UNIRA MALANGUNIRA MALANG

Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu SosialJurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komperasi kurikulum Merdeka dan K13 di MTsN 2 Sidoarjo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode studi kasus. Berdasakan hasil analisis, Kurikulum 2013 dengan kepadatan materi yang tinggi, tidak lagi relevan untuk diterapkan dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, Pendidikan Indonesia memerlukan penyesuaian dalam berbagai aspek agar tetap mencapai tujuan nasional Pendidikan. Sebaliknya, Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya. Hal ini bertujuan agar pembelajaran tidak terburu-buru dalam menyelesaikan materi sehingga peserta didik dapat merasakan kepuasan dalam proses belajar yang bermakna. Salah satu aspek yang menonjol dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pengembangan karakter peserta didik yang terinci dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), hal itu lah yang di adopsi MTsN 2 Sidoarjo.

Secara esensial, Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka memiliki tujuan dasar yang sama dalam Pendidikan Nasional, yakni mengembangkan potensi peserta didik.Namun, Kurikulum 2013 dengan kepadatan materi yang tinggi dianggap kurang relevan pasca pandemi dan fenomena learning loss, sehingga Kurikulum Merdeka hadir dengan fokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi sesuai tahap perkembangan siswa.Implementasi Kurikulum Merdeka di MTsN 2 Sidoarjo menonjolkan pengembangan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang lebih berpusat pada peserta didik.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam pemahaman kita mengenai dampak nyata Kurikulum Merdeka. Pertama, penting untuk mengukur secara lebih spesifik bagaimana Kurikulum Merdeka, dengan fokusnya pada materi esensial dan pembelajaran berdiferensiasi, benar-benar memengaruhi hasil belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu, seperti kemampuan berpikir kritis atau penguasaan konsep, dibandingkan dengan Kurikulum 2013. Hal ini bisa dilakukan melalui studi komparatif kuantitatif yang menguji peningkatan nilai atau keterampilan spesifik siswa di berbagai sekolah yang menerapkan kedua kurikulum tersebut, bukan hanya di satu lokasi studi kasus. Kedua, mengingat tantangan yang dihadapi guru dalam beradaptasi dan menerapkan Kurikulum Merdeka, akan sangat bermanfaat untuk meneliti model pelatihan dan pengembangan profesional yang paling efektif. Studi ini dapat mengidentifikasi jenis dukungan yang paling dibutuhkan guru, apakah itu lokakarya berkelanjutan, pendampingan sebaya, atau platform digital, untuk meningkatkan pemahaman dan inovasi mereka dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka secara optimal, khususnya di lingkungan dengan sumber daya terbatas. Terakhir, dengan adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai ciri khas Kurikulum Merdeka, penelitian bisa difokuskan pada evaluasi jangka panjang terhadap dampak proyek-proyek ini terhadap pembentukan karakter dan keterlibatan sosial siswa di luar lingkungan sekolah, misalnya melalui studi etnografi atau survei longitudinal. Mengetahui apakah proyek seperti pengelolaan sampah benar-benar mengubah perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan wawasan berharga tentang efektivitas P5 sebagai alat pembentuk karakter.

Read online
File size315.45 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test