STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Era posmodern menghadirkan tantangan kompleks bagi kepemimpinan Kristiani dalam membangun komunitas yang resilien di tengah fragmentasi sosial dan pluralitas budaya. Penelitian ini menganalisis transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya sebagai strategi membangun ketahanan komunitas. Menggunakan metode analisis literatur dengan pendekatan hermeneutik-fenomenologis, data dikumpulkan melalui studi komprehensif terhadap sumber-sumber teologi, kepemimpinan, dan antropologi budaya. Penelitian menghasilkan model kepemimpinan responsif budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani dengan sensitivitas antarbudaya. Temuan menunjukkan bahwa dialog antarbudaya mentransformasi paradigma kepemimpinan dari pendekatan monokultur menuju inklusivitas yang autentik. Strategi ketahanan komunitas dikembangkan melalui tujuh dimensi: kapasitas adaptif, kohesi sosial, pemberdayaan anggota, resiliensi ekonomi, preservasi budaya, pembentukan jaringan, dan kesiapsiagaan krisis. Kontribusi penelitian adalah kerangka teoretis yang mensinergikan teologi kontekstual dengan kepemimpinan transformatif untuk menghadapi realitas masyarakat multikultural.

Transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya menghasilkan pergeseran paradigma dari model monokultural menjadi pendekatan yang responsif dan inklusif terhadap keberagaman budaya, sambil tetap menjaga landasan spiritual yang kuat.Model yang dikembangkan menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan kini diukur dari kemampuan memfasilitasi persatuan dalam keberagaman serta strategi ketahanan komunitas yang komprehensif.Pendekatan penyelesaian konflik berbasis kasih Kristus melengkapi kerangka holistik yang tidak hanya pragmatis tetapi juga setia pada panggilan dan identitas Kristiani di era pluralitas.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana media digital dapat memperluas dialog antarbudaya dalam konteks kepemimpinan Kristiani, khususnya pada komunitas yang terpisah geografis, sehingga memudahkan pertukaran nilai dan praktik yang inklusif. Selain itu, penting untuk menyelidiki dampak kepemimpinan yang berbasis dialog antarbudaya terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan anggota komunitas, mengingat tekanan sosial di era posmodern yang dapat memicu stres dan isolasi. Selanjutnya, disarankan untuk merancang program pelatihan khusus bagi pemimpin gereja guna meningkatkan kecerdasan budaya, kemudian menguji efektivitas program tersebut dalam memperkuat ketahanan komunitas saat menghadapi krisis, seperti bencana alam atau konflik sosial, sehingga dapat menghasilkan model kepemimpinan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Read online
File size384.19 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test