ULUMUNAULUMUNA

UlumunaUlumuna

Pendidikan anak memainkan peran penting dalam mencegah radikalisasi. Dengan mendorong pemikiran analitis dan mendorong pendekatan berbasis bukti, pendidikan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan untuk membedakan dan menantang narasi ekstremis. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pendidikan anak-anak pelaku terorisme di Indonesia melalui desain penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dengan mewawancarai tahanan teroris, mengadakan diskusi dengan mantan tahanan, dan meninjau dokumen hukum kasus terorisme seperti laporan profil dan penilaian, penelitian ini mencoba mengidentifikasi regenerasi jaringan teroris di Indonesia. Penelitian ini memeriksa sekolah yang dipilih pelaku terorisme (sebagai pengambil keputusan) untuk anak-anak mereka. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hanya 18% anak tahanan yang dikirim ke sekolah yang sama sekali tidak terkait dengan organisasi teroris. Sebaliknya, 29% tahanan menyembunyikan anak-anak mereka, 14% dikirim ke sekolah yang kurang berafiliasi dengan organisasi teroris, dan 13% berada di sekolah yang sangat berafiliasi dengan organisasi teroris. Ini menunjukkan informasi yang mengkhawatirkan bahwa indoktrinasi anak-anak masih berlangsung dalam jaringan teroris di beberapa wilayah Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga memeriksa korelasi antara variabel independen (misalnya hukuman para pelaku, tingkat risiko, dan afiliasi) dan variabel dependen (misalnya trauma anak-anak, kategori sekolah, orientasi, dan jaringan sekolah). Penelitian ini dapat membantu memprediksi kelanjutan dan kekambuhan terorisme.

Penelitian ini mencoba memetakan pilihan sekolah pelaku terorisme di Indonesia untuk anak-anak mereka, karena informasi tentang masalah ini terbatas karena sifat jaringan teroris/kelompok yang menyebarluaskan ideologi (bekerja secara rahasia).Temuan penelitian menunjukkan potensi regenerasi jaringan teroris melalui pilihan sekolah oleh teroris untuk anak-anak mereka.Ini dibuktikan oleh fakta bahwa kurang dari 50% (hanya 18%) anak tahanan memiliki kesempatan untuk bergabung dengan sekolah yang sama sekali tidak berafiliasi dengan jaringan ekstremis.Secara kuantitatif, ada korelasi positif yang signifikan antara panjang hukuman para pelaku, tingkat risiko, dan afiliasi ideologis dengan jenis sekolah, jaringan, dan orientasi ideologis yang dipilih untuk anak-anak mereka, serta trauma yang dialami anak-anak tersebut.Secara kualitatif, narasi mantan pelaku mengungkapkan bahwa banyak anak dikirim ke sekolah tahfiz atau sekolah yang secara ideologis konservatif karena alasan keamanan, keselarasan agama, atau akses terbatas ke pilihan lain di tengah kesulitan keuangan dan stigma sosial.Pilihan ini sering dibuat dalam konteks struktur keluarga yang terganggu, kesedihan emosional, dan penolakan komunitas setelah penangkapan pelaku.Peserta penelitian menggambarkan bahwa anak-anak mereka mengalami trauma, bullying/agresi dari teman dan tetangga, penurunan akademik, dan gejala psikosomatis, terutama ketika penangkapan dan identitas mereka terungkap ke publik.Temuan ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari penjara terkait terorisme melampaui pelaku dan dapat sangat mempengaruhi lingkungan dan perkembangan anak-anak mereka.Hal ini menekankan pentingnya intervensi psikososial yang berfokus pada anak dan strategi pendidikan inklusif dalam mencegah transmisi radikalisasi secara lintas generasi.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi lebih lanjut yang melibatkan lebih banyak pengamat anak-anak pelaku terorisme untuk memahami masalah indoktrinasi dan trauma yang dialami anak-anak tersebut. Selain itu, penelitian yang menyelidiki kebutuhan anak-anak pelaku terorisme, termasuk teknik pengasuhan, guru, wali, tetangga, dan teman sebaya, sangat direkomendasikan. Dari segi praktis, disarankan untuk memberikan beasiswa dan bantuan keuangan bagi anak-anak pelaku terorisme yang dikirim ke sekolah yang tidak berafiliasi dengan jaringan terorisme. Hal ini dapat memperkuat/memberi penghargaan kepada orang tua yang menunjukkan upaya dalam memutus siklus ekstremisme, sehingga sekolah anak-anak mereka dapat menjadi simbol kisah sukses mereka dalam menolak ekstremisme.

  1. Terrorism Risk Assessment to Children: A Study in Poso | Journal of Psychology and Behavior Studies.... doi.org/10.32996/jpbs.2021.1.1.7Terrorism Risk Assessment to Children A Study in Poso Journal of Psychology and Behavior Studies doi 10 32996 jpbs 2021 1 1 7
  2. "Children Involvement in Terrorism Activities: Perpetrator or a Victim?" by Wawan Edi Prastiyo... doi.org/10.22304/pjih.v8n2.a3Children Involvement in Terrorism Activities Perpetrator or a Victim by Wawan Edi Prastiyo doi 10 22304 pjih v8n2 a3
Read online
File size1.01 MB
Pages27
DMCAReport

Related /

ads-block-test