BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

Jurnal Cakrawala IlmiahJurnal Cakrawala Ilmiah

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, yaitu usia 10‑19 tahun. Pada masa ini terjadi kematangan reproduksi dengan munculnya tanda‑tanda pubertas; pada remaja putri, pubertas ditandai dengan menarche. Data RISKESDAS 2012 menunjukkan rata‑rata usia menarche di Indonesia 13 tahun, dengan kejadian lebih awal (<9 tahun) atau lebih lambat (≤17 tahun). Di Provinsi Jawa Timur, 36,5 % menarche terjadi pada usia 13‑14 tahun, 2,3 % pada usia 9‑10 tahun, dan 0,1 % pada usia 6‑8 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang menggunakan kuesioner Google Form. Populasi terdiri dari 465 remaja putri di Jawa Timur dengan teknik sampel klaster acak. Hasil menunjukkan bahwa hanya 35 % (165) responden memiliki pengetahuan baik tentang menstruasi, sedangkan 65 % (300) memiliki pengetahuan kurang. Sebagian besar mengalami menarche pada usia 11‑14 tahun (385) dan memperoleh informasi utama dari orang tua. Mayoritas responden merasa baik selama menstruasi (208) dengan siklus normal tiap bulan. Sebagian besar menggunakan pembalut sekali pakai (455) dan mengganti pembalut setiap 4‑5 jam sekali. Namun, 297 responden melaporkan tidak tersedia pembalut di sekolah.

Sebagian besar remaja putri di Jawa Timur (300 dari 465) menunjukkan pengetahuan yang kurang tentang menstruasi.Mayoritas mengalami menarche pada usia 11–14 tahun, mendapatkan informasi utama dari orang tua, dan melaporkan perasaan baik selama menstruasi dengan siklus reguler.Kebanyakan menggunakan pembalut sekali pakai, mengganti setiap 4–5 jam, namun sebagian besar melaporkan tidak tersedia pembalut di sekolah.

Salah satu langkah penelitian lanjutan yang dapat diambil adalah menguji efektivitas kurikulum pendidikan kesehatan menstruasi yang diterapkan di sekolah‑sekolah menengah di Jawa Timur, dengan membandingkan perubahan pengetahuan dan sikap siswa sebelum dan sesudah intervensi. Selanjutnya, penting untuk meneliti bagaimana pelatihan komunikasi bagi orang tua dapat meningkatkan kualitas informasi yang diberikan kepada remaja putri, sehingga dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan praktik kebersihan pribadi selama menstruasi. Penelitian ketiga dapat berfokus pada pengembangan platform digital interaktif—misalnya aplikasi seluler atau situs web—yang menyediakan materi edukatif tentang menstruasi, dan menilai dampaknya terhadap pengetahuan, persepsi, serta perilaku penggunaan pembalut di kalangan remaja. Ketiga arah studi ini diharapkan memberikan data empiris yang dapat memperkuat kebijakan pendidikan kesehatan reproduksi di tingkat daerah. Dengan pendekatan yang terukur dan partisipatif, hasilnya dapat membantu penyusunan program yang lebih tepat sasaran bagi remaja, orang tua, dan lembaga pendidikan. Akhirnya, integrasi temuan tersebut ke dalam kebijakan lokal dapat meningkatkan kesejahteraan reproduksi generasi muda Jawa Timur.

Read online
File size275.36 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test