UIADUIAD

Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan PendidikanAl-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan

Ketika manusia berada dalam kebimbangan ilmiah akibat kehilangan bimbingan, sekelompok manusia Yunani berusaha mencari kebenaran dengan menggunakan nalar kritis mereka terhadap realitas alamiyah dan metafisis. Kelompok ini dikenal sebagai filsuf, yaitu pencari atau pecinta hikmah. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa menuju pengetahuan ilmiah melibatkan metode-metode tertentu, yaitu: (a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, dan (d) Metode Ilmiah. Di antara keempat metode tersebut, metode ilmiah dianggap paling komprehensif karena dapat menyatukan seluruh metode dalam kerangka operasional sistematik dengan ciri-ciri: logis, empirik, kejelasan teori, operasional dan spesifik, hipotetik, verifikatif, sistematis, memperhatikan validitas dan reliabilitas, objektif, skeptis, kritis, analitik, serta kontemplatif.

Ketika manusia berada dalam kebimbangan ilmiah akibat kehilangan bimbingan, sekelompok manusia Yunani berusaha mencari kebenaran dengan menggunakan nalar kritis mereka terhadap realitas alamiyah dan metafisis.Kelompok ini dikenal sebagai filsuf, yaitu pencari atau pecinta hikmah.Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa menuju pengetahuan ilmiah melibatkan metode-metode tertentu, yaitu.(a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, dan (d) Metode Ilmiah.Di antara keempat metode tersebut, metode ilmiah dianggap paling komprehensif karena dapat menyatukan seluruh metode dalam kerangka operasional sistematik dengan ciri-ciri.logis, empirik, kejelasan teori, operasional dan spesifik, hipotetik, verifikatif, sistematis, memperhatikan validitas dan reliabilitas, objektif, skeptis, kritis, analitik, serta kontemplatif.Metode ilmiah merupakan pendekatan paling komprehensif dalam memperoleh pengetahuan ilmiah karena mengintegrasikan unsur-unsur empiris, rasional, dan kontemplatif dalam sebuah kerangka operasional sistematik.Penelitian lanjutan dapat menguji bagaimana integrasi metode ilmiah—yang menggabungkan empiris, rasional, dan kontemplatif—dapat diterapkan dalam konteks pendidikan agama Islam di Indonesia, khususnya dalam mengajarkan konsep kebenaran kepada siswa yang memiliki latar belakang kepercayaan beragam.Apakah pendekatan ini mampu meningkatkan pemahaman kritis siswa terhadap fenomena ilmiah sekaligus mempertahankan nilai-nilai spiritual tanpa mengabaikan sifat objektif ilmu.Selain itu, perlu diteliti bagaimana peran intuisi atau kontemplasi spiritual dalam proses ilmiah dapat diukur atau diakui secara akademik tanpa mengorbankan validitas empiris, misalnya melalui studi kasus pada ilmuwan Muslim yang mengintegrasikan refleksi spiritual dalam penelitian ilmiah mereka.Terakhir, apakah kurikulum pendidikan tinggi di institusi keagamaan dapat dirancang ulang untuk memasukkan pelatihan metodologis berbasis keempat metode pengetahuan ini sebagai satu kesatuan, sehingga lulusannya tidak hanya ahli dalam teks agama, tetapi juga mampu berpikir ilmiah secara holistik dan kritis dalam menghadapi tantangan kontemporer.Keseluruhan metode pengetahuan—empiris, rasional, kontemplatif—harus dijalankan dengan prinsip logis, verifikatif, dan kritis untuk memastikan kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis dan epistemologis.Ketika manusia berada dalam kebimbangan ilmiah akibat kehilangan bimbingan, sekelompok manusia Yunani berusaha mencari kebenaran dengan menggunakan nalar kritis mereka terhadap realitas alamiyah dan metafisis.Kelompok ini dikenal sebagai filsuf, yaitu pencari atau pecinta hikmah.Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa menuju pengetahuan ilmiah melibatkan metode-metode tertentu, yaitu.(a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, dan (d) Metode Ilmiah.Di antara keempat metode tersebut, metode ilmiah dianggap paling komprehensif karena dapat menyatukan seluruh metode dalam kerangka operasional sistematik dengan ciri-ciri.logis, empirik, kejelasan teori, operasional dan spesifik, hipotetik, verifikatif, sistematis, memperhatikan validitas dan reliabilitas, objektif, skeptis, kritis, analitik, serta kontemplatif.

Penelitian lanjutan dapat menguji bagaimana integrasi metode ilmiah—yang menggabungkan empiris, rasional, dan kontemplatif—dapat diterapkan dalam konteks pendidikan agama Islam di Indonesia, khususnya dalam mengajarkan konsep kebenaran kepada siswa yang memiliki latar belakang kepercayaan beragam. Apakah pendekatan ini mampu meningkatkan pemahaman kritis siswa terhadap fenomena ilmiah sekaligus mempertahankan nilai-nilai spiritual tanpa mengabaikan sifat objektif ilmu? Selain itu, perlu diteliti bagaimana peran intuisi atau kontemplasi spiritual dalam proses ilmiah dapat diukur atau diakui secara akademik tanpa mengorbankan validitas empiris, misalnya melalui studi kasus pada ilmuwan Muslim yang mengintegrasikan refleksi spiritual dalam penelitian ilmiah mereka. Terakhir, apakah kurikulum pendidikan tinggi di institusi keagamaan dapat dirancang ulang untuk memasukkan pelatihan metodologis berbasis keempat metode pengetahuan ini sebagai satu kesatuan, sehingga lulusannya tidak hanya ahli dalam teks agama, tetapi juga mampu berpikir ilmiah secara holistik dan kritis dalam menghadapi tantangan kontemporer?.

  1. #ahmad dahlan#ahmad dahlan
  2. #partai politik#partai politik
Read online
File size884.72 KB
Pages15
Short Linkhttps://juris.id/p-19u
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test