HAMZANWADIHAMZANWADI

Jurnal ElemenJurnal Elemen

Berpikir komputasional (BK) merupakan keterampilan abad ke-21 yang vital dalam pendidikan matematika, memungkinkan siswa memecahkan masalah secara sistematis melalui dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan pemikiran algoritmik. Namun, disposisi matematis siswa—yang meliputi keyakinan, kebiasaan berpikir, dan kecenderungan afektif—dapat sangat memengaruhi pengembangan BK. Berdasarkan model interaksi afektif-kognitif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana disposisi matematis membentuk keterampilan BK siswa, khususnya dalam menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel menggunakan representasi algoritmik yang didukung diagram alir buatan sendiri. Pendekatan kualitatif deskriptif diadopsi, dengan enam siswa (masing-masing dua dari tingkat disposisi tinggi, sedang, dan rendah, yang diidentifikasi melalui kuesioner) berpartisipasi. Pengumpulan data melibatkan skala disposisi, tes BK, wawancara, dan dokumentasi. Temuan mengungkapkan bahwa siswa berdisposisi tinggi berhasil menunjukkan semua indikator BK dan menghasilkan diagram alir yang koheren. Siswa berdisposisi sedang menunjukkan variabilitas: beberapa memenuhi semua kriteria, sementara yang lain goyah dalam desain algoritmik. Siswa berdisposisi rendah hanya berhasil dalam dekomposisi dasar dan pengenalan pola, dengan abstraksi yang tidak lengkap dan diagram alir yang terfragmentasi. Hasil ini menunjukkan hubungan yang kuat antara faktor afektif dan kinerja kognitif dalam tugas-tugas BK. Implikasi menyoroti pentingnya mengintegrasikan scaffolding yang peka terhadap disposisi—seperti alat visual interaktif dan refleksi terbimbing—untuk mendukung beragam pembelajar dan meningkatkan pengembangan BK di kelas matematika.

Penelitian ini menunjukkan bahwa disposisi matematis secara dinamis memengaruhi kemampuan berpikir komputasional siswa.disposisi tinggi mendorong pemikiran sistematis yang mendalam, terutama dengan dukungan visual, sementara disposisi sedang dan rendah sangat diuntungkan oleh scaffolding terstruktur.Untuk meningkatkan berpikir komputasional, strategi praktis mencakup penggunaan diagram alir parsial, protokol think-aloud, dan intervensi growth mindset, yang secara kolektif menjembatani aspek afektif dan kognitif pembelajaran komputasional.Studi selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian eksperimental tentang intervensi scaffolding berbasis diagram alir untuk menetapkan hubungan kausal, serta studi longitudinal dan lintas budaya untuk memahami faktor-faktor yang membentuk pengembangan berpikir komputasional dan disposisi matematis jangka panjang.

Mengingat temuan bahwa penggunaan diagram alir terkadang dapat menambah beban kognitif bagi siswa dengan disposisi matematis rendah, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi efektivitas jenis *scaffolding visual adaptif* yang disesuaikan secara dinamis dengan tingkat kesulitan masalah dan profil kognitif individual siswa. Ini bisa berupa pengembangan sistem yang secara otomatis menyesuaikan kompleksitas diagram alir atau menawarkan representasi visual alternatif, untuk memastikan dukungan yang optimal tanpa membebani pikiran siswa. Selain itu, meskipun scaffolding terbukti membantu, variasi hasil di antara siswa dengan disposisi serupa menunjukkan bahwa faktor lain mungkin berperan. Oleh karena itu, penelitian di masa mendatang perlu mengidentifikasi *karakteristik siswa spesifik* seperti gaya belajar, tingkat pengetahuan sebelumnya, atau kesiapan kognitif—yang memediasi keberhasilan intervensi scaffolding dalam mengembangkan berpikir komputasional. Pemahaman ini akan memungkinkan perancangan strategi pembelajaran yang lebih personal dan efektif, memaksimalkan dampak scaffolding bagi setiap individu. Terakhir, dengan mempertimbangkan bahwa siswa berdisposisi tinggi cenderung sudah mencapai performa optimal, arah penelitian baru dapat menginvestigasi bagaimana keterampilan berpikir komputasional mereka dapat *diperdalam dan diperluas* untuk menangani masalah matematika yang lebih kompleks dan terbuka. Hal ini dapat mencakup studi tentang peran mereka sebagai *mentor sebaya* bagi siswa berdisposisi rendah atau menengah, meneliti bagaimana interaksi kolaboratif dapat mentransfer strategi berpikir komputasional dan disposisi positif secara efektif, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung dan berkelanjutan.

  1. Integration of computational thinking activities in Grade 10 mathematics learning | International Journal... ssbfnet.com/ojs/index.php/ijrbs/article/view/2372Integration of computational thinking activities in Grade 10 mathematics learning International Journal ssbfnet ojs index php ijrbs article view 2372
  2. Comparing the integration of programming and computational thinking into Danish and Swedish elementary... doi.org/10.31129/LUMAT.11.3.1940Comparing the integration of programming and computational thinking into Danish and Swedish elementary doi 10 31129 LUMAT 11 3 1940
  3. 0. pdf obj endobj extgstate font procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents group tabs... doi.org/10.29333/iji.2020.13314a0 pdf obj endobj extgstate font procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents group tabs doi 10 29333 iji 2020 13314a
  4. School and Community Practices of Computational Thinking in Mathematics Education through Diverse Perspectives... jrsmte.com/article/school-and-community-practices-of-computational-thinking-in-mathematics-education-through-diverse-13434School and Community Practices of Computational Thinking in Mathematics Education through Diverse Perspectives jrsmte article school and community practices of computational thinking in mathematics education through diverse 13434
Read online
File size833.14 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test