KOMPETIFKOMPETIF

Jurnal Daya SaingJurnal Daya Saing

Penelitian ini menyelidiki perubahan kondisi kerja dengan meningkatnya kompleksitas tugas, tekanan waktu, dan tuntutan organisasi yang dapat memicu stres kerja, khususnya di lembaga kepolisian. Tujuan utamanya adalah menganalisis efek tuntutan tugas terhadap respon stres, dengan otonomi kerja sebagai variabel mediasi, pada personel Polri tingkat junior di Riau. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan desain survei pada 204 responden, dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM‑PLS). Hasilnya menunjukkan bahwa tuntutan tugas berpengaruh positif dan signifikan terhadap respon stres secara langsung maupun tidak langsung melalui otonomi kerja. Otonomi kerja juga terbukti berperan sebagai mediator yang kuat, memoderasi dampak tuntutan tugas terhadap stres. Model penelitian memiliki daya jelaskan yang kuat, dengan R‑square 0,619 untuk respon stres. Temuan ini memperkuat penerapan Model Job Demands–Resources (JD‑R) dalam konteks kepolisian dan menekankan pentingnya penyusunan beban tugas yang realistis serta pemberian otonomi kerja yang proporsional untuk menurunkan dampak stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan psikologis personel.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tuntutan tugas berpengaruh positif dan signifikan terhadap respon stres, sedangkan otonomi kerja juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap respon stres dan berfungsi sebagai faktor mediasi.Peningkatan tuntutan tugas menuntut personel mendapatkan ruang kontrol lebih besar, sedangkan otonomi kerja membantu mengurangi dampak stres.Oleh karena itu, manajemen kepolisian perlu menyeimbangkan beban tugas dengan pemberian otonomi kerja yang cukup untuk meminimalkan stres kerja.

Diperlukan penelitian lintas‑sektor yang membandingkan efektivitas strategi pemberian otonomi kerja di lingkungan kepolisian dan lembaga publik lainnya, sehingga dapat dipahami konteks perkembangannya dan bagaimana faktor-faktor budaya organisasi memengaruhi hasilnya. Selanjutnya, perlu dilakukan studi longitudinal yang mengkaji dampak jangka panjang otonomi kerja terhadap retensi personel dan kinerja operasional, serta menilai apakah intervensi berbasis teknologi dapat meningkatkan fleksibilitas dan kontrol pekerjaan. Akhirnya, penelitian heterogenitas individu, seperti jenis kelamin, usia, dan pengalaman kerja, harus dievaluasi untuk mengidentifikasi sub‑kelompok yang paling rentan terhadap stres dan paling mendapat manfaat dari peningkatan otonomi, sehingga kebijakan manajemen dapat difokuskan secara lebih tepat sasaran dan mengoptimalkan kesejahteraan psikologis serta produktivitas personel kepolisian.

  1. The Role of Job Demands and Job Resources in the Development of Emotional Exhaustion, Depression, and... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1098611117743957The Role of Job Demands and Job Resources in the Development of Emotional Exhaustion Depression and journals sagepub doi 10 1177 1098611117743957
  2. Physiological Stress Responses Associated with High-Risk Occupational Duties | IntechOpen. stress responses... doi.org/10.5772/intechopen.93943Physiological Stress Responses Associated with High Risk Occupational Duties IntechOpen stress responses doi 10 5772 intechopen 93943
  3. Autonomy Constrained: The Dynamic Interplay Among Job Autonomy, Work Engagement, and Innovative Behavior... doi.org/10.3390/admsci15030097Autonomy Constrained The Dynamic Interplay Among Job Autonomy Work Engagement and Innovative Behavior doi 10 3390 admsci15030097
Read online
File size171 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test