UMLUML

Psyche: Jurnal PsikologiPsyche: Jurnal Psikologi

Tinjauan ini berusaha untuk menutupi banyak kekurangan pada Penelitian perkembangan studi aksi kolektif. Sejak 2007, tidak banyak studi terutama di Indonesia yang memberikan gambaran masif tentang aksi kolektif. Padahal pada tahun-tahun sesudahnya kehidupan manusia mengalami perkembangan yang pesat, terutama dengan keberadaan dunia maya. Aksi kolektif di keseharian juga mengalami perkembangan seperti munculnya digital activism, orang-orang lebih menyukai berdonasi dibandingkan aksi protes atau para pria berkelompok untuk mendukung feminimisme. Perubahan aksi kolektif baik secara kuantitatif dan kualitatif ini perlu ditunjang dengan studi yang membahas perkembangan aksi kolektif dalam berbagai perspektif. Penelitian ini menggunakan metodologi systematic literature review (SLR). Jangkauan studi yang luas dari 1984 sampai 2024 menawarkan wawasan historis sekaligus sangat kontemporer tentang evolusi aksi kolektif. Hasil yang ditemukan mencakup definisi aksi kolektif yang selama ini dipakai oleh Wright et al., (1990) tidak dianggap cukup mampu untuk menjelaskan perubahan aksi kolektif saat ini. Selain itu, antesenden dari aksi kolektif mengalami perkembangan bukan saja relative deprivation yang selama ini banyak dipercaya. Pengukuran aksi kolektif memerlukan pertimbangan lebih lanjut agar dapat mewakili berbagai ideologi. Individu dimungkinkan tidak melakukan aksi kolektif bukan karena tidak tergerak oleh muatan yang dibawanya namun lebih ketidaksesuaian dengan bentuk dari aksi kolektif tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur aksi kolektif, terutama di era modern yang semakin kompleks dan terhubung secara global.

Hasil penelitian dalam studi ini memberikan kontribusi dalam menjelaskan perkembangan aksi kolektif dengan menekankan pada tiga tema besar yakni.Peneliti di awal telah memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana definisi aksi kolektif berubah demi menyesuaikan tuntutan zaman yang juga turut berkembang seiring waktu.Peneliti juga menampilkan lima sub tema untuk memberikan penjelasan yang cukup lengkap tentang antecedents yang dipakai dalam berbagai penelitian yang diulas.Subtema yang terlibat adalah faktor kognitif, faktor emosional, faktor komunikasi dan kontak sosial, faktor politik dan ideologi, dan faktor budaya dan believe.Peneliti juga melaporkan tentang skala aksi kolektif yang dipakai pada studi-studi terdahulu.Secara keseluruhan, implikasi penelitian ini adalah aksi kolektif telah mengalami perkembangan yang pesat, terutama pada antecedents dalam memprediksi aksi kolektif.Hal tersebut disebabkan oleh perubahan drastis kehidupan manusia yang dipicu oleh penemuan dan kepopuleran internet di kalangan masyarakat.Di Indonesia, banyak aksi kolektif pula dilakukan bukan saja pada dunia realitas, namun juga di dunia maya.Aksi kolektif dilakukan ketika mengawal keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang diawali dari panggilan darurat yang tersebar di berbagai sosial media.Hasil riset ini memberikan alternatif kepada masyarakat mengenai berbagai bentuk aksi kolektif, baik yang dilakukan didunia maya atau bahkan dalam bentuk donasi.Selain itu, semakin maraknya digitalisasi, peneliti dianggap perlu memperlebar fokus ke ruang maya sebagai bagian penting dalam menyuarakan suara.Pemerintah Indonesia pun seharusnya perlu mendengar suara tersebut sejak dari awal melalui dunia maya dan melakukan tindakan-tindakan preventif agar gelombang aksi kolektif yang lebih besar dapat diatasi.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan definisi aksi kolektif yang lebih representatif dan mencakup berbagai bentuk aksi kolektif yang berkembang di lapangan. Kedua, studi tentang antecedents aksi kolektif dapat diperluas dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti komunikasi dan kontak sosial, ideologi, dan budaya. Ketiga, penelitian tentang pengukuran aksi kolektif dapat dilakukan dengan mengembangkan skala yang lebih komprehensif dan multidimensi, yang dapat menangkap berbagai bentuk aksi kolektif dan ideologi yang berbeda.

  1. The role of threat, emotions, and prejudice in promoting collective action against immigrant groups -... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ejsp.2346The role of threat emotions and prejudice in promoting collective action against immigrant groups onlinelibrary wiley doi 10 1002 ejsp 2346
  2. Collective mobilisation as a contest for influence: Leading for change or against the status quo? - Subašić... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ejsp.2891Collective mobilisation as a contest for influence Leading for change or against the status quo SubayIAiyEAN onlinelibrary wiley doi 10 1002 ejsp 2891
  3. AKSI KOLEKTIF PADA GERAKAN SOSIAL: SEBUAH PERSPEKTIF PSIKOLOGI | Syarif | Psyche: Jurnal Psikologi. aksi... journal.uml.ac.id/TIT/article/view/2783AKSI KOLEKTIF PADA GERAKAN SOSIAL SEBUAH PERSPEKTIF PSIKOLOGI Syarif Psyche Jurnal Psikologi aksi journal uml ac TIT article view 2783
  4. Do conspiracy beliefs fuel support for reactionary social movements? Effects of misbeliefs on actions... bpspsychub.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/bjso.12727Do conspiracy beliefs fuel support for reactionary social movements Effects of misbeliefs on actions bpspsychub onlinelibrary wiley doi 10 1111 bjso 12727
Read online
File size657.07 KB
Pages27
DMCAReport

Related /

ads-block-test