UNIMALUNIMAL

Jurnal Malikussaleh MengabdiJurnal Malikussaleh Mengabdi

Wabah infeksi SARS‑CoV2 yang terus meningkat tentu berdampak pada upaya resusitasi dan memunculkan kebutuhan untuk memodifikasi praktik resusitasi jantung paru (RJP) yang telah ada. Komplikasi seperti hipoksemia akibat gagal napas akut, jejas miokard, aritmia ventrikular, dan syok banyak dijumpai dan menyebabkan pasien tersebut lebih berisiko mengalami henti jantung. Tenaga kesehatan merupakan profesi dengan risiko tertinggi tertular penyakit ini. Risiko ini semakin nyata seiring maraknya kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) di seluruh dunia. Upaya resusitasi meningkatkan risiko penularan terhadap tenaga kesehatan karena berbagai alasan. Pertama, RJP meliputi berbagai prosedur yang menghasilkan aerosol, termasuk di dalamnya kompresi dada, ventilasi tekanan positif, dan pemasangan alat bantu napas lanjut (advanced airway). Selama prosedur ini, partikel virus dapat tersuspensi di udara dengan waktu paruh kurang‑lebih 1 jam dan dihirup oleh orang‑orang yang ada di sekitarnya. Kedua, upaya resusitasi mengharuskan sejumlah penolong untuk bekerja dalam jarak dekat baik satu sama lain maupun dengan pasien. Terakhir, henti jantung merupakan kondisi dimana pasien mendapat resusitasi dalam waktu cepat dan berpotensi menyebabkan kemerosotan kewaspadaan standar untuk mengontrol infeksi. Salah satu cara yang efektif dalam mencegah peningkatan risiko infeksi adalah dengan memberikan edukasi dan pelatihan keterampilan RJP pada pasien dengan COVID‑19 secara kontinyu dan konsisten yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan dalam meminimalisir risiko tertular infeksi COVID‑19 pada saat melakukan RJP yang menimbulkan aerosol serta adanya fasilitas sarana dan prasarana yang menunjang tindakan pencegahan. Target dari pengabdian ini adalah tersedianya tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik tentang RJP pada pasien COVID‑19. Sedangkan target aspek sarana‑prasarana penunjang pelayanan kesehatan yaitu tersedianya alat pelindung diri sebagai fasilitas yang digunakan dalam pencegahan penyebaran COVID‑19.

Pelatihan yang melibatkan 20 tenaga kesehatan di RSUD Cut Meutia, Aceh Utara, berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada pasien COVID‑19, sekaligus mengurangi risiko infeksi.Program dilaksanakan dengan baik dan dievaluasi secara positif melalui kuesioner serta rubrik keterampilan, menunjukkan peningkatan signifikan pasca‑pelatihan.Peningkatan kompetensi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas penanganan kegawatdaruratan di wilayah tersebut.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang diperoleh peserta pelatihan dengan melakukan studi longitudinal selama enam hingga dua belas bulan setelah intervensi, sehingga dapat mengidentifikasi tingkat retensi kompetensi, pola penurunan kemampuan, serta faktor‑faktor pendukung atau penghambat seperti frekuensi penggunaan, dukungan manajerial, dan ketersediaan sarana. Selain itu, diperlukan studi komparatif yang membandingkan efektivitas berbagai konfigurasi Alat Pelindung Diri (APD) – termasuk masker N95, face shield, dan pakaian pelindung – dalam mengurangi paparan aerosol selama prosedur resusitasi, dengan mengukur insiden infeksi tenaga kesehatan di unit ICU/IGD pada pasien COVID‑19 serta menilai kepatuhan prosedural. Selanjutnya, pengembangan dan pengujian alat simulasi berbiaya rendah yang dapat diproduksi secara lokal untuk pelatihan RJP di lingkungan dengan sumber daya terbatas akan memperluas jangkauan pendidikan, sehingga penelitian harus menilai validitas pedagogik, kemudahan penggunaan, dan dampaknya terhadap peningkatan kinerja klinis di rumah sakit daerah. Sebagai tambahan, analisis biaya‑manfaat dari implementasi program pelatihan berkelanjutan dibandingkan dengan model pelatihan tradisional dapat memberikan wawasan penting bagi pengambil kebijakan dalam alokasi anggaran kesehatan. Akhirnya, eksplorasi penggunaan teknologi augmented reality atau virtual reality sebagai media pendukung pelatihan RJP dapat membuka peluang inovatif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di masa depan.

Read online
File size134.95 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test