STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Artikel ini mengkaji paradoks kredensi apostolik dalam periautologi (pujian diri). Paulus di 2 Korintus 11:23-29 melalui analisis retoris-kritis. Dengan latar belakang konvensi pujian-diri dalam tradisi Greco-Romawi, katalog penderitaan Paulus berfungsi bukan sekadar sebagai retorika emosional (pathos), melainkan sebagai inversi deliberatif terhadap norma periautologis, guna melegitimasi kerasulannya. Dengan mengkatalogkan penderitaan alih-alih pencapaian, Paulus mensubversi ekspektasi sosial para lawannya di Korintus dan menetapkan theologia crucis sebagai kriteria definitif otoritas apostolik. Studi ini berargumen bahwa paradoks kredensi Paulus tentang kelemahan justru menjadi dasar legitimasi kerasulannya serta merefleksikan konformitas kristologis yang mendalam. Dalam kerangka ini, penderitaan rasul tidak hanya dipahami sebagai pengalaman personal, melainkan sebagai bentuk partisipasi yang nyata dalam pola kenosis Kristus sekaligus sebagai manifestasi yang memvisibilisasikan pola tersebut. Implikasi teologisnya melampaui dimensi kerasulan individual dan bergerak menuju praksis eklesiologis, yakni suatu redefinisi atas makna kuasa, otoritas, dan pelayanan yang autentik dalam komunitas Kristen.

Kajian ini telah menunjukkan bahwa periautologi Paulus dalam 2 Korintus 11.23–29 merupakan fenomena retoris-teologis yang kompleks, di mana katalog penderitaan berfungsi sebagai inversi deliberatif terhadap konvensi periautologi Greco-Romawi guna melegitimasi otoritas apostolik melalui paradoks kredensi.Analisis retoris-kritis memperlihatkan bahwa Paulus secara strategis mengadopsi bentuk formal pujian diri, tetapi mengisinya dengan konten penderitaan yang secara fundamental mensubversi kriteria evaluasi budaya Greco-Romawi.Paradoks kredensi kelemahan menjadi basis legitimasi bukan sekadar strategi retoris cerdik melainkan berakar pada theologia crucis yang memahami salib sebagai paradigma definitif otoritas apostolik.Secara kristologis, penderitaan apostolik merupakan partisipasi konformatif dalam pola kenosis Kristus.secara eklesiologis, paradoks ini mendefinisikan ulang otoritas dan kepemimpinan dalam komunitas iman sebagai pelayanan yang mengikuti pola kenosis, bukan dominasi.Implikasi teologis dari kajian ini melampaui konteks historis Korintus dan terus relevan sebagai kriteria normatif bagi autentisitas pelayanan Kristen kontemporer.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana konsep theologia crucis yang diungkapkan Paulus dalam 2 Korintus 11:23-29 memengaruhi pemahaman teologis tentang penderitaan dalam tradisi Kristen selanjutnya, khususnya dalam konteks teologi reformasi dan teologi pembebasan. Kedua, penelitian dapat menganalisis secara komparatif bagaimana tokoh-tokoh Kristen lain, seperti Martin Luther dan Dietrich Bonhoeffer, mengartikulasikan konsep penderitaan sebagai bagian integral dari kehidupan iman, dengan mempertimbangkan pengaruh Paulus dalam 2 Korintus. Ketiga, penelitian dapat menyelidiki bagaimana retorika penderitaan yang digunakan Paulus dalam 2 Korintus 11:23-29 dapat diterapkan dalam konteks pastoral modern untuk membantu umat Kristen memahami dan menghadapi penderitaan pribadi atau kolektif, serta untuk memupuk rasa solidaritas dan empati dalam komunitas gereja. Dengan menggabungkan ketiga arah studi ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang relevansi teologis dan praktis dari penderitaan dalam kehidupan Kristen, serta bagaimana penderitaan dapat menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan transformasi spiritual.

Read online
File size390.99 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test