STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Diskursus servant leadership telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui: depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan a-historisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma Governansi Partisipatif-Komunal yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis. 2:42-47; 1Kor. 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal.

Rekonstruksi yang ditawarkan di sini—tata kelola partisipatif-komunal—mengintegrasikan eklesiologi alkitabiah (karunia terdistribusi, komunalisme ekonomi, pembedaan konsiliar) dengan kearifan lokal Indonesia (gotong royong, tepo seliro, musyawarah-mufakat).Bukan ideal utopis melainkan alternatif struktural yang konkret.otoritas terdistribusi, fasilitasi rotasional, pembedaan berbasis konsensus, integrasi keadilan ekonomi.Implementasi memerlukan keberanian untuk mempertanyakan model-model yang diterima dan kreativitas untuk membayangkan gereja secara berbeda.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan studi kasus empiris terhadap gereja-gereja di Indonesia yang telah menerapkan model tata kelola partisipatif-komunal untuk mengidentifikasi praktik terbaik dan tantangan yang dihadapi. Kedua, penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi secara mendalam bagaimana konsep-konsep teologis seperti koinonia dan karismata dapat diintegrasikan ke dalam model tata kelola gereja yang lebih egaliter. Ketiga, pengembangan sumber daya praktis, seperti panduan liturgi, kebijakan, dan kurikulum pelatihan, dapat membantu gereja-gereja dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip tata kelola partisipatif-komunal. Dengan demikian, penelitian lanjutan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya dekolonisasi tata kelola gereja dan mewujudkan gereja yang lebih inklusif, adil, dan berpusat pada komunitas.

Read online
File size430.18 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test