STIQ AMUNTAISTIQ AMUNTAI

Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan HaditsAl-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits

Pendidikan toleransi adalah fondasi penting untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat yang majemuk. Namun, laporan survei SETARA Institute (2023) mengungkap bahwa meskipun 70,2% siswa SMA memiliki sikap toleran, terdapat 24,2% yang masuk kategori intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% berpotensi terpapar radikalisme. Selain itu, 33% siswa mendukung tindakan membela agama hingga mati, dan 56,3% menyetujui syariat Islam sebagai landasan negara. Fakta ini menunjukkan adanya ancaman nyata terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman. Islam, melalui Al‑Quran, memberikan panduan komprehensif mengenai toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial. Artikel ini mengkaji konsep pendidikan toleransi dalam Al‑Quran melalui analisis ayat‑ayat Al‑Hujurat ayat 13, Al‑Baqarah ayat 256, Surah Al‑Kafirun, dan Al‑Maidah ayat 8. Fokus utamanya adalah implementasi nilai‑nilai tersebut dalam Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat, sebagai strategi pendidikan holistik. Dengan metode studi literatur dan pendekatan tafsir tematik, kajian ini menunjukkan bahwa sinergi Tri Pusat Pendidikan berbasis nilai Qurani dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi ancaman intoleransi serta membangun generasi yang inklusif, berkeadaban, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

Pendidikan toleransi dalam perspektif Al‑Quran mengajarkan bahwa perbedaan agama dan keyakinan adalah realitas yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia.Al‑Quran memberikan pedoman penting tentang hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan menjaga keadilan, sebagaimana tercermin dalam ayat‑ayat Al‑Hujurat, Al‑Baqarah, Al‑Kafirun, dan Al‑Maidah.Nilai‑nilai ini menawarkan solusi relevan untuk membangun masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.Implementasi pendidikan toleransi membutuhkan pendekatan sistematis melalui Tri Pusat Pendidikan.Keluarga membangun fondasi toleransi sejak dini melalui pembiasaan dan keteladanan.Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, dapat mengintegrasikan nilai‑nilai Qurani tentang toleransi ke dalam kurikulum dan menciptakan lingkungan yang mendukung penghargaan terhadap perbedaan.Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat nilai‑nilai ini melalui kegiatan sosial dan program yang mempromosikan keharmonisan.Melalui sinergi ketiga pusat pendidikan, pendidikan toleransi berbasis Al‑Quran dapat menjadi solusi strategis untuk menciptakan generasi yang tidak hanya memahami nilai‑nilai keberagaman, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari‑hari.

Dalam menanggapi permasalahan intoleransi yang masih kerap muncul di kalangan pelajar, penelitian selanjutnya perlu menggali bagaimana integrasi nilai-nilai Al‑Quran dapat secara spesifik mempengaruhi sikap toleran dalam aktivitas sekolah, misalnya melalui percabangan studi tentang kebijakan kurikulum berbasis nilai Qurani dan implementasinya di kelas. Selain itu, penting untuk mengevaluasi efektivitas program dialog lintas agama yang dijalankan dengan melibatkan keluarga sebagai peserta aktif, sehingga dapat diidentifikasi apakah pendekatan tri pusat tersebut mampu menurunkan tingkat intoleransi di tingkat komunitas. Akhirnya, studi komparatif mengenai model pembelajaran daring dan tatap muka yang menanamkan nilai toleransi berbasis Quran dapat memperluas pemahaman tentang adaptasi pendidikan toleransi dalam era digital, memberikan gambaran tentang metode terbaik untuk menjangkau generasi muda yang semakin terhubung secara online.

  1. Tolerance in Multicultural Education: A Theoretical Concept | Sahal | International Journal of Multicultural... doi.org/10.18415/ijmmu.v5i4.212Tolerance in Multicultural Education A Theoretical Concept Sahal International Journal of Multicultural doi 10 18415 ijmmu v5i4 212
Read online
File size344.09 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test