ATIDEWANTARAATIDEWANTARA

SINGKERRUSINGKERRU

Di era digital, komunikasi memiliki peran penting dalam berinteraksi. Remaja berperan aktif dalam public speaking untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum sehingga mampu mengekspresikan ide secara tepat dan dipahami pendengar. Pendekatan tatap muka dan metode evaluasi digunakan dalam kegiatan ini, dengan penyampaian materi secara langsung melalui dua sesi selama dua jam setiap pertemuan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Buton dilaksanakan pada tanggal 10, 11, dan 12 Maret 2022 selama tiga pertemuan, masing-masing terdiri dari dua sesi, dengan peserta sebanyak 45 orang anggota Remaja Karantaruna Desa Wajajaya. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–11.00 di Desa Wajajaya, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton. Berdasarkan hasil kuesioner, 86% peserta memahami materi pelatihan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran merupakan alternatif yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dalam pembuatan konten pendidikan.

Penggunaan komunikasi virtual sangat signifikan di era digital, terutama dalam situasi pandemi, sehingga remaja perlu aktif dalam berkomunikasi secara virtual.Pelatihan public speaking yang dilaksanakan selama tiga pertemuan terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan peserta dalam berbicara di depan umum melalui media kreatif seperti TikTok.Berdasarkan hasil survei, 86% peserta memahami materi pelatihan, menunjukkan bahwa media pembelajaran digital dapat menjadi alternatif yang baik untuk pengembangan keterampilan komunikasi akademik dan sosial.

Pertama, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi dampak jangka panjang pelatihan public speaking berbasis media sosial terhadap kepercayaan diri dan partisipasi sosial remaja di lingkungan desa, agar dapat diketahui apakah peningkatan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan berkelanjutan dalam aktivitas sehari-hari. Kedua, sebaiknya dilakukan studi komparatif antara media TikTok dengan platform lain seperti Instagram Reels atau YouTube Shorts dalam konteks pelatihan public speaking, untuk mengetahui efektivitas masing-masing platform dalam menunjang pembelajaran kreatif remaja di daerah pedesaan. Ketiga, perlu dikembangkan model pelatihan hybrid yang menggabungkan metode tatap muka dan daring berbasis konten lokal, sehingga mampu mempertahankan nilai budaya setempat sambil meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum melalui media digital. Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk menyusun kurikulum pelatihan keterampilan komunikasi yang adaptif dan relevan bagi generasi muda di wilayah terpencil. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana konten edukatif buatan remaja dapat digunakan sebagai alat edukasi masyarakat dalam isu-isu lokal seperti pelestarian budaya atau kesadaran lingkungan. Studi juga perlu mengukur sejauh mana keterlibatan dalam pembuatan konten berdampak pada motivasi belajar dan kreativitas peserta. Model pelatihan serupa juga bisa diuji di desa lain dengan karakteristik budaya dan akses teknologi yang berbeda. Dengan demikian, dapat diketahui faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program pelatihan komunikasi berbasis digital. Hasil penelitian akan membantu lembaga pendidikan dan pemerintah desa dalam merancang program pemberdayaan pemuda yang lebih efektif. Akhirnya, kombinasi antara pembelajaran keterampilan komunikasi dan pelestarian budaya lokal melalui media digital perlu dieksplorasi lebih mendalam untuk memperkuat identitas generasi muda di era globalisasi.

  1. PUBLIC SPEAKING INTENSIVE COURSE FOR STUDENTS OF NON-ENGLISH DEPARTMENT (A Study in English Language... doi.org/10.26618/exposure.v7i2.1510PUBLIC SPEAKING INTENSIVE COURSE FOR STUDENTS OF NON ENGLISH DEPARTMENT A Study in English Language doi 10 26618 exposure v7i2 1510
Read online
File size170.72 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test