UTUUTU

International Conference of Public HealthInternational Conference of Public Health

Pada Februari 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali menerima laporan tentang wabah chikungunya di wilayah Kabupaten Boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran analisis epidemiologi wabah chikungunya di Kabupaten Boyolali pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif berdasarkan hasil Investigasi Epidemiologi untuk memahami dinamika penyebaran penyakit dan upaya pengendaliannya. Wabah chikungunya di Desa Winong, Kecamatan Boyolali, dari 1 Februari 2024 hingga 5 Maret 2024 mencatat 43 kasus, tersebar di RT 2/RW 17 dengan 28 kasus (65,1%) dan RT 3/RW 16 dengan 15 kasus (34,9%). Berdasarkan data demografi, ditemukan bahwa perempuan lebih banyak terkena (53,5%), dengan kelompok usia 56-65 tahun (20,9%). Gejala yang dialami adalah nyeri sendi (100%) disertai nyeri otot (95,4%), sakit kepala (95,4%), demam (93,0%), mual (83,7%), muntah (67,4%), pembesaran kelenjar getah bening (51,2%), ruam (16,3%), menggigil (16,3%), gatal pada ruam (11,6%), dan kemerahan konjungtiva (4,7%). Sebanyak 9 kasus (20,9%) yang menjalani Rapid Diagnostic Test menunjukkan hasil positif. Dari kasus yang ditemukan, hanya 1 kasus (2,3%) yang telah ditangani di Puskesmas. Angka bebas jentik di Desa Winong masih di bawah 95%, dan terdapat 28 rumah (65,1%) di antara penderita yang ditemukan jentik nyamuk. Oleh karena itu, perlu penguatan program 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk), penggunaan ikan pemakan jentik, larvasida di penampungan air, dan pengasapan (fogging). Pendekatan terpadu dalam penanganan chikungunya sangat penting, termasuk peningkatan kesadaran masyarakat dan implementasi berkelanjutan dari langkah-langkah pencegahan untuk meningkatkan angka bebas jentik dan mengurangi risiko wabah di masa depan.

Investigasi epidemiologi wabah chikungunya di Desa Winong, Boyolali (Februari-Maret 2024), mengidentifikasi 43 kasus yang terkonsentrasi di RT 2/RW 17 dan RT 3/RW 16, dengan insiden tertinggi pada 24 Februari dan 4 Maret.Wabah ini cenderung menyerang perempuan dan kelompok usia di atas 45 tahun, dengan gejala dominan nyeri sendi dan demam, namun sebagian besar pasien tidak mencari penanganan medis, mencerminkan rendahnya kesadaran publik.Oleh karena itu, diperlukan intervensi komprehensif yang melibatkan pengendalian vektor yang lebih efektif, peningkatan edukasi kesehatan, diagnosis yang lebih akurat, dan perbaikan akses terhadap layanan medis untuk mengurangi penyebaran dan dampak chikungunya.

Untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan respons terhadap wabah chikungunya, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dieksplorasi. Pertama, mengingat tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap pentingnya penanganan medis dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, sebuah studi komprehensif diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai intervensi edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan konteks lokal. Penelitian ini dapat menguji dampak program edukasi terhadap perubahan perilaku pencarian pengobatan serta penggunaan alat diagnostik cepat di tingkat komunitas. Selain itu, mengingat angka bebas jentik yang belum mencapai target aman dan dominasi nyamuk Aedes aegypti, penting untuk melakukan studi efikasi jangka panjang terhadap kombinasi strategi pengendalian vektor yang ada, seperti 3M Plus, penggunaan ikan pemakan jentik, dan larvasida. Penelitian ini harus mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan partisipasi masyarakat dan adaptasi metode pengendalian vektor dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan dan iklim. Terakhir, untuk mendapatkan gambaran yang lebih holistik, sebuah penelitian sosio-ekonomi dapat menyelidiki hambatan struktural dan perilaku yang mencegah individu mencari pengobatan, serta mengukur beban ekonomi yang ditimbulkan oleh wabah chikungunya pada rumah tangga dan sistem kesehatan lokal. Dengan demikian, rekomendasi kebijakan di masa depan dapat lebih terinformasi dan efektif dalam mencegah serta mengelola wabah serupa.

  1. Pengendalian Biologi dengan Daya Predasi Berbagai Jenis Ikan terhadap Larva Aedes Aegypti di Wilayah... jurnal.poltekkespadang.ac.id/ojs/index.php/jsm/article/view/145Pengendalian Biologi dengan Daya Predasi Berbagai Jenis Ikan terhadap Larva Aedes Aegypti di Wilayah jurnal poltekkespadang ac ojs index php jsm article view 145
  2. Journal | Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. journal universitas nahdlatul ulama surabaya quick jump... doi.org/10.33086/mhsj.v7i01.3639Journal Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya journal universitas nahdlatul ulama surabaya quick jump doi 10 33086 mhsj v7i01 3639
  3. Clinical and Laboratory Characteristics of an Acute Chikungunya Outbreak in Bangladesh in 2017 in: The... doi.org/10.4269/ajtmh.18-0636Clinical and Laboratory Characteristics of an Acute Chikungunya Outbreak in Bangladesh in 2017 in The doi 10 4269 ajtmh 18 0636
Read online
File size260.28 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test