STAI AL-HIDAYAHSTAI AL-HIDAYAH

Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan IslamIslamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan sub sistem dari sistem kehidupan manusia yang sangat komprehensif dimulai aspek misi, visi, tujuan, kurikulum, pendidik, peserta didik, metode, strategi, sarana prasarana, dan aspek lainnya. Dalam manajemen pendidikan ada kegiatan dakwah dan dalam proses dakwah ada kegiatan manajemen pendidikan. Bahkan sebagian kalangan menganggap tidak perlu lagi memisahkan atau membedakan antara keduanya, karena baik konsep, metodologi dan tujuan memiliki kesamaan yakni memanusiakan manusia dan mengajak manusia ke jalan Allah SWT untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan metode dan proses yang telah diajarkan Rasulullah, maka program pendidikan dan dakwah diperlukan pengembangannya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research atau penelitian kepustakaan dari berbagai literatur yang relevan baik sumber al- Quran dan Hadits serta buku-buku kontemporer karya ahli pendidikan dan dakwah. Data ini terkumpul dianalisa menggunakan metode deskriptif analisis. Tulisan yang disimpulkan bahwa strategi dan etika dakwah yang harus dipegang teguh para Dai di era milenial, antara lain: (1) Dakwah itu mengajak bukan menjebak, (2) merangkul bukan memukul, (3) membimbing bukan membanting, (4) meneduhkan bukan menggerahkan, (5) mendamaikan bukan meresahkan, (6) menghidupkan bukan mematikan, (7) menengahkan bukan menyudutkan, (8) memuji bukan mencaci, (9) mendidik bukan menghardik, dan (10) Dakwah itu ramah bukan marah. Semoga tulisan ini menambah semangat dakwah para Dai dan Muballigh di era milenial yang terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Strategi dakwah dan pendidikan harus dikemas sedemikian rupa sehingga relevan dengan perkembangan zaman dan tempat dimana pelaku dakwah senantiasa hadir di tengah masyarakat yang dinamis dan majemuk.Materi dakwah secara esensial dan prinsip memang tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman, yakni akidah, syariah dan akhlak.adalah contoh, model dan teladan yang sempurna untuk umat manusia.Namun materi dakwah terus berkembang sesuai dengan kemjuan peradaban manusia, sehingga perlu dikemas sedemikian rupa, agar menarik dan diminati Madu pada setiap masa dan generasi.Kemasan itu penting sebagaimana petingnya penggunaan media dan bahasa dakwah yang dimengerti oleh suatu kaum.Sehingga, setiap masyarakat punya bahasa dan budayanya sendiri.Para Dai harus tampil sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Madunya, agar terjalin hubungan yang akrab dan hangat dalam bingkai dakwah.Selain itu, sikap dan perilaku Dai sangat besar peranannya dalam mengubah pemikiran dan perasaan serta tindakan Madunya, apalagi di tengah kultur masyarakat tradisonal yang figuristik.Tidak jarang terjadi perubahan pada diri seseorang, setelah ia menemukan seorang Dai atau guru yang merasuki pikirannya.Semula ia berbahsa dan bersikap santun, lalu tiba-tiba akrab dengan ungkapan kasar atau berujar penuh kebencian bahkan tindakannya membahayakan orang lain seperti membunuh dengan alasan agama (tindakan teror atas nama agama).Oleh karena itu, kemasan dakwah dalam bahasa dan perilaku Dai, baik dalam dakwah tradisonal maupun digital menjadi sangat menentukan dalam menyebarkan dakwah sejuk, damai, toleran (tasamuh) dan moderat (tawasuth).Oleh karena itu, etika dakwah di era milinal ini menjadi sanat urgen ditanamkan kepada para Dai dan Madu agar upaya menebar Islam Rahmatan Lilalamin (islam yang mendamaikan dan menyejukkan) dapat tercapai dengan baik di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, baik dari aspek agama, ras, suku, budaya, sosial, pendidikan dan seterusnya.Paling tidak, penulis merumuskan 10 strategi dan etika dakwah yang harus dipegang teguh umat Islam, terutama oleh para Dai di era milenial, yaitu antara lain.