CAHAYA ICCAHAYA IC

Integrated Science Education JournalIntegrated Science Education Journal

Tujuan penelitian ini adalah untuk memajukan pendidikan sains dengan mengintegrasikan Model Gaya Berpikir Gregorc ke dalam pembelajaran berdiferensiasi, sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan kognitif yang beragam dari siswa serta meningkatkan kinerja akademik dan hasil belajar mereka dalam pendidikan sains. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen yang dilakukan di MTs Al-Khairaat Bora, melibatkan 70 siswa (36 laki-laki dan 34 perempuan). Gaya berpikir diidentifikasi menggunakan Inventaris Gaya Berpikir Gregorc. Modul pembelajaran berdiferensiasi dikembangkan dan diimplementasikan, didukung oleh asesmen pra-tes dan pasca-tes, observasi kelas, serta survei umpan balik yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini mengkaji distribusi gaya kognitif di antara 70 siswa, dengan hasil bahwa Gaya Abstrak Acak (30,22%) dan Konkret Acak (28,30%) merupakan yang paling dominan, diikuti oleh Abstrak Sekuensial (16,48%) dan Konkret Sekuensial (11,54%). Pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya kognitif tersebut menghasilkan peningkatan skor pasca-tes pada kelompok eksperimen (dari 65 menjadi 85), melampaui kelompok kontrol (dari 64 menjadi 70). Studi ini mengintegrasikan Model Gaya Berpikir Gregorc dengan pembelajaran berdiferensiasi, menawarkan pendekatan baru dalam menyesuaikan pendidikan sains. Dengan mengidentifikasi gaya berpikir siswa, pendekatan ini meningkatkan keterlibatan dan pemahaman, serta menyelaraskan metode pengajaran dengan preferensi kognitif. Studi ini berkontribusi terhadap peningkatan praktik pendidikan dengan mendorong hasil belajar yang lebih baik bagi kelompok siswa yang beragam.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis Model Gaya Berpikir Gregorc terbukti efektif dalam memenuhi kebutuhan kognitif yang beragam dari siswa dalam pendidikan sains.Identifikasi gaya berpikir dominan, yaitu Abstrak Acak (30,22%) dan Konkret Acak (28,30%), memungkinkan pengembangan aktivitas pembelajaran yang disesuaikan dan secara signifikan meningkatkan kinerja akademik siswa, sebagaimana terlihat dari peningkatan skor pasca-tes sebesar 20 poin pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.Integrasi modul berbasis gaya berpikir memberikan pengalaman belajar yang personal dan bermakna sesuai dengan preferensi kognitif siswa, serta mendorong lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan berpusat pada siswa.

Pertama, perlu dikaji lebih lanjut bagaimana pendekatan berbasis gaya berpikir ini dapat diterapkan dalam mata pelajaran selain sains, seperti matematika atau bahasa, untuk melihat apakah efektivitasnya konsisten di berbagai disiplin ilmu. Kedua, penting untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari pembelajaran berdiferensiasi terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kreativitas, agar dapat dipahami apakah pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil tes, tetapi juga mengembangkan kompetensi inti abad ke-21. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang integrasi model ini dengan platform pembelajaran digital adaptif, untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat memperluas personalisasi pembelajaran secara lebih efisien dan menjangkau lebih banyak siswa di berbagai konteks pendidikan. Ide-ide ini saling melengkapi dengan saran dalam penelitian asli dan membuka jalan untuk pengembangan pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan. Penelitian lanjutan sebaiknya tidak hanya menguji replikasi model, tetapi juga mengevaluasi kemampuannya menyesuaikan diri dengan kurikulum merdeka dan keberagaman konteks sekolah di Indonesia. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dikaji bukan hanya dari sisi efektivitas kognitif, tetapi juga dari aspek keterlaksanaan, aksesibilitas, dan dampaknya terhadap motivasi belajar jangka panjang. Selain itu, perlu diteliti peran guru dalam mengidentifikasi dan merancang aktivitas berdasarkan gaya berpikir, termasuk pelatihan dan dukungan profesional yang diperlukan. Pertanyaan penting lainnya adalah bagaimana siswa dengan kombinasi gaya berpikir menanggapi pembelajaran yang terlalu terstruktur pada satu gaya tertentu. Akhirnya, studi lintas jenjang dapat mengungkap evolusi preferensi gaya berpikir dari jenjang dasar ke menengah. Semua arah penelitian ini bertujuan untuk memperdalam implementasi model berdiferensiasi agar lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan yang dinamis.

  1. The Effects of Standardized Tests on Incorporating 21st Century Skills in Science Classrooms | Integrated... doi.org/10.37251/isej.v4i2.324The Effects of Standardized Tests on Incorporating 21st Century Skills in Science Classrooms Integrated doi 10 37251 isej v4i2 324
  2. Cognitive and Child Language Development and Involvement in Learning | Journal of Insan Mulia Education.... doi.org/10.59923/joinme.v1i2.39Cognitive and Child Language Development and Involvement in Learning Journal of Insan Mulia Education doi 10 59923 joinme v1i2 39
  3. Integrating Thinking Styles into Differentiated Instruction: Enhancing Learning Outcomes in Science Education... doi.org/10.37251/isej.v6i1.1328Integrating Thinking Styles into Differentiated Instruction Enhancing Learning Outcomes in Science Education doi 10 37251 isej v6i1 1328
  4. DIFFERENCES IN FORMATIVE ASSESSMENT RESULTS OF BASIC PHYSICS 2 STUDENTS IN OFFLINE AND ONLINE LECTURES... online-journal.unja.ac.id/EDP/article/view/36830DIFFERENCES IN FORMATIVE ASSESSMENT RESULTS OF BASIC PHYSICS 2 STUDENTS IN OFFLINE AND ONLINE LECTURES online journal unja ac EDP article view 36830
Read online
File size271.45 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test