PENERBITPENERBIT
Jurnal Penelitian Agama HinduJurnal Penelitian Agama HinduPerkawinan dalam masyarakat Bali memiliki nilai kesakralan yang terkait erat dengan nilai-nilai agama dan adat istiadat. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran nilai yang signifikan yang diakibatkan modernisasi, globalisasi, dan perubahan sosial. Salah satu fenomena yang mencerminkan perubahan ini adalah sing beling sing nganten, sebuah frasa yang sering berkelindan di sekitar masyarakat Bali saat ini. Sing beling sing nganten digunakan untuk mengartikulasikan fenomena sosial tentang kecenderungan sepasang kekasih pada masyarakat Bali yang melakukan upacara perkawinan dengan mempelai perempuan yang telah mengandung bayi dalam perutnya. Fenomena ini menandai perubahan konstruksi konsep kesucian perkawinan yang sebelumnya dianggap sebagai institusi sakral dan mengindikasikan munculnya paradigma baru dalam legitimasi perkawinan di Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman individu dan persepsi sosial mengenai fenomena Sing Beling Sing Nganten. Metode kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif digunakan untuk mengeksplorasi cara pandang masyarakat, terutama perempuan, mengalami dan menafsirkan praktik ini dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji cara bekerjanya praktik ini yang berkontribusi terhadap pergeseran nilai yang berpengaruh pada perubahan konsep sakralitas perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena Sing Beling Sing Nganten tidak hanya merefleksikan perubahan nilai, tetapi juga merupakan strategi adaptasi terhadap tuntutan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks. Normalisasi praktik ini di masyarakat perkotaan Bali dipengaruhi oleh interaksi antara nilai-nilai tradisional dan modern, masyarakat mulai mengadopsi perspektif yang lebih pragmatis dalam melihat institusi perkawinan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi fenomenologis, tetapi juga sebagai refleksi terhadap transformasi nilai yang terjadi dalam masyarakat Bali kontemporer.
Fenomena sing beling sing nganten yang berkembang dalam masyarakat Bali saat ini secara substansial menggeser nilai-nilai kesakralan dalam institusi perkawinan Hindu.Praktik yang menjadikan kehamilan pranikah sebagai prasyarat utama pernikahan tersebut telah mengubah makna esensial perkawinan dari sebuah prosesi ritual yang sakral menjadi suatu bentuk respon pragmatis terhadap tekanan sosial dan budaya kontemporer.Pergeseran ini berimplikasi pada memudarnya penghayatan terhadap kelahiran anak sebagai suputra, yang secara tradisional dipahami bukan hanya sebagai pewaris garis keturunan biologis, tetapi juga sebagai pelaksana kewajiban spiritual dan ritual dalam menjaga kesinambungan dharma keluarga.Perkawinan bagi masyarakat Hindu Bali merupakan salah satu tahapan kehidupan yang harus dilalui sebagai manusia, salah satu bagian dari catur asrama yang harus dijalani.Perjalanan perkawinan inipun harus dilaksanakan berlandaskan dengan dharma, yang menjadi dasar dalam setiap gerak langkah manusia Hindu itu sendiri.Perkawinan tidak hanya bertujuan untuk kesenangan semata, melainkan menjadi cara untuk meneruskan keturunan yang ideal untuk mendapatkan anak yang suputra.Sing beling sing nganten memberikan sinyal bahwa hubungan seksual telah berlangsung sebelum adanya upacara perkawinan, sehingga hubungan seksual tersebut bukanlah dilakukan dengan cara yang benar dan tepat.Selain terjadinya desakralisasi perkawinan, sing beling sing nganten memberikan efek domino yang berpengaruh terhadap keberlangsungan reproduksi anak suputra bagi masyarakat Hindu Bali.Sesuai dengan ajaran-ajaran dalam seksologi Bali, hubungan seksual yang benar dan baik haruslah menyesuaikan tempat dan waktunya bereproduksi, juga pentingnya kesehatan mental dan fisik dari pasangan.Anak suputra merupakan generasi penerus yang diharapkan mampu memberikan keselamatan bagi keluarga dan manfaat bagi nusa dan bangsa, juga keberlangsungan hidup alam semesta.Berdasarkan uraian tersebut, mengkritik perilaku sing beling sing nganten merupakan cara paling awal dalam upaya mengembalikan nilai-nilai kesaralan dan kesucian dalam perkawinan bagi masyarakat Hindu, cara ini diharapkan mampu menjadi counter atas perilaku-perilaku menyimpang yang saat ini sudah dianggap sebagai suatu tindakan yang lumrah dan biasa saja.Keberadaan anak yang lahir dalam konteks praktik sing beling sing nganten berpotensi melemahkan fungsi keluarga sebagai wahana utama transmisi nilai-nilai keagamaan dan pelaksanaan kewajiban ritual, sehingga menimbulkan ancaman terhadap kelangsungan tradisi spiritual dan budaya Hindu Bali.Lebih jauh, praktik ini juga menandai mekanisme pendisiplinan sosial yang berorientasi pada kontrol tubuh perempuan sebagai subjek reproduksi, yang membuka ruang terhadap ketimpangan gender dalam konteks sosial budaya masyarakat.Dengan demikian, upaya revitalisasi dan refleksi kritis terhadap makna kesakralan perkawinan dan kelahiran anak suputra menjadi sangat penting.Pendekatan yang komprehensif, meliputi aspek religius, sosial, dan budaya, diperlukan untuk mengembalikan institusi perkawinan sebagai fondasi spiritual yang kokoh serta menjaga integritas nilai-nilai Hindu dalam masyarakat Bali modern, sekaligus mengedepankan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan secara adil dan setara.
