STKIP MELAWISTKIP MELAWI

Bestari: Jurnal Pendidikan dan KebudayaanBestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif etnografis. Penelitian dilakukan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dengan tiga informan yang terdiri atas pemuka agama, perangkat desa, dan juru kunci. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, klasifikasi kosakata berdasarkan bentuk morfologis, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kosakata dalam tradisi ini meliputi kosakata dasar, kosakata berimbuhan, kata gabung, dan kata ulang dengan dominasi kosakata dasar. Berdasarkan fungsinya, kosakata tersebut diklasifikasikan menjadi enam jenis, yaitu religius, sosial, benda, ritual dan prosesi, tokoh dan tempat sakral, serta konseptual atau deskriptif. Kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar BIPA berbasis budaya lokal karena membantu pemelajar asing memahami bahasa Indonesia sekaligus budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam Tradisi Guyang Cekathak ditemukan empat bentuk kosakata, yaitu kosakata dasar, kosakata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung, dengan dominasi kosakata dasar.Selain itu, kosakata dalam tradisi tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam enam jenis, yaitu kosakata religius, sosial, benda, ritual dan prosesi, tokoh dan tempat sakral, serta konseptual atau deskriptif.Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi Guyang Cekathak memiliki kekayaan kosakata yang berkaitan dengan aktivitas budaya masyarakat.Oleh karena itu, kosakata yang terdapat dalam tradisi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan ajar dalam pembelajaran BIPA berbasis budaya lokal.Pemanfaatan kosakata tradisi lokal tersebut dapat membantu memperkenalkan bahasa Indonesia sekaligus budaya kepada pemelajar asing secara lebih kontekstual.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis lebih mendalam mengenai hubungan antara kosakata dalam tradisi Guyang Cekathak dengan aspek linguistik dan budaya lainnya. Selain itu, dapat dilakukan studi komparatif antara tradisi Guyang Cekathak dengan tradisi serupa di daerah lain untuk memahami variasi kosakata dan praktik budaya yang terkait. Penelitian juga dapat fokus pada pengembangan bahan ajar BIPA yang mengintegrasikan kosakata tradisi Guyang Cekathak, dengan mempertimbangkan aspek linguistik, budaya, dan relevansinya dengan kebutuhan pembelajar asing. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi lebih luas dalam upaya pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing yang berbasis budaya lokal.

  1. URGENSI PENGGUNAAN MEDIA TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN BIPA BERBASIS BUDAYA YOGYAKARTA BAGI TINGKAT PEMULA... doi.org/10.31943/bi.v10i1.950URGENSI PENGGUNAAN MEDIA TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN BIPA BERBASIS BUDAYA YOGYAKARTA BAGI TINGKAT PEMULA doi 10 31943 bi v10i1 950
  2. Problem-based learning: Making caricature as teaching material based on folklore "Sang Piatu"... journal.uny.ac.id/index.php/litera/article/view/72541Problem based learning Making caricature as teaching material based on folklore Sang PiatuAy journal uny ac index php litera article view 72541
Read online
File size338.97 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test