JOURNAL GEHUJOURNAL GEHU

Journal of General Education and HumanitiesJournal of General Education and Humanities

Penelitian ini menyelidiki dimensi socio-econo-ecolinguistik dari leksikon kuliner tradisional di Kabupaten Malaka, sebuah wilayah perbatasan di Indonesia bagian timur. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif yang melibatkan tiga kelompok sosial siswa, pelajar sekolah, dan masyarakat umum sebagai peserta untuk menangkap perspektif lintas generasi tentang pengetahuan kuliner tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi bentuk-bentuk linguistik dari leksikon kuliner tradisional, (2) memeriksa dinamika pemeliharaan leksikon dalam komunitas lokal, dan (3) menganalisis makna socio-ekonomi dan ekologi yang terbenam dalam praktik kuliner tradisional. Data diperoleh melalui metode penelitian berbasis lapangan, termasuk observasi komunitas dan dokumentasi terminologi kuliner lokal. Temuan penelitian mengungkapkan adanya enam belas leksikon kuliner tradisional: akar bilan, batar tasak, batar sonan, batar daan, batar tunun, batar faihedik, filun, fehuk tunun, fehuk sonan, fehuk hukus, fehuk daan, hudi tasak, hudi tunun, hudi daan, nunak, dan es nu. Leksikon-leksikon ini terdiri dari bentuk dasar dan frasal yang menyampaikan nilai-nilai budaya, berfungsi secara deskriptif, dan membawa makna simbolis yang berakar pada tradisi lokal. Sehubungan dengan vitalitas leksikal, penelitian ini menunjukkan melemahnya transmisi antargenerasi, di mana generasi muda, khususnya siswa dan pelajar, menunjukkan tingkat pemahaman dan penggunaan leksikon kuliner tradisional yang jauh lebih rendah daripada masyarakat umum, mengungkapkan adanya kesenjangan leksikal yang jelas. Dari perspektif socio-ekonomi, konsumsi makanan tradisional berkontribusi pada ketahanan ekonomi lokal dengan menggunakan bahan baku lokal. Secara ekologis, praktik-praktik ini mempromosikan pengurangan limbah, pelestarian lingkungan, dan konservasi keanekaragaman hayati, sambil mendukung keberlanjutan linguistik dan budaya. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran ecolinguistik dalam mempertahankan vitalitas leksikon kuliner tradisional sebagai komponen integral dari identitas budaya dan etika lingkungan.

Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa praktik kuliner tradisional merupakan warisan budaya masyarakat Malaka yang diturunkan dari generasi ke generasi.Tradisi kuliner ini mencerminkan sistem makanan yang seimbang yang menggunakan bahan-bahan nabati dan hewani dari sumber-sumber yang ditanam dan sumber daya alam di lingkungan sekitarnya.Penelitian ini berhasil mengidentifikasi enam belas unit leksikal yang merujuk pada makanan tradisional lokal, yaitu.akar bilan, batar tasak, batar sonan, batar daan, batar tunun, batar faihedik, filun, fehuk tunun, fehuk sonan, fehuk hukus, fehuk daan, hudi tasak, hudi tunun, hudi daan, nunak, dan es nu.Bentuk-bentuk linguistik dari leksikon kuliner ini dapat dianalisis dalam hal komponen leksikal dasar, struktur frasa, makna budaya, fitur deskriptif, dan interpretasi simbolis, sebagai representasi identitas kuliner Malaka.Selain itu, dinamika pengetahuan mengenai leksikon kuliner tradisional menunjukkan perbedaan antargenerasi.Variasi dalam familiaritas, pemahaman, dan penggunaan leksikal - khususnya di kalangan generasi muda - menunjukkan adanya kesenjangan linguistik dan budaya dalam transmisi pengetahuan kuliner tradisional.Interpretasi dari leksikon kuliner tradisional ini menunjukkan pemahaman yang sama antara mahasiswa, pelajar sekolah, dan masyarakat umum.Dari perspektif ekonomi, pembelian makanan lokal secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat sistem ketahanan ekonomi berbasis komunitas.Dari perspektif ekologi, preferensi untuk makanan lokal dan tradisional membantu mengurangi limbah, menjaga kebersihan lingkungan, dan mendukung konservasi sumber daya alam.Praktik ini secara bersamaan mengurangi ketergantungan pada produk impor sambil melestarikan keanekaragaman hayati dan keragaman budaya kuliner.Temuan-temuan ini sejalan dengan perspektif ecolinguistik, yang menekankan pentingnya harmoni antara bahasa, budaya, dan lingkungan alam.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis, berikut adalah saran-saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Pengembangan model pengembangan integratif yang menghubungkan leksikon kuliner, pengetahuan ekologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Model ini dapat menggabungkan aspek-aspek linguistik, budaya, ekonomi, dan ekologi dalam upaya pelestarian dan pengembangan industri kreatif berbasis kuliner lokal.. . 2. Penelitian lebih lanjut tentang strategi pelestarian leksikon kuliner tradisional melalui dokumentasi dan pendidikan. Penelitian ini dapat fokus pada pengembangan metode-metode dokumentasi yang efektif dan strategi pendidikan yang dapat membantu melestarikan pengetahuan kuliner tradisional di kalangan generasi muda.. . 3. Kajian tentang potensi pengembangan industri kreatif berbasis kuliner lokal. Penelitian ini dapat mengeksplorasi peluang-peluang bisnis dan inovasi dalam industri kuliner, seperti pengembangan produk-produk kuliner tradisional yang inovatif, promosi kuliner sebagai aset pariwisata, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kuliner lokal.

  1. Preservation Of Local Food Culinary Lexicons Based On Social Status In The Indonesia–Timor Leste... journal-gehu.com/index.php/gehu/article/view/860Preservation Of Local Food Culinary Lexicons Based On Social Status In The IndonesiaAeTimor Leste journal gehu index php gehu article view 860
  2. International Journal of Economics and Management | International Journal of Economics and Management.... iem.cdfpublisher.org/index.php/iem/article/view/36International Journal of Economics and Management International Journal of Economics and Management iem cdfpublisher index php iem article view 36
Read online
File size267.83 KB
Pages31
DMCAReport

Related /

ads-block-test