UNPADUNPAD

MetahumanioraMetahumaniora

Penelitian ini berargumen bahwa cat kuku di Hindia Belanda pada periode 1920-1942 bukan sekadar produk kosmetik, melainkan benda yang berfungsi sebagai simbol gaya hidup sekaligus penanda identitas sosial perempuan dalam tatanan kolonial. Mengacu pada Teori Distingsi Sosial Pierre Bourdieu, praktik estetika tubuh bekerja sebagai instrumen pembentukan batas kelas melalui selera dan konsumsi. Dengan metode sejarah budaya dan analisis sumber primer berupa iklan kecantikan, arsip foto, serta dokumen kolonial, penelitian ini menunjukkan bahwa cat kuku, khususnya merek global seperti Cutex, beroperasi sebagai komoditas mewah yang hanya dapat diakses oleh perempuan kelas atas kolonial. Media cetak kolonial memainkan peran kunci dalam membakukan standar feminitas modern melalui representasi visual tangan yang terawat sebagai antitesis dari kerja fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produk kecantikan menjadi alat kultural yang efektif untuk mempertahankan hierarki kolonial sekaligus mendefinisikan identitas sosial melalui disiplin tubuh perempuan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa cat kuku di Hindia Belanda pada periode 1920-1942 bukan sekadar praktik kosmetik atau tren mode yang netral, melainkan bagian dari proses kolonialisme budaya yang bekerja melalui tubuh perempuan dan produksi makna visual.Cat kuku beroperasi sebagai medium tempat modernitas kolonial ditanamkan dan dipertunjukkan, di mana merek global seperti Cutex diposisikan sebagai komoditas gaya hidup melalui jaringan warenhuis dan media cetak.representasi visual tangan yang halus dan terawat membakukan standar feminitas modern yang secara implisit menyingkirkan perempuan kelas bawah dari imajinasi modernitas.Dalam kerangka Pierre Bourdieu, konsumsi cat kuku berfungsi sebagai praktik distingsi sosial yang menandai habitus kelas elit, menjadikan kuku yang dicat sebagai bahasa visual yang menyatakan afiliasi kelas, kedisiplinan tubuh, dan kedekatan dengan budaya Barat.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai resistensi atau adaptasi perempuan pribumi melalui analisis sejarah lisan guna melengkapi narasi yang selama ini didominasi oleh media kolonial. Studi masa depan juga dapat melakukan perbandingan antara estetika masa kolonial dengan masa pendudukan Jepang untuk melihat pergeseran makna simbolik kecantikan dalam konteks politik yang berbeda. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi akademisi sejarah gender untuk memahami bagaimana tubuh perempuan menjadi ruang penting bagi beroperasinya kekuasaan dan negosiasi identitas dalam masyarakat kolonial.

  1. CAT KUKU SEBAGAI GAYA HIDUP DAN IDENTITAS SOSIAL PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA TAHUN 1920-1942 | Metahumaniora.... doi.org/10.24198/metahumaniora.v16i1.64002CAT KUKU SEBAGAI GAYA HIDUP DAN IDENTITAS SOSIAL PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA TAHUN 1920 1942 Metahumaniora doi 10 24198 metahumaniora v16i1 64002
Read online
File size1.21 MB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test