BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

Jurnal Cakrawala IlmiahJurnal Cakrawala Ilmiah

Pendahuluan: Tuberkulosis adalah kondisi patologis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meskipun telah diobati, kasus TB paru terkadang masih meninggalkan gejala sisa yang disebut gejala sisa TB. Penatalaksanaan yang tidak tepat terhadap gejala sisa TB dapat meningkatkan risiko kematian. Oleh karena itu, diperlukan program rehabilitasi terstruktur pada kasus gejala sisa TB. Tujuan: untuk menentukan efek latihan fisioterapi terhadap penatalaksanaan kasus gejala sisa TB. Metode: Metode penelitian menggunakan laporan kasus. Pengukuran hasil: pengukuran sputum menggunakan auskultasi, spasme otot menggunakan palpasi, pemeriksaan kapasitas volume paru menggunakan Voldyne dan peak flow meter, pemeriksaan ekspansi sangkar toraks menggunakan midline. Hasil: setelah 5 kali terapi, terdapat penurunan volume sputum, penurunan spasme otot bantu pernapasan, peningkatan ekspansi toraks, dan peningkatan kapasitas volume paru. Kesimpulan: Pemberian latihan terprogram pada kasus gejala sisa TB dapat meningkatkan volume paru dan meningkatkan ekspansi toraks.

Pada kasus ini, penatalaksanaan fisioterapi yang diberikan berupa terapi infrared, relaksasi otot, peregangan otot, koreksi postur, teknik siklus pernapasan aktif (ACBT), latihan pernapasan segmental, dan latihan endurance dapat menurunkan frekuensi sputum, mengurangi spasme otot bantu pernapasan, meningkatkan kapasitas volume paru, dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks.Hasil ini menunjukkan bahwa fisioterapi dapat menjadi intervensi yang efektif dalam penatalaksanaan sindrom obstruksi pasca tuberkulosis paru.

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengeksplorasi efektivitas jangka panjang dari program rehabilitasi paru yang komprehensif pada pasien dengan sindrom obstruksi pasca tuberkulosis. Studi komparatif yang melibatkan kelompok kontrol dan berbagai modalitas fisioterapi, seperti latihan pernapasan diafragma dan latihan kekuatan otot pernapasan, dapat memberikan bukti yang lebih kuat mengenai pendekatan terapeutik yang optimal. Selain itu, penelitian kualitatif yang mendalam dapat dilakukan untuk memahami pengalaman pasien dan faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan terhadap program rehabilitasi, sehingga dapat dikembangkan intervensi yang lebih personal dan efektif. Penelitian di masa depan juga dapat berfokus pada identifikasi biomarker yang dapat memprediksi respons terhadap rehabilitasi paru, sehingga memungkinkan stratifikasi pasien dan penyesuaian program terapi yang lebih tepat guna. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi morbiditas pada pasien dengan sindrom obstruksi pasca tuberkulosis.

  1. SciELO Brazil - Assessment of tidal volume and thoracoabdominal motion using volume and flow-oriented... scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0100-879X2005000700014&lng=en&tlng=enSciELO Brazil Assessment of tidal volume and thoracoabdominal motion using volume and flow oriented scielo br scielo php script sci arttext pid S0100 879X2005000700014 lng en tlng en
  2. Complication and Sequelae of Pulmonary Tuberculosis: A Tertiary Care Center Experience. complication... juniperpublishers.com/ijoprs/IJOPRS.MS.ID.555674.phpComplication and Sequelae of Pulmonary Tuberculosis A Tertiary Care Center Experience complication juniperpublishers ijoprs IJOPRS MS ID 555674 php
  3. "Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis di Indonesia" by Sesar Dayu Pralambang and Sona Setiawan.... doi.org/10.51181/bikfokes.v2i1.4660Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis di Indonesia by Sesar Dayu Pralambang and Sona Setiawan doi 10 51181 bikfokes v2i1 4660
Read online
File size290 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test