Berdasarkan temuan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mendorong terjadinya fenomena sing beling sing nganten, termasuk pengaruh modernisasi, globalisasi, dan perubahan sosial di Bali. Kedua, penelitian dapat fokus pada dampak fenomena ini terhadap peran dan posisi perempuan dalam masyarakat Bali, khususnya dalam hal reproduksi dan kesuburan. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai kesakralan perkawinan dalam masyarakat Bali, termasuk upaya-upaya pendidikan dan pemberdayaan perempuan dalam konteks agama Hindu.
| File size | 297.78 KB |
| Pages | 20 |
| DMCA | Report |
Related /
OJS INDONESIAOJS INDONESIA Hal ini mengakibatkan over kapasitas yang kronis. Dalam merespons kondisi tersebut, perlu adanya reformulasi kebijakan hukum yang lebih menekankan padaHal ini mengakibatkan over kapasitas yang kronis. Dalam merespons kondisi tersebut, perlu adanya reformulasi kebijakan hukum yang lebih menekankan pada
OJS INDONESIAOJS INDONESIA Dokumenter ini berkontribusi dalam membentuk pandangan baru tentang pesantren - yang sebelumnya dipandang sebagai lembaga “suci dan tak tersentuh kritik,Dokumenter ini berkontribusi dalam membentuk pandangan baru tentang pesantren - yang sebelumnya dipandang sebagai lembaga “suci dan tak tersentuh kritik,
PENERBITPENERBIT Berdasarkan metode dan teori tersebut diperoleh hasil, 1) Fisioterapi dan yoga mampu lebih cepat mengatasi nyeri pinggang karena saling melengkapi danBerdasarkan metode dan teori tersebut diperoleh hasil, 1) Fisioterapi dan yoga mampu lebih cepat mengatasi nyeri pinggang karena saling melengkapi dan
PENERBITPENERBIT Pendidikan di era globalisasi menuntut adanya integrasi antara pendidikan nasional dengan pendidikan dunia secara menyeluruh. Siswa harus dilengkapi denganPendidikan di era globalisasi menuntut adanya integrasi antara pendidikan nasional dengan pendidikan dunia secara menyeluruh. Siswa harus dilengkapi dengan
PENERBITPENERBIT Karakter religius yang dapat ditemukan dalam cerita Pedande Baka oleh kepiting sebagai akibat dari perilaku buruk Pedande Baka. Pedande Baka berbohongKarakter religius yang dapat ditemukan dalam cerita Pedande Baka oleh kepiting sebagai akibat dari perilaku buruk Pedande Baka. Pedande Baka berbohong
PENERBITPENERBIT Gender, sosio-ekonomi keluarga, dan modal kultural memiliki dampak terhadap prestasi akademik mahasiswa. Studi tentang variabel tersebut masih jarang dilakukanGender, sosio-ekonomi keluarga, dan modal kultural memiliki dampak terhadap prestasi akademik mahasiswa. Studi tentang variabel tersebut masih jarang dilakukan
UNUDUNUD Artikel ini menganalisis bagaimana bentuk pemberdayaan modal sosial sebagai model pencegahan paham radikal untuk menciptakan harmoni sosial di Bali. DataArtikel ini menganalisis bagaimana bentuk pemberdayaan modal sosial sebagai model pencegahan paham radikal untuk menciptakan harmoni sosial di Bali. Data
UNUDUNUD Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena double burden yang dialami pemulung perempuan semakin memberatkan selama pandemi. Keterbatasan ruang gerakHasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena double burden yang dialami pemulung perempuan semakin memberatkan selama pandemi. Keterbatasan ruang gerak
Useful /
USMUSM Abstrak: Penelitian ini menganalisis dampak hukum informasi dan transaksi elektronik (ITE) terhadap kebebasan berbicara di ruang digital di Indonesia selamaAbstrak: Penelitian ini menganalisis dampak hukum informasi dan transaksi elektronik (ITE) terhadap kebebasan berbicara di ruang digital di Indonesia selama
PENERBITPENERBIT The aim of this research is to become a reference in the development of the Joged Bungbung dance which is in accordance with Hindu religious values. UsingThe aim of this research is to become a reference in the development of the Joged Bungbung dance which is in accordance with Hindu religious values. Using
UNUDUNUD Kebiasaan hidup masyarakat Pedawa yang mencerminkan nilai Tri Kaya Parisudha berimplikasi tidak saja pada keberlanjutan desa wisata tetapi juga penguatanKebiasaan hidup masyarakat Pedawa yang mencerminkan nilai Tri Kaya Parisudha berimplikasi tidak saja pada keberlanjutan desa wisata tetapi juga penguatan
AFEBIAFEBI Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan data primer (wawancara dan observasi) serta data sekunder (studi literatur). Analisis data dilakukanMetode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan data primer (wawancara dan observasi) serta data sekunder (studi literatur). Analisis data dilakukan