UBUB

Journal of Entrepreneurship, Management and IndustryJournal of Entrepreneurship, Management and Industry

Lee Kuan Yew merupakan Perdana Menteri Singapura pada periode 1953-1990. Dalam masa kepemimpinannya, Lee menuai pro-kontra gaya kepemimpinan yang otoriter sekaligus demokratis, yang kemudian disebut sebagai mobokrasi atau hybrid regime atau Demokrasi ala Asia yaitu membatasi kebebasan demokrasi dengan tujuan untuk dapat memelihara tradisi komunitas di Singapura. Beberapa pakar menggambarkan Lee sebagai pemimpin yang karismatik, diktator, dan sekaligus pemimpin transformasional, karena mampu memotivasi dan membawa kemajuan besar pada semua sektor. Model kepemimpinan Lee telah menjadi alat pemelihara proses politik dan ekonomi Singapura yang berkinerja tinggi dan stabil, dalam waktu yang bersamaan. Lee berhasil mengubah Singapura menjadi negara maju dan negara metropolitan ketiga di dunia dengan waktu yang relatif singkat (tiga dekade). The Heritage Foundation dalam 2013 Ten Economic Freedom menempatkan Singapura pada peringkat kedua dunia dengan skor rata-rata 88.0 sebagai negara yang memiliki kepatuhan hukum, pemerintahan yang terbatas, efisiensi, dan pasar terbuka. Selain itu, Singapura berhasil memperoleh GDP US$14.000, serta negara yang bersih dari korupsi.

Gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew menggabungkan unsur otoriter dan demokratis, yang dikenal sebagai mobokrasi atau demokrasi ala Asia.Pendekatan ini terbukti efektif dalam membawa Singapura menuju kemajuan ekonomi dan stabilitas politik dalam waktu singkat.Meskipun menuai kritik sebagai otoriter, Lee Kuan Yew juga diakui sebagai pemimpin transformasional yang mampu memotivasi dan memajukan berbagai sektor di Singapura.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew terhadap partisipasi politik dan kebebasan sipil di Singapura. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan dengan negara-negara lain yang menerapkan model demokrasi ala Asia untuk mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan dan kegagalan. Terakhir, penelitian dapat berfokus pada bagaimana nilai-nilai budaya dan sosial Singapura memengaruhi efektivitas gaya kepemimpinan Lee Kuan Yew, serta bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diadaptasi dalam konteks kepemimpinan di negara lain. Penelitian-penelitian ini penting untuk memahami kompleksitas kepemimpinan transformasional dalam konteks budaya dan politik yang berbeda, serta untuk memberikan wawasan yang berharga bagi para pemimpin di masa depan dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Read online
File size272.93 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test