POLTEKKES SMGPOLTEKKES SMG

Jurnal Lintas KeperawatanJurnal Lintas Keperawatan

Prevalensi penduduk lanjut usia di Indonesia meningkat dari 4,5 persen pada tahun 1971 menjadi sekitar 10,7 persen pada tahun 2020. Penyakit yang mengancam nyawa seperti kanker prostat sering menyerang pria berusia di atas 50 tahun. Alternatif untuk memberikan ketenangan kepada pasien meliputi dukungan perawat dalam membantu klien beradaptasi secara psikologis dan spiritual agar dapat menerima kondisinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana persepsi psikologis spiritual dan mental terhadap kanker prostat pada lansia di Panti Werdha Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Colaizzi terhadap pasien perawatan paliatif melalui terapi holistik pada penyakit kanker prostat pada lansia. Sampel berjumlah 3 klien yang diwawancarai dengan format pengkajian yang terfokus pada aspek psikologis spiritual, mental, dan rasa sakit yang dialami. Setelah diberikan terapi holistik dua kali berupa murotal dan dzikir serta pengagungan manunggal gusti bagi lansia Katolik, ditemukan adanya perubahan pada klien dalam menerima kondisinya, tidak menunjukkan kecemasan, menunjukkan apresiasi positif, serta merasa nyaman dan tenang dalam menghadapi penyakit kanker prostat.

Spiritualitas, dukungan keluarga, dan pengalaman pribadi memengaruhi persepsi lansia terhadap kematian.Lansia melakukan persiapan menghadapi kematian melalui persiapan spiritual seperti beribadah dan pasrah kepada Tuhan.Sebagian besar lansia ingin menghadapi kematian dengan proses yang cepat, khusnul khotimah, dan dalam kondisi tenang, meskipun ada yang ingin menghadapinya sendirian.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana perbedaan agama dan keyakinan memengaruhi persepsi spiritual lansia dalam menghadapi kematian akibat kanker prostat, sehingga intervensi perawatan paliatif dapat disesuaikan secara khusus berdasarkan latar belakang religius mereka. Kedua, penting untuk mengeksplorasi bagaimana keterlibatan keluarga secara emosional dan fisik dalam proses perawatan paliatif memengaruhi kesiapan mental lansia, terutama bagi mereka yang tinggal di panti, agar dapat dikembangkan model pendampingan yang lebih efektif. Ketiga, perlu dikaji bagaimana harapan lansia terhadap tempat dan proses kematian ideal dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan pelayanan di panti jompo, sehingga perawatan akhir hayat tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga memenuhi kebutuhan holistik dan otonomi pasien sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Read online
File size391.05 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test