ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya visual Asia Tenggara yang digambarkan dalam film animasi Raya and The Last Dragon. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui dokumentasi studi terdahulu mengenai budaya visual dalam animasi Disney Princess, serta observasi langsung terhadap film yang diteliti. Analisis dilakukan menggunakan metode semiotik Roland Barthes atas tanda-tanda visual dalam film, terutama pada tokoh Raya, serta didukung oleh wawancara dengan pakar budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Raya and The Last Dragon menampilkan tanda-tanda visual berupa latar, kostum, dan alat yang merupakan fusi budaya Asia Tenggara. Budaya visual Asia Tenggara terlihat pada karakterisasi, visualisasi tokoh, hingga media promosi film. Namun, visualisasi tersebut bukan representasi yang otentik dan tidak sepenuhnya mencerminkan budaya visual Asia Tenggara secara mendalam.

Film Raya and The Last Dragon menampilkan dunia imajiner dengan visual yang terinspirasi dari berbagai budaya Asia Tenggara, namun representasinya terbatas pada tanda denotatif tanpa kedalaman makna filosofis.Penggabungan berbagai budaya tanpa memperhatikan konteks dan makna lokal berpotensi menciptakan cultural discount, yaitu representasi yang terdistorsi dan eksotik tanpa memberi penghargaan terhadap budaya asal.Meskipun demikian, upaya Disney ini merupakan langkah penting dalam mendekonstruksi dominasi budaya Barat, dan menjadi inspirasi bagi pencipta lokal untuk mengangkat identitas budaya mereka secara lebih autentik dan mendalam.

Pertama, perlu penelitian mendalam tentang representasi filosofi bela diri tradisional Asia Tenggara seperti Pencak Silat dan Arnis dalam media animasi, dengan fokus pada bagaimana nilai spiritual dan etika setiap aliran dapat diintegrasikan ke dalam karakter utama tanpa kehilangan keaslian budaya. Kedua, diperlukan studi tentang perancangan kostum karakter fiksi yang menggabungkan pakaian tradisional dari berbagai negara Asia Tenggara, namun tetap mempertahankan makna simbolik dan konteks sosial budaya masing-masing elemen, bukan sekadar penggabungan estetika semata. Ketiga, perlu dikaji bagaimana media promosi film animasi dapat digunakan untuk menyampaikan nilai budaya secara inklusif dan otentik, misalnya melalui desain poster yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengedukasi penonton tentang latar belakang budaya yang menjadi inspirasi, sehingga penonton memahami konteks budaya, bukan hanya melihat eksotisme semata.

  1. Southeast Asian Visual Culture In The Animated Film “Raya And The Last Dragon” | Lekesan:... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/lekesan/article/view/2089Southeast Asian Visual Culture In The Animated Film AuRaya And The Last DragonAy Lekesan jurnal isi dps ac index php lekesan article view 2089
Read online
File size355.98 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test