POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

Caring : Jurnal KeperawatanCaring : Jurnal Keperawatan

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara ketidaksetiaan ayah dan kecenderungan anak laki-lakinya untuk melakukan perilaku serupa. Berdasarkan teori pembelajaran sosial yang menyatakan bahwa anak cenderung meniru perilaku orang tua, terutama dalam hubungan intim, penelitian ini mengkaji apakah perilaku selingkuh ayah memengaruhi perilaku romantis anaknya. Desain survei kuantitatif digunakan dengan melibatkan 384 partisipan laki-laki dewasa. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson untuk menentukan hubungan antara perilaku ketidaksetiaan ayah dan anak. Hasil menunjukkan hubungan positif yang signifikan (r = 0,45, p < 0,01), yang mengindikasikan bahwa tingkat keterlibatan ayah dalam ketidaksetiaan yang lebih tinggi dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar bagi anak laki-lakinya untuk menunjukkan perilaku serupa. Temuan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan dinamika antargenerasi dalam menangani perilaku selingkuh dalam hubungan romantis. Pemahaman tentang bagaimana pengalaman keluarga membentuk pola hubungan individu dapat memberikan dasar bagi pengembangan intervensi pencegahan dan program pendidikan emosional yang bertujuan memutus siklus ketidaksetiaan.

Penelitian ini menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku selingkuh ayah dan anak laki-lakinya.Hasil ini menegaskan bahwa pengalaman keluarga sangat memengaruhi pola perilaku anak dalam hubungan romantis.Intervensi berbasis keluarga yang menekankan pentingnya komunikasi dan pendidikan dalam hubungan diperlukan untuk memutus siklus ketidaksetiaan antargenerasi.

Pertama, perlu dilakukan penelitian longitudinal untuk melacak perkembangan perilaku ketidaksetiaan dari masa remaja hingga dewasa pada individu yang tumbuh dalam keluarga dengan riwayat ketidaksetiaan ayah, agar dapat memahami proses perkembangan dan titik intervensi yang paling efektif. Kedua, diperlukan studi komparatif yang membandingkan pengaruh ketidaksetiaan ayah dan ibu terhadap anak laki-laki dan perempuan untuk menilai apakah peran orang tua dan gender anak memoderasi transmisi perilaku ini. Ketiga, penting untuk meneliti faktor-faktor budaya lokal seperti religiusitas, struktur keluarga, dan norma gender dalam masyarakat Indonesia yang mungkin memperkuat atau melemahkan hubungan antara ketidaksetiaan ayah dan anak, sehingga intervensi dapat dirancang secara lebih kontekstual dan relevan secara budaya. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi temuan saat ini dengan memberikan gambaran yang lebih dinamis, inklusif, dan berbasis konteks lokal. Dengan memahami variabel moderasi dan jalur perkembangan secara mendalam, upaya pencegahan dapat dirancang lebih tepat sasaran. Studi longitudinal akan membuka jalan untuk mengidentifikasi periode kritis dalam hidup individu ketika mereka paling rentan terhadap peniruan perilaku negatif. Penelitian komparatif antarperan orang tua dan gender anak akan mengungkap kompleksitas dinamika keluarga yang mungkin selama ini terabaikan. Sementara itu, eksplorasi konteks budaya akan memperkuat validitas temuan di luar setting Barat. Gabungan ketiga pendekatan ini dapat menghasilkan model pencegahan yang holistik, tidak hanya berfokus pada individu tetapi juga pada sistem keluarga dan budaya yang lebih luas.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/ebs0000095APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 ebs0000095
Read online
File size346.91 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test