UNDWIUNDWI

WIDYAACCARYAWIDYAACCARYA

Penelitian ini membahas mengenai kritik budaya akademik sekolah tentang pendidikan formal yang demokratis. Pendidikan formal (re: sekolah) yang mensyaratkan sebuah hubungan relasi guru-peserta didik perlu dikritisi secara mendalam melalui tinjauan kritis pemikiran Paulo Freire dan Neil Postman. Domestikasi yang terjadi antara guru-peserta didik menjadi sumber kritik yang disasar oleh pendidikan kritis. Konteks ini berlaku bahwa pendidikan seharusnya lebih mengembangkan nilai-nilai kebebasan dan kritisisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan literatur atau pustaka (literature review) dengan mengelompokkan buku, jurnal, hingga laporan akademis. Analisis data dilakukan secara sistematis menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif melalui tahapan open coding untuk mengidentifikasi konsep-konsep kunci, dilanjutkan dengan axial coding untuk mengelompokkan konsep ke dalam kategori tematik, serta selective coding untuk merumuskan tema inti yang merepresentasikan kritik budaya akademik sekolah. Hal ini dilakukan untuk memilah pemikiran-pemikiran yang relevan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulo Freire memiliki kritik budaya akademik sekolah sebagai alternatif gagasan pendidikan formal yang demokratis, meliputi: a). Perbaikan relasi guru-peserta didik lewat orientasi dialogis; b). Penggunaan problem-posing education (metode hadap-masalah). Sementara itu, Neil Postman menekankan kritik terhadap hubungan guru-peserta didik yang tidak terbuka terhadap kebaruan teoretis, dengan menawarkan: a). Re-demokratisasi ruang kelas; b). Pendekatan metode proyek edukasi guru-peserta didik.

Kritik budaya akademik sekolah terhadap pendidikan formal yang demokratis, sebagaimana dirumuskan oleh Paulo Freire dan Neil Postman, berangkat dari penolakan terhadap praktik pendidikan yang bersifat indoktrinatif, dan menempatkan peserta didik sebagai objek.Keduanya memandang bahwa budaya akademik sekolah yang tidak demokratis tercermin dalam relasi guru-peserta didik yang hierarkis serta tertutup terhadap dialog dan kebaruan pemikiran.Dalam perspektif Freire, kritik tersebut diarahkan pada praktik banking education yang mengekang kebebasan berpikir peserta didik.Sebagai alternatif, Freire menawarkan orientasi dialogis dan metode problem-posing education untuk membangun kesadaran kritis serta menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.Sementara itu, Postman mengkritik pendidikan yang terjebak dalam konservatisme dan kehilangan makna, dengan menawarkan re-demokratisasi ruang kelas serta pendekatan proyek edukasi yang mendorong kreativitas, refleksi, dan keterlibatan peserta didik dalam realitas sosial.Meskipun memiliki latar belakang dan titik tekan yang berbeda, kedua pemikiran tersebut memiliki kesamaan fundamental, yaitu menempatkan ruang pembebasan yang harus dibangun melalui relasi yang egaliter, dialogis, dan humanis.Dengan demikian, kritik budaya akademik sekolah menurut Freire dan Postman menegaskan bahwa pendidikan formal yang demokratis hanya dapat terwujud apabila sekolah mampu meninggalkan praktik-praktik domestikasi dan membuka ruang bagi pengembangan kesadaran kritis peserta didik.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis, berikut adalah saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan studi empiris yang menyelidiki implementasi pendidikan kritis dalam praktik pendidikan formal di Indonesia. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana pendidikan kritis dapat diterapkan dalam berbagai konteks sekolah, termasuk dalam relasi guru-peserta didik, dan bagaimana hal ini dapat meningkatkan kesadaran kritis dan partisipasi aktif peserta didik. Kedua, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi peran teknologi dalam pendidikan kritis. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, penting untuk memahami bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong dialog, kreativitas, dan partisipasi aktif peserta didik dalam pendidikan kritis. Ketiga, penelitian dapat mengkaji lebih lanjut tentang bagaimana pendidikan kritis dapat diintegrasikan dengan kurikulum dan praktik pendidikan yang sudah ada, serta bagaimana hal ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan menggabungkan saran-saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mewujudkan pendidikan formal yang demokratis dan kritis di Indonesia.

Read online
File size296 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test