UNISMUHUNISMUH

Equilibrium: Jurnal PendidikanEquilibrium: Jurnal Pendidikan

Yang menjadi persoalan adalah kekerasan tidak hanya sebuah praktik pelanggaran tetapi menjadi sebuah wacana yang berkembang dan hidup di tengah-tengah masyarakat, salah satunya pada dunia perfilman. Kekerasan simbolik menjadi fokus pada penelitian ini karena kekerasan ini cenderung tak terlihat, tidak disadari serta tidak diketahui secara langsung dibandingkan dengan kekerasan yang berbentuk fisik yang terdapat pada film Mrs. Chatterjee Vs Norway. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Analisis konten bertujuan untuk memahami makna dan pesan yang terkandung dalam data tersebut. Metode kualitatif pendekatan analisis konten adalah metode penelitian yang menitikberatkan pada analisis mendalam terhadap isi suatu teks, dokumen atau dalam konteks pada sebuah film dengan tujuan untuk mengungkapkan makna untuk memahami konteks sosial, budaya, yang mempengaruhi konten. Hasil analisis dalam film menunjukkan dominasi dan kontrol yang diberikan oleh individu atau lembaga yang memiliki kekuasaan lebih tinggi terhadap individu yang lebih lemah, baik dari segi gender, status sosial, maupun latar belakang etnis. Reproduksi Struktur Kekuasaan pada film juga menggambarkan bagaimana reproduksi struktur kekuasaan, terutama patriarki, terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, serta dalam keputusan lembaga terhadap individu. Adapun kontribusi yang bisa dilakukan sebagai langkah maju dalam mengatasi ketidakadilan yang terjadi dalam dinamika kekuasaan di dalam masyarakat adalah pendidikan dan kesadaran akan kesetaraan gender, reformasi kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dan etnis, penguatan dukungan legal yang mendorong perlindungan hukum yang kuat bagi individu dan peningkatan kesadaran sosial dalam upaya mendorong masyarakat untuk memahami dan mengidentifikasi tindakan kekerasan.

Struktur kekuasaan dan kekerasan simbolik menurut teori Bourdieu membantu memahami bagaimana hierarki gender dan perbedaan etnis memengaruhi interaksi sosial dan melahirkan bentuk kekerasan yang tidak kasat mata.Film ini menampilkan dominasi oleh individu atau lembaga berkuasa terhadap pihak yang lebih lemah, terutama perempuan dan imigran, melalui kontrol sosial, pengabaian suara, dan manipulasi informasi.Untuk mengatasi ketidakadilan ini, diperlukan pendidikan kesetaraan, reformasi kebijakan, perlindungan hukum yang kuat, serta peningkatan kesadaran sosial masyarakat terhadap kekerasan simbolik.

Pertama, perlu penelitian lanjutan yang mengkaji bagaimana sistem pengadilan di negara maju mempersepsikan praktik pengasuhan dari budaya non-Barat, khususnya dalam kasus imigran, untuk memahami apakah ada bias struktural terhadap keluarga lintas budaya. Kedua, sebaiknya dilakukan studi tentang efektivitas pendidikan kesetaraan gender di institusi pelayanan sosial, seperti lembaga kesejahteraan anak, untuk melihat apakah pelatihan yang ada sudah cukup mengurangi dominasi gender dan etnis dalam pengambilan keputusan. Ketiga, perlu penelitian yang mengeksplorasi pengalaman korban kekerasan simbolik dalam konteks rumah tangga lintas budaya, terutama perempuan imigran, untuk mengetahui strategi mereka dalam melawan dominasi pasangan dan institusi, serta bagaimana dukungan hukum dan sosial bisa diperkuat. Penelitian-penelitian ini penting untuk membangun sistem yang lebih adil, inklusif, dan sensitif secara budaya. Dengan memahami akar struktural dari kekerasan simbolik, masyarakat dan pemerintah bisa merancang kebijakan dan program yang tidak hanya menangani gejala, tetapi juga mencegah ketidakadilan sejak awal. Temuan dari penelitian semacam ini juga dapat digunakan untuk menyusun pelatihan bagi aparat hukum, pekerja sosial, dan pemerhati anak. Selain itu, hasil penelitian bisa menjadi dasar advokasi hukum bagi kelompok rentan yang sering dilemahkan oleh struktur kekuasaan yang tidak terlihat. Melalui pendekatan penelitian yang lebih dalam, kita bisa memastikan bahwa hak asasi manusia, terutama hak perempuan dan anak, dilindungi secara utuh tanpa diskriminasi budaya atau gender. Oleh karena itu, langkah ke depan harus berfokus pada penguatan sistem pendukung yang sadar akan kekerasan simbolik dan mampu meresponsnya secara proporsional dan berkeadilan.

Read online
File size331.42 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test