YAYASANBHZYAYASANBHZ
I’tiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu KesyariahanI’tiqadiah: Jurnal Hukum dan Ilmu-ilmu KesyariahanArtikel ini menganalisis urgensi penguatan wewenang Mahkamah Konstitusi (MK) dalam menghadapi ancaman legislasi cepat terhadap supremasi konstitusi. Melalui penelitian hukum normatif, studi ini mengkaji kasus-kasus seperti UU Cipta Kerja, UU Ibu Kota Negara (IKN), dan revisi UU Mahkamah Konstitusi. Temuan menunjukkan bahwa legislasi cepat sering mengabaikan prinsip demokrasi, seperti partisipasi publik dan transparansi, sehingga menghasilkan undang-undang yang rentan cacat formil dan materil. MK sebagai penjaga konstitusi menghadapi keterbatasan dalam menguji undang-undang tersebut akibat tekanan politik, minimnya akses dokumen legislasi, dan lemahnya daya paksa putusan. Artikel ini merekomendasikan reformasi hukum, termasuk perluasan ruang lingkup pengujian, peningkatan efektivitas eksekusi putusan MK, serta peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap konstitusional challenges. Penguatan wewenang MK menjadi krusial untuk menjamin kepatuhan konstitusional, melindungi hak dasar warga negara, dan memelihara integritas demokrasi dalam sistem hukum Indonesia.
Fenomena legislasi cepat yang berkembang dalam praktik ketatanegaraan Indonesia belakangan ini telah memunculkan persoalan serius terhadap prinsip-prinsip konstitusionalitas dan demokrasi.Pembentukan undang-undang yang terburu-buru, minim partisipasi publik, dan sering kali mengabaikan prosedur formal telah membuka celah bagi lahirnya produk legislasi yang tidak sejalan dengan semangat dan norma konstitusi.Kasus-kasus seperti UU Cipta Kerja, UU Ibu Kota Negara, dan revisi UU Mahkamah Konstitusi menunjukkan bahwa kecepatan legislasi kerap mengorbankan kualitas substansi dan prosedur hukum.Dalam konteks tersebut, Mahkamah Konstitusi memegang peranan vital sebagai penjaga konstitusi (guardian of the constitution).Namun, kewenangan MK dalam melakukan pengujian undang-undang terbukti masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi substansi pengujian, daya paksa putusan, hingga hambatan aksesibilitas bagi masyarakat.Oleh karena itu, penguatan wewenang MK menjadi suatu kebutuhan yang mendesak agar MK dapat menjalankan fungsinya secara lebih efektif dalam memastikan supremasi konstitusi tetap tegak di tengah derasnya arus legislasi cepat.Upaya penguatan ini dapat dilakukan melalui perluasan ruang lingkup pengujian formil dan materil, pengaturan mekanisme pelaksanaan putusan yang lebih kuat, serta reformasi prosedural untuk membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dalam pengujian konstitusional.Tanpa langkah-langkah penguatan tersebut, risiko pelemahan negara hukum dan demokrasi konstitusional akan terus mengintai sistem ketatanegaraan Indonesia.Supremasi konstitusi tidak akan terwujud apabila Mahkamah Konstitusi tidak dibekali dengan kewenangan dan instrumen yang memadai untuk menghadapi tantangan legislasi cepat di era kontemporer.
Untuk memperkuat wewenang Mahkamah Konstitusi (MK) dalam menghadapi tantangan legislasi cepat, diperlukan reformasi prosedural dan kultural. Pertama, perluasan ruang lingkup pengujian formil dan materil dapat dilakukan dengan mengadopsi nilai-nilai konstitusi sebagai batu uji, seperti prinsip keadilan, perlindungan hak asasi manusia, dan demokrasi deliberatif. Kedua, daya paksa putusan MK dapat diperkuat dengan mengatur sanksi administratif atau pidana terhadap instansi yang mengabaikan putusan MK, serta memastikan mekanisme enforcement yang jelas dalam amendemen UU MK. Ketiga, aksesibilitas masyarakat dalam pengajuan judicial review dapat ditingkatkan melalui penyederhanaan syarat legal standing dan penyediaan pendampingan hukum gratis. Selain itu, perlu dibuka akses publik terhadap dokumen-dokumen legislasi sebagai alat bukti, dan memastikan setiap putusan MK bersifat erga omnes dan diawasi pelaksanaannya oleh lembaga independen. Independensi kelembagaan MK juga harus dijaga dengan menghindari intervensi politik dalam revisi UU MK. Dengan demikian, penguatan wewenang MK dapat memastikan supremasi konstitusi tetap tegak di tengah praktik legislasi yang semakin pragmatis dan cepat.
