USUUSU

LingPoet: Journal of Linguistics and Literary ResearchLingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research

Penelitian ini menyelidiki fenomena meluasnya ujaran kebencian daring yang menyasar selebritas transgender di seluruh platform media sosial Indonesia dan Internasional. Dengan berfokus pada pengalaman Lucinta Luna dan Caitlyn Jenner, penelitian ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan kritis dalam memahami bagaimana konteks budaya membentuk prevalensi dan sifat pelecehan daring yang ditujukan pada tokoh masyarakat transgender. Melalui analisis komparatif, penelitian ini menggunakan pendekatan teori campuran yang mengintegrasikan kategorisasi jenis ujaran kebencian Mondal (2017) dan kerangka kerja Kreidler (2002) tentang niat ujaran kebencian. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa Luna dan Jenner memiliki pengalaman yang sama tentang ujaran kebencian daring, dengan kejadian signifikan yang terkait dengan perilaku, penampilan fisik, dan identitas gender mereka. Khususnya, tidak ada ujaran kebencian yang menargetkan disabilitas, etnis, atau ras. Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bahwa niat utama di balik ujaran kebencian tersebut berbentuk retorika yang menghina dan menyindir. Dengan mengeksplorasi tantangan unik yang dihadapi oleh Lucinta Luna dan Caitlyn Jenner dalam menjelajahi ruang online dan menangani kasus-kasus ujaran kebencian, penelitian ini berupaya untuk memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai kompleksitas seputar selebriti transgender dan pelecehan online.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa baik Lucinta Luna maupun Caitlyn Jenner mengalami ujaran kebencian yang signifikan terkait perilaku, penampilan fisik, dan identitas gender mereka, menunjukkan adanya pelecehan sistematis terhadap tokoh transgender di ruang digital.Niat utama dari ujaran kebencian tersebut adalah menghina dan menyindir, yang mencerminkan upaya untuk merendahkan martabat dan merusak reputasi.Selain itu, Luna juga mengalami ujaran kebencian berbasis agama dan kelas sosial, menunjukkan bahwa identitas yang bersinggungan seperti agama dan status sosial dapat memperparah kerentanan individu transgender dalam konteks budaya tertentu.

Pertama, perlu diteliti bagaimana faktor usia dan tingkat pendidikan pengguna media sosial memengaruhi jenis dan intensitas ujaran kebencian terhadap selebritas transgender di Indonesia dan Amerika Serikat, untuk memahami apakah kelompok demografis tertentu lebih cenderung menghasilkan atau menolak retorika bermuatan kebencian. Kedua, penting untuk mengeksplorasi efektivitas moderasi konten oleh platform media sosial dalam menangani ujaran kebencian terhadap individu transgender, khususnya dalam membandingkan respons algoritma dan moderator manusia terhadap komentar bernada kebencian di berbagai budaya. Ketiga, perlu dikaji dampak representasi positif selebritas transgender dalam konten media terhadap perubahan sikap publik, dengan fokus pada apakah paparan terhadap narasi yang empatik mampu mengurangi pola ujaran kebencian dalam jangka panjang. Penelitian-penelitian ini dapat membantu mengidentifikasi titik intervensi yang efektif, baik dari sisi kebijakan platform, pendidikan digital, maupun kampanye representasi media. Dengan memahami akar demografis, mekanisme platform, dan potensi dampak narasi positif, kita dapat merancang strategi yang lebih holistik untuk menciptakan ruang daring yang lebih aman dan inklusif bagi komunitas transgender. Temuan dari studi semacam ini juga dapat digunakan untuk merancang program literasi media yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal. Selain itu, penelitian lanjutan bisa mengeksplorasi bagaimana dukungan dari sesama pengguna media sosial memengaruhi persepsi dan perilaku publik terhadap korban ujaran kebencian. Studi juga dapat mengamati perbedaan respons emosional terhadap konten positif dan negatif tentang selebritas transgender di kalangan pengikut setia. Pendekatan mixed-methods yang menggabungkan analisis data besar dan wawancara mendalam dapat memberikan gambaran yang lebih utuh. Hasilnya akan sangat berguna bagi pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan komunikasi digital yang lebih adil.

  1. Narrative Text: Hate Speech on Female Celeb-gram’s Account @Rachelvennya - EUDL. narrative text... eudl.eu/doi/10.4108/eai.14-9-2021.2321416Narrative Text Hate Speech on Female Celeb gramAos Account Rachelvennya EUDL narrative text eudl eu doi 10 4108 eai 14 9 2021 2321416
  2. [2004.01670] Directions in Abusive Language Training Data: Garbage In, Garbage Out. directions abusive... arxiv.org/abs/2004.016702004 01670 Directions in Abusive Language Training Data Garbage In Garbage Out directions abusive arxiv abs 2004 01670
  3. A Measurement Study of Hate Speech in Social Media | Proceedings of the 28th ACM Conference on Hypertext... dl.acm.org/doi/10.1145/3078714.3078723A Measurement Study of Hate Speech in Social Media Proceedings of the 28th ACM Conference on Hypertext dl acm doi 10 1145 3078714 3078723
Read online
File size460.54 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test