STKIP MELAWISTKIP MELAWI

Bestari: Jurnal Pendidikan dan KebudayaanBestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Penelitian ini mensintesis peran instructional scaffolding dalam meningkatkan learner autonomy yang berlandaskan filsafat pendidikan pragmatis melalui pendekatan Systematic Literature Review. Kajian ini menelaah karakteristik, model, dan mekanisme scaffolding; konseptualisasi serta operasionalisasi learner autonomy; serta integrasi prinsip-prinsip pendidikan pragmatis dalam kajian ilmiah yang ada. Dengan mengikuti kerangka PRISMA 2020, telaah ini terutama bersumber dari basis data Scopus (2015–2025) dan satu sumber tambahan, sehingga menghasilkan 31 studi yang dianalisis melalui sintesis tematik-komparatif. Temuan menunjukkan bahwa scaffolding umumnya diterapkan melalui modeling, praktik terbimbing, refleksi terstruktur, pengelolaan beban kognitif, serta pelepasan dukungan secara bertahap. Learner autonomy dioperasionalisasikan melalui indikator seperti regulasi diri, metakognisi, motivasi intrinsik, efikasi diri, dan tanggung jawab belajar. Prinsip-prinsip pragmatis, terutama pembelajaran berbasis pengalaman, adaptasi kontekstual, dan praktik reflektifmuncul secara konsisten dalam berbagai studi. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa instructional scaffolding berfungsi sebagai mekanisme mediasi strategis dalam mendorong transisi dari ketergantungan menuju kemandirian belajar dalam suatu kerangka konseptual yang terintegrasi.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa instructional scaffolding secara konsisten diposisikan dalam literatur sebagai mekanisme pedagogis strategis yang mendukung pengembangan learner autonomy melalui dukungan bertahap, adaptasi kontekstual, refleksi terstruktur, dan pengalaman belajar autentik.Karakteristik dominan scaffolding yang diidentifikasi dalam studi-studi tersebut meliputi modeling, praktik terbimbing, manajemen beban kognitif, dialog reflektif, dan pelepasan dukungan terstruktur.Indikator otonomi yang paling sering dilaporkan meliputi self-regulation, metacognition, intrinsic motivation, self-efficacy, dan tanggung jawab belajar, yang semuanya sejalan dengan prinsip-prinsip filsafat pendidikan pragmatis, seperti pembelajaran berbasis pengalaman, praktik autentik, adaptasi kontekstual, dan internalisasi reflektif berkelanjutan.Berbeda dengan literatur sebelumnya yang cenderung memperlakukan scaffolding dan otonomi sebagai konstruk terpisah, penelitian ini menawarkan integrasi konseptual yang memosisikan scaffolding sebagai mekanisme mediasi strategis yang memfasilitasi transisi dari ketergantungan peserta didik menuju kemandirian dalam kerangka pendidikan pragmatis.Temuan lebih lanjut menegaskan bahwa otonomi bukanlah kondisi awal dari pembelajaran, melainkan hasil dari proses pedagogis yang terstruktur dan progresif.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan investigasi integratif longitudinal, memperluas penelitian ke berbagai konteks budaya dan pendidikan yang beragam, mengembangkan pengukuran otonomi yang lebih komprehensif dan multidimensional, melakukan eksplorasi eksperimental terhadap scaffolding yang diadaptasi secara digital, serta menyelidiki bagaimana keyakinan dan kompetensi guru dalam merancang scaffolding mempengaruhi pengembangan berkelanjutan dari otonomi peserta didik.

  1. University Actors Responding to the National Quality Assurance Regime for Higher Education in Malawi:... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/hequ.12577University Actors Responding to the National Quality Assurance Regime for Higher Education in Malawi onlinelibrary wiley doi 10 1111 hequ 12577
  2. Scaffolding student–coaches’ instructional leadership toward student-centred peer interactions... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1356336X16687303Scaffolding studentAecoachesAo instructional leadership toward student centred peer interactions journals sagepub doi 10 1177 1356336X16687303
Read online
File size1.42 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test