IAIN MADURAIAIN MADURA

AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata SosialAL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial

Artikel ini membahas dialog antara Islam dan budaya lokal di kalangan masyarakat Wetu Telu Lombok, yang sering dituduh mengembangkan ajaran Islam yang bercampur dengan tradisi menyimpang, heterodoks, dan heretik. Diskusi difokuskan pada satu bentuk tradisi mereka yang mencerminkan dialog tersebut, yaitu merariq dalam upacara pernikahan. Dengan pendekatan kualitatif, studi ini secara khusus menggambarkan pandangan relevan masyarakat Wetu Telu yang relatif berbeda dari umat Islam ortodoks di Lombok. Berdasarkan hasil observasi partisipatif dan wawancara mendalam, temuan menunjukkan bahwa tradisi masyarakat Wetu Telu, khususnya dalam merariq, mencerminkan dialog ajaran antara Islam dan budaya lokal sehingga dapat disebut sebagai tradisi Islam. Jelas bahwa ajaran Wetu Telu sangat toleran terhadap budaya lokal, yang terbukti, antara lain, melalui upacara pernikaran mereka. Dari perspektif Urf, tradisi merariq pernikaran diakui sebagai bagian dari budaya atau praktik hukum Islam meskipun beberapa aspek tradisi tersebut berbeda dari prinsip umum ortodoksi Islam di Indonesia.

Merariq adalah salah satu tradisi pernikahan masyarakat Sasak Lombok, tetapi merupakan institusi sosial-budaya pernikaran utama di kalangan Wetu Telu.Tradisi ini mencerminkan beberapa bentuk dialog antara ajaran Islam dan budaya lokal, meskipun tampaknya lebih dominan mencerminkan aspek budaya daripada agama, sehingga menjadi sasaran stigma negatif atau tuduhan sebagai Islam menyimpang.Penelitian ini menemukan setidaknya lima aspek bentuk dialog di luar praktik merariq.Beberapa aspek merariq memenuhi persyaratan al-urf al-ṣaḥīḥ sehingga dapat secara sah dianggap sebagai bagian dari praktik hukum Islam selain nuansa tradisional atau Hindu yang dianggap terdapat di dalamnya.Namun, sebagian kecil aspek merariq menunjukkan penyimpangan atau perbedaan dengan praktik Islam mainstream atau ortodoks, yang memerlukan penelitian lebih lanjut untuk merevisi ruang lingkup dan tahapan merariq, khususnya dalam konteks keberlanjutannya hingga hari ini dan asumsi kontroversial di sekitarnya.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak modernisasi terhadap tradisi merariq dalam konteks perubahan nilai sosial di Lombok. Selain itu, studi perbandingan antara praktik merariq Wetu Telu dengan tradisi pernikaran lain di daerah Sasak dapat mengungkap dinamika interaksi budaya dan agama yang lebih luas. Terakhir, penelitian tentang peran lembaga adat dalam menjaga harmonisasi antara hukum Islam dan norma lokal bisa memberikan wawasan tentang mekanisme adaptasi agama dalam konteks multikultural.

  1. Jurnal Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam. merantau ethnic tradition minangkabau local custom... jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/samarah/article/view/9954Jurnal Samarah Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam merantau ethnic tradition minangkabau local custom jurnal ar raniry ac index php samarah article view 9954
  2. The ‘Urf Perspective of Maanta Bareh Pasaran: Reinforcing the Kinship System through... journal.iaincurup.ac.id/index.php/alistinbath/article/view/4132The yCuUrf Perspective of Maanta Bareh Pasaran Reinforcing the Kinship System through journal iaincurup ac index php alistinbath article view 4132
  3. Kementerian Agama Republik Indonesia. kementerian agama republik maaf situsweb perbaikan prepair.kemenag.go.idKementerian Agama Republik Indonesia kementerian agama republik maaf situsweb perbaikan prepair kemenag go
  4. The Sasak People of Lombok: Indigenous Communities at The Crossroads of Globalization | Salehudin | Al-Albab.... doi.org/10.24260/alalbab.v8i2.1416The Sasak People of Lombok Indigenous Communities at The Crossroads of Globalization Salehudin Al Albab doi 10 24260 alalbab v8i2 1416
Read online
File size594.83 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test