di mana ekspresi keagamaan dan konsumsi komoditas saling menguatkan. Iklan-iklan tersebut menggunakan perspektif neo-kolonial dengan menempatkan perempuan Muslim Indonesia dalam konteks budaya dan musik Barat, namun sekaligus menunjukkan hibridisasi budaya di mana perempuan berhijab menegaskan posisi mereka untuk berpartisipasi dalam arus mode, romansa, dan pariwisata transnasional tanpa mengorbankan orisinalitas keislamannya. Studi ini juga menemukan bahwa ketiga iklan tersebut secara kolektif menantang stereotip Barat sekaligus membangun standar normatif feminitas Muslim kelas menengah yang urban, dan terpelajar. Penelitian ini berkontribusi untuk memahami bagaimana media sosial secara komersial berpartisipasi dalam negosiasi identitas Muslim, representasi gender, dan globalisasi.

Analisis iklan The Nada Series mengungkapkan bahwa fesyen muslimah di Indonesia merupakan titik temu antara kesalehan religius, konsumerisme global, dan identitas budaya lokal, membentuk ekonomi kesalehan. Iklan-iklan ini menampilkan hubungan neo-kolonial melalui penggunaan latar Barat sebagai penanda prestise, namun secara bersamaan menunjukkan hibridisasi budaya di mana perempuan muslimah Indonesia berpartisipasi dalam tren global tanpa mengorbankan identitas keagamaan mereka.Representasi ini secara efektif menantang stereotip Barat tentang perempuan muslimah yang tertindas, menampilkan mereka sebagai sosok yang percaya diri, ekspresif, dan berorientasi keluarga, sekaligus membangun standar normatif feminitas muslimah kelas menengah yang terpelajar di perkotaan.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam pemahaman kita tentang representasi perempuan berhijab dalam industri fesyen muslimah Indonesia. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah dengan menyelidiki bagaimana iklan fesyen muslimah yang menampilkan citra global perempuan berhijab ini diterima dan diinterpretasikan oleh audiens yang lebih beragam. Studi ini dapat menjangkau kelompok perempuan muslimah dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi, daerah pedesaan, atau tingkat pendidikan yang berbeda, tidak hanya terbatas pada demografi kelas menengah perkotaan dan terpelajar seperti yang sering direpresentasikan. Tujuannya adalah untuk memahami apakah narasi kesalehan, konsumerisme, dan identitas budaya yang disajikan dalam iklan tersebut relevan atau menciptakan resonansi yang berbeda di antara segmen audiens yang lebih luas. Selain itu, akan sangat bermanfaat untuk melakukan analisis komparatif yang melibatkan merek-merek fesyen muslimah lain di Indonesia atau mengeksplorasi representasi di platform media sosial yang berbeda, seperti TikTok atau YouTube. Pendekatan ini akan membantu mengidentifikasi apakah strategi wacana multimodal yang serupa digunakan secara luas di seluruh industri, atau justru ada variasi signifikan dalam cara merek-merek lain membangun citra perempuan berhijab global. Membandingkan berbagai merek atau platform dapat mengungkapkan dinamika pasar dan budaya yang lebih luas. Terakhir, penelitian masa depan juga bisa fokus pada evolusi representasi perempuan berhijab dalam iklan seiring berjalannya waktu. Dengan melihat perubahan dalam strategi periklanan multimodal selama beberapa tahun, kita dapat melacak bagaimana citra kesalehan, hibridisasi budaya, dan keterlibatan global bergeser atau tetap konsisten, serta bagaimana faktor-faktor eksternal seperti perubahan sosial atau teknologi memengaruhi konstruksi identitas muslimah di ranah komersial.

  1. THE IMAGE OF GLOBAL VEILED WOMEN: MULTIMODAL DISCOURSE ANALYSIS OF BUTTONSCARVES ADVERTISEMENTS | Metahumaniora.... doi.org/10.24198/metahumaniora.v16i1.63919THE IMAGE OF GLOBAL VEILED WOMEN MULTIMODAL DISCOURSE ANALYSIS OF BUTTONSCARVES ADVERTISEMENTS Metahumaniora doi 10 24198 metahumaniora v16i1 63919
Read online
File size410.24 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test