UINSUNAUINSUNA

Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial AgamaAl Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama

Al-Quran sebagai bayyinah; pembeda antara yang hak dengan bathil, baik-buruk, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan dalam surat al-Imran QS. 3: 7 tentang ayat-ayat yang dapat dipahami dengan segera dinamakan dengan ayat muhkamat sebagai pokok-pokok isi al-Quran (Ummul al-Kitab) dan mutasyabihat ayat yang samar-samar pemahamannya. Untuk memahami ayat ini dibutuhkan ilmu yang mendalam tentang bahasa Arab dan uslub-uslubnya serta teori perubahan sosial yang memadai. Masyarakat dan tatanannya telah banyak berubah memungkinkan orang mencari padanannya dalam al-quran dengan mentawil ayat-ayat mutasyabihat. Perubahan terjadi karena efek dari industrialisasi, menjadikan masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan. Dalam konteksnya, manusia dan peranannya menjadi samar-samar (mutasyabihat). Karena itu ayat mutasyabihat menjadi penting dikaji dalam perpektif sosiologis.

Ayat muhkam dan mutasyabihat dalam Al-Quran memiliki peran penting dalam memahami petunjuk ilahi sesuai konteks zaman.Perubahan sosial, terutama akibat industrialisasi, menyebabkan masyarakat modern menjadi abstrak dan membutuhkan penafsiran ulang terhadap ayat-ayat yang samar.Kajian sosiologis diperlukan untuk memahami ayat mutasyabihat dalam kerangka perubahan struktur sosial dan budaya kontemporer.

Pertama, perlu diteliti bagaimana struktur sosial modern seperti kapitalisme digital memengaruhi penafsiran ayat-ayat mutasyabihat terkait keadilan ekonomi, mengingat bentuk kekayaan dan kemiskinan telah berubah drastis dari konteks agraris ke finansial global. Kedua, penelitian lanjutan bisa menguji bagaimana generasi muda di tengah arus informasi bebas menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat tanpa bimbingan ulama, dan apakah ini menimbulkan fragmentasi makna keagamaan. Ketiga, sebaiknya dikaji penerapan pendekatan sosiologis dalam menyelesaikan konflik hukum fiqih kontemporer seperti zakat profesi atau hukum digital crime, dengan melihat ayat muhkam dan mutasyabihat secara integratif dengan realitas sosial, bukan hanya berdasarkan analogi klasik. Penelitian-penelitian ini penting untuk memastikan Al-Quran tetap relevan sebagai petunjuk hidup di tengah kompleksitas zaman. Pendekatan sosiologis harus dikembangkan lebih dalam agar tidak hanya memahami teks, tetapi juga konteks yang terus berubah. Dengan demikian, tafsir Al-Quran bisa menjadi dinamis, tidak statis, namun tetap menjaga otoritas teks dan menjauhi hawa nafsu. Penelitian masa depan perlu melibatkan multidisiplin antara ulama, sosiolog, dan praktisi hukum. Fokusnya pada bagaimana ayat-ayat samar bisa menjadi jembatan antara nilai universal dan realitas lokal. Ini akan mencegah ekstremisme tafsir dan memperkuat moderasi beragama. Penting pula mengembangkan metodologi tafsir yang sistematis berbasis data sosial empiris.

Read online
File size326.89 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test