MAHADEWAMAHADEWA

Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan SainsEmasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains

Pada setiap individu mempunyai kemampuan berfikir yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Peserta didik dapat berpikir kritis dengan keterampilan melalui hasil menganalisis dan membuktikan kebenarannya secara aktif dan efektif. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui level kinerja Expert siswa melalui kemampuan berpikir kritis berdasarkan kemampuan matematika. Terdapat level kinerja (performance) terdiri dari 4 level yang ditetapkan oleh Exemplars. Keempat level tersebut adalah Novice, Apprentice, Practitioner, dan Expert. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan diskriptif. Hasil penelitian ini bahwa level kinerja Expert siswa mempunyai perbedaan level kemampuan berpikir kritis berdasarkan indicator yang tercapai. Siswa yang mempunyai kemampuan tinggi memenuhi semua level kinerja Exper meskipun terdapat satu indikator yang belum tercapai sempurna. Sedangkan pada siswa dengan kemapuan sedang terdapat 2 indikator yang tidak terpenuhi dan siswa yang berkemampuan rendah tidak memenuhi semua indikator namun terdapat indikator yang muncul meskipun tidak keseluruhan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa level kinerja Expert siswa menunjukkan perbedaan level kemampuan berpikir kritis berdasarkan indikator yang tercapai.Siswa dengan kemampuan tinggi memenuhi sebagian besar level kinerja Expert, meskipun terdapat satu indikator yang belum tercapai sempurna.Sementara itu, siswa dengan kemampuan sedang memiliki dua indikator yang belum terpenuhi, dan siswa dengan kemampuan rendah belum memenuhi semua indikator, meskipun terdapat indikator yang muncul secara terbatas.Hasil ini mengindikasikan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kritis perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian selanjutnya dapat menginvestigasi pengaruh metode pembelajaran inovatif, seperti pembelajaran berbasis proyek atau studi kasus, terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada berbagai tingkatan kemampuan. Kedua, perlu dilakukan penelitian komparatif untuk mengidentifikasi perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran yang berbeda, misalnya antara siswa yang belajar secara tradisional dan siswa yang belajar secara daring. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan instrumen penilaian yang lebih komprehensif dan valid untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa secara holistik, dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti kemampuan analisis, evaluasi, dan inferensi.

Read online
File size282.79 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test