STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Gereja kontemporer berada dalam fase transisional yang ditandai oleh pergeseran paradigmatik, disrupsi digital, dan krisis kepercayaan institusional. Kondisi ini menuntut rekonstruksi model kepemimpinan Kristen yang mampu berfungsi secara transformatif dalam situasi ambiguitas. Artikel ini mengkonstruksi konsep kapasitas liminal sebagai kerangka kompetensi kepemimpinan yang mengintegrasikan wawasan antropologi ritual Victor Turner dengan teologi biblis tentang pengalaman padang gurun dan eksistensi eskatologis. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka konstruktif-integratif, penelitian ini mengidentifikasi empat dimensi kapasitas liminal: fondasi teologis liminalitas, spiritualitas kenotik-apofatik, phronesis pastoral, dan formasi habitus komunal. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan liminal bukan sekadar strategi adaptif, melainkan ekspresi autentik dari spiritualitas Kristen yang berakar pada tradisi biblis tentang pembentukan umat Allah melalui pengalaman ambang.

Kapasitas liminal adalah kerangka kompetensi kepemimpinan Kristen yang memberikan respons teologis terhadap kondisi transisional gereja kontemporer.Ini bukan hanya teknik manajerial, melainkan ekspresi spiritualitas Kristen yang autentik, berakar pada tradisi biblis, dengan tiga dimensi utama.spiritualitas kenotik-apofatik, phronesis pastoral, dan formasi komunal.Di Indonesia, kerangka ini mengintegrasikan kearifan lokal dengan wawasan teologis universal, membentuk model kepemimpinan yang adaptif dan bermakna dalam menavigasi ambiguitas dan mentransformasi umat.

Penelitian ini membuka jalan bagi studi lanjutan yang mendalam tentang pengembangan kepemimpinan Kristen di tengah perubahan zaman. Pertama, sangat penting untuk melakukan penelitian empiris guna menguji bagaimana kerangka kapasitas liminal yang telah dikonstruksi ini dapat benar-benar diterapkan dan dievaluasi dalam program pelatihan kepemimpinan gereja di Indonesia. Ini akan membantu kita memahami efektivitasnya dalam membekali para pemimpin untuk menghadapi transisi eklesiologis yang ambigu. Kedua, ada kebutuhan untuk menyelidiki secara spesifik metode-metode formasi spiritual dan pendekatan pedagogis yang paling efektif dalam membentuk spiritualitas kenotik-apofatik dan phronesis pastoral. Ini termasuk studi tentang bagaimana pendidikan teologi dan program pengembangan berkelanjutan dapat mengintegrasikan praktik-praktik kontemplatif dan refleksi kasus untuk menumbuhkan kebijaksanaan praktis pada pemimpin gereja. Ketiga, mengingat konteks Indonesia yang unik, menarik untuk dieksplorasi lebih jauh bagaimana nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan dapat secara aktif diintegrasikan. Kita perlu melihat bagaimana nilai-nilai ini bisa memperkuat pembentukan habitus liminal di antara jemaat, sehingga gereja menjadi lebih tangguh, adaptif, dan inovatif. Studi ini diharapkan dapat menghasilkan panduan praktis dan model pengembangan yang relevan bagi gereja-gereja lokal dalam menavigasi masa depan yang tidak pasti, sambil tetap berakar pada spiritualitas Kristen yang mendalam.

Read online
File size414.28 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test