(1) Dakwah itu mestinya mengajak bukan menjebak, (2) Dakwah itu merangkul bukan memukul, (3) Dakwah itu membimbing bukan membanting, (4) Dakwah itu meneduhkan bukan menggerahkan, (5) Dakwah itu mendamaikan bukan meresahkan, (6) Dakwah itu menghidupkan bukan mematikan, (7) Dakwah itu menengahkan bukan menyudutkan, (8) Dakwah itu memuji bukan mencaci, (9) Dakwah itu mendidik bukan menghardik, dan (10) Dakwah itu ramah bukan marah.Sepuluh strategi dan etika dakwah tersebut memiliki makna yang mendalam dan meluas untuk diterjemahkan dalam berbagai situasi dan kondisi sosial masyarakat yang dinamis.Secara prinsip, etika dakwah tersebut merupakan turunan dari etika dakwah Nabi S.Oleh karena itulah, kecakapan seorang Dai menjadi sangat penting dalam mengaplikasikan dan menampilkan dakwah yang beretika dan berkeadaban.Dakwah Islam dengan pola tradisonal sebagai gerakan dakwah kultural masyarakat Indonesia, akan tetap memiliki tempatnya sendiri di hati umat, walaupun mereka hidup di alam modern yang serba digital.Kekuatan dakwah tradisonal terletak pada jalinan psikologis antara Dai dan Madu yang begitu kuat dan hangat.Ikatan emosional yang terjalin kuat akibat adanya kontak mata dan bahasa secara langsung serta raut wajah pun ikut andil membangun kekuatan psikologis dengan Madunya.Walaupun dinamika masyarakat terus berubah dan berkembang maju, namun metode dan media dakwah tradisional tetap berperan besar dalam gerakan dakwah merajut hubungan sosial yang kuat di tengah masyarakat.Tentu saja, pola dakwah tradisional tersebut akan semakin mudah dipahamiu dan dan digemari oleh generasi milenial ketika disajikan dengan media digital yang menarik.Jika tidak, ia akan ditinggalkan oleh Madunya.Selain itu, semaju apa pun metode dan media yang digunakan, namun sosok Dai tetap tidak bisa digantikan, meskipun dunia maya mampu menghadirkan segala informasi, namun tidak mampu memberikan teladan dan kehangatan emosional dalam jalinan kebersamaan dalam dakwah.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Menjelajahi strategi dan etika dakwah yang relevan dengan generasi milenial, dengan mempertimbangkan dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan model dakwah yang efektif dan menarik bagi generasi milenial, serta mengeksplorasi cara-cara baru dalam menyampaikan pesan dakwah yang sesuai dengan preferensi dan gaya hidup mereka.. . 2. Mengkaji peran teknologi digital dalam dakwah, khususnya dalam konteks Indonesia. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dakwah, serta bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjangkau dan melibatkan generasi milenial dalam kegiatan dakwah. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengeksplorasi tantangan dan peluang yang muncul akibat penggunaan teknologi dalam dakwah.. . 3. Meneliti dampak dakwah tradisional terhadap generasi milenial di Indonesia. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana dakwah tradisional, yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan nilai-nilai generasi milenial. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengeksplorasi cara-cara untuk menggabungkan elemen-elemen dakwah tradisional dengan pendekatan modern, sehingga dapat menciptakan sinergi yang efektif dalam dakwah.. . Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan strategi dakwah yang relevan dan efektif untuk generasi milenial di Indonesia, serta membantu dalam upaya untuk menyebarkan pesan dakwah dengan cara yang lebih menarik dan bermakna bagi mereka.

Read online
File size332.08 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test