| File size | 146.73 KB |
| Pages | 16 |
| DMCA | Report |
Related /
UM SURABAYAUM SURABAYA Penelitian ini menggunakan metode jenis metode library research dengan pendekatan komparatif-normatif, dimana peneliti mengumpulkan informasi mengenaiPenelitian ini menggunakan metode jenis metode library research dengan pendekatan komparatif-normatif, dimana peneliti mengumpulkan informasi mengenai
UNTADUNTAD Kebebasan berpendapat dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa di Desa Kayu Agung, meskipun dijamin oleh hukum dan prinsip demokrasi deliberatif,Kebebasan berpendapat dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa di Desa Kayu Agung, meskipun dijamin oleh hukum dan prinsip demokrasi deliberatif,
STIAPANCAMARGAPALUSTIAPANCAMARGAPALU Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, yang meliputi tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data,Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, yang meliputi tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data,
ADPETIKISINDOADPETIKISINDO Penelitian ini menunjukkan bahwa Al‑Quran memuat lima prinsip utama—amanah, musyawarah, keadilan, hak asasi manusia, dan ketaatan kepada pemimpin—yangPenelitian ini menunjukkan bahwa Al‑Quran memuat lima prinsip utama—amanah, musyawarah, keadilan, hak asasi manusia, dan ketaatan kepada pemimpin—yang
PUBLIKASIINDONESIAPUBLIKASIINDONESIA Isu-isu terkait Islam dan demokrasi masih menjadi bahan debat di kalangan intelektual Muslim; sebagian menolak demokrasi dengan Islam karena dianggap bertentangan,Isu-isu terkait Islam dan demokrasi masih menjadi bahan debat di kalangan intelektual Muslim; sebagian menolak demokrasi dengan Islam karena dianggap bertentangan,
UNESUNES sehingga terjadi tumpang tindih dalam pengaturan pemberitaan pers yang dapat memicu konflik di masyarakat. Masih sedikitnya aparat penegak hukum yang memahamisehingga terjadi tumpang tindih dalam pengaturan pemberitaan pers yang dapat memicu konflik di masyarakat. Masih sedikitnya aparat penegak hukum yang memahami
STAINIDAELADABISTAINIDAELADABI Makalah ini mencari paradigma paling relevan dan koheren untuk menginterpretasikan Pancasila. Karenanya makalah ini akan menguji ketiga paradigma relasi/dialektikaMakalah ini mencari paradigma paling relevan dan koheren untuk menginterpretasikan Pancasila. Karenanya makalah ini akan menguji ketiga paradigma relasi/dialektika
STAIBSLLGSTAIBSLLG Namun, pendekatan politik yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai keagamaan seperti penolakan tegas hukum Syariah dan poligami memicu kontroversi dan reaksiNamun, pendekatan politik yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai keagamaan seperti penolakan tegas hukum Syariah dan poligami memicu kontroversi dan reaksi
Useful /
YAYASANBHZYAYASANBHZ Tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak ini membutuhkan penanganan yang sangat tegas dari berbagai pihak dan pihak yang berwenang. Dalam fiqih telahTindakan kriminal yang dilakukan oleh anak ini membutuhkan penanganan yang sangat tegas dari berbagai pihak dan pihak yang berwenang. Dalam fiqih telah
YAYASANBHZYAYASANBHZ Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, yang melibatkan analisis data termasuk kebijakanMetode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, yang melibatkan analisis data termasuk kebijakan
STAINIDAELADABISTAINIDAELADABI Agus Salim mempelopori sistem kaderisasi aktivis gerakan Islam modern dengan menekankan pembangunan motivasi, penggalian potensi, dan kesetaraan antarindividu,Agus Salim mempelopori sistem kaderisasi aktivis gerakan Islam modern dengan menekankan pembangunan motivasi, penggalian potensi, dan kesetaraan antarindividu,
STAINIDAELADABISTAINIDAELADABI Dari sudut pandang aqidah Islam, festival ini merusak iman jika mengandung kesyirikan seperti penyembahan setan, namun dari segi kebudayaan, jika menyatukanDari sudut pandang aqidah Islam, festival ini merusak iman jika mengandung kesyirikan seperti penyembahan setan, namun dari segi kebudayaan, jika menyatukan