UNWUNW

Indonesian Journal of Midwifery (IJM)Indonesian Journal of Midwifery (IJM)

Dismenore merupakan keluhan nyeri yang sering muncul selama menstruasi pada perempuan usia reproduktif dan dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademik pada mahasiswa. Status gizi serta umur menarche merupakan faktor biologis yang secara teoritis dikaitkan dengan terjadinya dismenore, meskipun hasil penelitian terdahulu masih memperlihatkan temuan yang beragam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan umur menarche dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan undiksha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei analitik melalui desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswi jurusan Kebidanan angkatan 2023, 2024, dan 2025 yang berstatus aktif secara akademik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari total 177 mahasiswi yang menjadi populasi penelitian, sebanyak 159 mahasiswi memiliki data lengkap dan dianalisis dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti sesuai dengan variabel penelitian, meliputi status gizi, usia menarche, dan kejadian dismenore, yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari data berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan sendiri oleh responden, dengan upaya meminimalkan potensi bias melalui pemberian petunjuk pengisian yang jelas dan pemeriksaan kelogisan data sebelum analisis. Nilai IMT kemudian dikategorikan menjadi status gizi kurus, normal, dan lebih berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenore (68,6%). Mayoritas responden memiliki status gizi normal (54,1%) dan mengalami menarche pada rentang usia normal (84,9%). Hasil uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian dismenore (p = 0,547). Demikian pula, umur menarche tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dismenore (p = 0,931). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa status gizi dan umur menarche tidak berkaitan secara signifikan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan faktor biologis tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup sehat. Mahasiswi kebidanan disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres sebagai upaya non farmakologis dalam mengurangi keluhan dismenore. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan dismenore menggunakan desain penelitian yang lebih luas atau analisis multivariat.

Berdasarkan temuan penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswi kebidanan mengalami dismenore.Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara status gizi maupun umur menarche dengan kejadian dismenore.Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan tidak secara langsung dipengaruhi oleh status gizi maupun umur menarche sebagai faktor tunggal.Dismenore pada kelompok usia dewasa muda kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang bersifat multifaktorial.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk memperdalam pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Pertama, penelitian lebih lanjut perlu menginvestigasi peran faktor psikologis seperti tingkat stres, kecemasan, dan depresi dalam kaitannya dengan dismenore, mengingat faktor-faktor ini seringkali tidak terungkap dalam studi yang berfokus pada aspek biologis semata. Kedua, studi longitudinal yang melibatkan pemantauan berkala terhadap mahasiswi selama beberapa siklus menstruasi dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai hubungan antara perubahan status gizi, aktivitas fisik, dan kejadian dismenore. Ketiga, penelitian kualitatif dengan pendekatan wawancara mendalam dapat digunakan untuk menggali pengalaman subjektif mahasiswi terkait dismenore, strategi koping yang digunakan, serta persepsi mereka terhadap dukungan sosial dan layanan kesehatan yang tersedia. Dengan menggabungkan temuan dari berbagai pendekatan penelitian, diharapkan dapat dirumuskan intervensi yang lebih efektif dan holistik untuk mengurangi dampak dismenore pada kualitas hidup dan kinerja akademik mahasiswi kebidanan.

  1. Analisa Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Haid (Dismenorhea) Pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Prima Husada... ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/Detector/article/view/3133Analisa Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Haid Dismenorhea Pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Prima Husada ejurnal politeknikpratama ac index php Detector article view 3133
  2. Determinan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi | Nasution | Jurnal Kesehatan Vokasional. determinan dismenore... doi.org/10.22146/jkesvo.72218Determinan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Nasution Jurnal Kesehatan Vokasional determinan dismenore doi 10 22146 jkesvo 72218
  3. The relation between body mass index and primary dysmenorrhea: A systematic review and meta‐analysis... doi.org/10.1111/aogs.14449The relation between body mass index and primary dysmenorrhea A systematic review and metayAAAaanalysis doi 10 1111 aogs 14449
Read online
File size205.72 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test