UNBITAGOUNBITAGO

Jurnal Promosi Komunikasi dan Kesehatan (J-SIKOMKES)Jurnal Promosi Komunikasi dan Kesehatan (J-SIKOMKES)

Donor darah merupakan kegiatan kesehatan masyarakat yang sangat bergantung pada partisipasi sukarela individu. Keberhasilan kegiatan donor darah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi kesehatan dalam membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran komunikasi kesehatan dalam membentuk partisipasi donor darah dengan menyoroti pemahaman informasi, empati sosial, serta hambatan berupa misinformasi dan ketakutan terhadap proses donor darah. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui pengumpulan data kuesioner dan wawancara pada responden di lingkungan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memahami informasi dasar kegiatan donor darah, seperti waktu, lokasi, dan ajakan partisipasi. Namun, masih ditemukan kesenjangan pemahaman terkait prosedur donor darah dan manfaat ilmiahnya bagi pendonor. Responden yang mendonorkan darah umumnya didorong oleh empati sosial dan nilai solidaritas kemanusiaan, sedangkan responden yang tidak mendonor dipengaruhi oleh ketakutan, misinformasi, persepsi risiko, dan kondisi fisik. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan yang bersifat umum dan persuasif belum cukup untuk mendorong partisipasi optimal. Diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih komprehensif melalui edukasi prosedural, klarifikasi ilmiah, penguatan empati sosial, serta peningkatan literasi kesehatan agar partisipasi donor darah meningkat secara berkelanjutan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi donor darah tidak semata-mata dipengaruhi oleh ketersediaan informasi atau ajakan normatif, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor kognitif, afektif, dan sosial yang dimediasi oleh kualitas komunikasi kesehatan.Temuan menunjukkan bahwa pemahaman yang terbatas mengenai prosedur donor darah, manfaat ilmiah bagi pendonor, serta persepsi risiko yang tidak proporsional menjadi hambatan utama bagi individu yang belum pernah mendonor.Kondisi ini diperburuk oleh keberadaan misinformasi dan kekosongan pengetahuan yang membentuk ketakutan, meskipun tidak selalu didasarkan pada pengalaman langsung.Di sisi lain, empati sosial dan nilai altruistik terbukti berperan signifikan dalam mendorong keputusan untuk mendonorkan darah.Responden yang menjadi pendonor umumnya memiliki orientasi prososial yang kuat, ditandai dengan kepedulian terhadap sesama dan kesadaran akan dampak sosial dari donor darah.Faktor ini diperkuat oleh tingkat kepercayaan yang baik terhadap institusi penyelenggara dan tenaga kesehatan, yang berfungsi sebagai enabling factor dalam proses komunikasi kesehatan.Kepercayaan tersebut memungkinkan pesan kesehatan diterima secara lebih terbuka dan mengurangi resistensi psikologis terhadap prosedur medis.Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas komunikasi kesehatan dalam konteks donor darah tidak hanya bergantung pada intensitas pesan persuasif, tetapi pada kedalaman, kejelasan, dan kredibilitas informasi yang disampaikan.Komunikasi kesehatan yang mampu mengintegrasikan aspek literasi kesehatan, klarifikasi prosedural, penguatan empati sosial, serta pengelolaan persepsi risiko secara rasional berpotensi meningkatkan niat dan perilaku donor darah secara berkelanjutan, khususnya di lingkungan kampus dan komunitas akademik.

Untuk meningkatkan partisipasi donor darah secara berkelanjutan, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih komprehensif dan berbasis kebutuhan audiens. Informasi yang disampaikan harus memuat penjelasan prosedural yang jelas, transparan, dan berbasis bukti ilmiah mengenai tahapan donor, standar keamanan, serta manfaat kesehatan bagi pendonor. Selain itu, pesan komunikasi kesehatan perlu dirancang dengan mengintegrasikan dimensi afektif dan sosial, khususnya melalui penekanan pada nilai empati, solidaritas, dan dampak kemanusiaan dari donor darah. Narasi berbasis pengalaman positif pendonor, testimoni tenaga kesehatan, serta visualisasi dampak sosial donor darah dapat digunakan untuk memperkuat keterlibatan emosional audiens tanpa mengabaikan akurasi ilmiah. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi peran media digital dan media sosial sebagai saluran komunikasi kesehatan, mengingat tingginya potensi penyebaran misinformasi sekaligus peluang edukasi di ruang digital.

  1. ANALISIS DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN MINAT DONOR DARAH PADA MASYARAKAT KELURAHAN TAMPARANG KEKE | Jurnal... journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/view/42429ANALISIS DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN MINAT DONOR DARAH PADA MASYARAKAT KELURAHAN TAMPARANG KEKE Jurnal journal universitaspahlawan ac index php jkt article view 42429
  2. «I don’t donate blood». (Mis)beliefs, false information and prejudices about altruistic... revistas.unav.edu/index.php/communication-and-society/article/view/51431AI donAot donate bloodA Mis beliefs false information and prejudices about altruistic revistas unav edu index php communication and society article view 51431
  3. Tingkat Komunikasi Kesehatan terhadap Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan pada Kegiatan Rekruitmen Pendonor... doi.org/10.56338/mppki.v6i3.2986Tingkat Komunikasi Kesehatan terhadap Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan pada Kegiatan Rekruitmen Pendonor doi 10 56338 mppki v6i3 2986
  4. Penguatan Modal Sosial dan Ekonomi melalui Aksi Donor Darah di STIE Fest 2025 | Health Community Service.... jurnal.itscience.org/index.php/hcs/article/view/5782Penguatan Modal Sosial dan Ekonomi melalui Aksi Donor Darah di STIE Fest 2025 Health Community Service jurnal itscience index php hcs article view 5782
Read online
File size406.52 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test