ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Wolio bahasa digunakan dalam lingkup masyarakat Buton sebagai sarana komunikasi. Bahasa ini tersebar di seluruh lapisan masyarakat Wolio. Wolio bahasa memiliki karakteristik berbeda dari bahasa-bahasa di Sulawesi Tenggara. Perbedaan ini ditemukan dalam sistem penggunaan aksara yang mengadopsi aksara Jawi-Melayu, kemudian menyesuaikan dengan tutur bahasa setempat (Niampe, 2012). Wolio aksara sangat penting bagi masyarakat Buton karena memberikan pemahaman literal terhadap bahasa setempat. Menurut Rosdin (2015): Aksara merupakan dasar dalam menterjemahkan poin-poin ajaran Islam secara tekstual, serta memudahkan orang dalam menafsirkan dan memahami teks Kabanti (puisi Islam) yang tertulis. Wolio aksara perlu mendapat perhatian dan tidak lagi diabaikan. Hal ini dikonfirmasi oleh Kalsum Kudus (Pekerja Budaya, komunikasi pribadi, 9 Agustus 2022): Penggunaan Wolio aksara di Kota Baubau hampir tidak ada, sedangkan penggunaan bahasanya masih ada. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat Buton terhadap Wolio aksara menyebabkan sistem dan penulisan aksara ini tidak lagi digunakan. Peneliti mencoba mengatasi fenomena di atas dengan memperkenalkan Wolio aksara sebagai upaya menciptakan karya seni tulisan Arab. Penelitian ini bertujuan menghasilkan kreasi kaligrafi Islam dari Wolio aksara, khususnya di Desa Baadia, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Bentuk tulisan Wolio aksara mirip dengan aksara Jawi, hanya dalam Wolio aksara, fonem, vokal, dan simbol konsonan dipisahkan, di mana vokal ditulis menggunakan tanda baca/harakat, (Abas dkk., 1983). Peneliti mengubah Wolio aksara menjadi kaligrafi dekoratif. Transfer Wolio aksara tentu saja sesuai dengan standar kaligrafi. Sirojuddin (2020) mengatakan: Keindahan sejati kaligrafi adalah pesan-pesannya, yang memiliki nilai spiritual. Kreasi tulisan kaligrafi mencerminkan lebih banyak isi makna dan keindahan. Penyelidikan makna terkandung dalam makna tulisan Kabanti (puisi Islam) yang ditulis dalam aksara diperoleh dari naskah buku, seperti Naskah Agama (Bula Malino) dan Teks Hukum (Istiadatul-Al-Dzali).

Berdasarkan hasil penelitian tentang tema Wolio aksara sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan seni kaligrafi Islam.Metode utama yang digunakan dalam menciptakan seni kaligrafi adalah proses detail yang dimulai dari tahap pra-desain, yang menghasilkan eksplorasi dua konsep, yaitu metafora puisi Wolio aksara yang disampaikan oleh penyair dan landmark Kesultanan Buton termasuk Benteng Istana Buton, yang menjadi semacam panduan bagi orang-orang di sana.Pada tahap desain, peneliti menciptakan desain terpilih (desain alternatif) dari dua ide utama ini.Pada bagian berikutnya, setelah proses eliminasi pemilihan yang menyeluruh, ditentukan 10 desain terpilih, diambil dari pengelompokan desain sebelumnya.Tahap realisasi merumuskan latar belakang konsep penciptaan, yang berfokus pada tahap-tahap secara teratur.Karya yang dihasilkan dalam penciptaan ini adalah pengembangan Wolio aksara, di mana maknanya ditafsirkan dan kemudian diterjemahkan menjadi komposisi antara kaligrafi sebagai fokus utama dan latar belakang, yang mencakup diorama alam, objek, dan hiasan.Tahap presentasi dilakukan di ruang terbuka galeri Riden Baruadi dengan mahasiswa dari Jurusan Seni Rupa dan Desain, penikmat, dan kunjungan dari mahasiswa, staf pendidikan, dan masyarakat sekitar.Dalam agenda pameran, mahasiswa sebagai penikmat memberikan apresiasi dan saran konstruktif, sehingga terjalin interaksi dan komunikasi.Sastra dalam aksara ini dapat diterjemahkan ke berbagai media, termasuk media seni.Perubahan kreatif ini membawa kemajuan dan mengungkapkan keberadaan Wolio aksara, yang penggunaannya telah berkurang selama bertahun-tahun.Kehadiran kreasi yang berasal dari Wolio aksara memicu warisan budaya yang tercermin dalam penciptaan karya kaligrafi.Melihat potensi Wolio aksara, saya merekomendasikan agar pemangku kepentingan dan staf pemerintah, terutama yang mengawasi Museum Kamali Baadia, berkolaborasi dalam menciptakan kaligrafi kontemporer menggunakan Buri Wolio aksara sebagai sumber.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dipertimbangkan beberapa arah studi: Pertama, penelitian tentang potensi pengembangan Wolio aksara sebagai sumber inspirasi dalam berbagai bentuk seni, seperti seni lukis, seni instalasi, atau bahkan seni digital. Bagaimana Wolio aksara dapat diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam media seni kontemporer untuk menciptakan karya-karya inovatif? Kedua, studi komparatif antara Wolio aksara dan aksara-aksara lain di Indonesia, terutama dalam konteks seni kaligrafi. Bagaimana perbedaan dan kesamaan antara Wolio aksara dengan aksara-aksara lain, seperti aksara Jawa atau aksara Batak, dan bagaimana perbedaan ini dapat dieksplorasi dalam seni kaligrafi? Ketiga, penelitian tentang dampak sosial dan budaya dari penciptaan seni kaligrafi Wolio. Bagaimana karya seni kaligrafi ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Wolio aksara dan budaya Buton? Apakah ada pengaruh positif terhadap pelestarian dan pengembangan Wolio aksara di masyarakat?.

  1. A WOLIO SCRIPTURE AS A SOURCE OF INSPIRATION IN THE CREATION OF ISLAMIC CALLIGRAPHY ART | Lekesan: Interdisciplinary... doi.org/10.31091/lksn.v7i2.2780A WOLIO SCRIPTURE AS A SOURCE OF INSPIRATION IN THE CREATION OF ISLAMIC CALLIGRAPHY ART Lekesan Interdisciplinary doi 10 31091 lksn v7i2 2780
Read online
File size660.07 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test